Pagi ini hujan
begitu deras dan itu cukup membuatku kesal. Sudah jelas Andre tak akan
menjeputku pagi ini. Mmm kurasa ini adalah saat yang tepat bagiku untuk kembali
pada teman-temanku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa agak jauh dari
mereka. mungkin karena beberapa hari belakangan aku disibukkan dengan lomba
paski dan padus itu. Semoga saja mereka tidak menganggap aku melakukan semua
itu dengan sengaja. Karena pengorbanan mereka untuk sabar menghadapiku tidak
sia-sia. Untuk lomba paduan suara kami berhasil mendapatkan peringkat pertama,
mempertahankan prestasi SMA Kanaya dari tahun kemarin. Sedangkan Paski walaupun
hanya mendapatkan kedua, kami tetap senang dan bangga karena perjuangan kami
masi diapresiasi oleh tim penilai dan para penonton. Aku jadi ingat euphoria
saat hasil lomba diumumkan.
“Alice! Sarapan
sudah siap. Ayo turun.”, terdengar teriakan Mom dari bawah.
“Iya maa...”
Saat aku sedang
menghabiskan sarapanku, handphoneku berdering.
“Halo?”
“Pagi sweetheart.
Pagi yang cerah yaa...”
“Yaa.. cerah
sekali.”, jawabku malas-malasan. “Nggak masalah kok Ndre. Aku naik bis aja.”,
langsung kataku karena tau maksud ia meneleponku.
“Oke. Hati-hati
yaa... pake payung dan jaket.”
“Iyaa say-...
Ndree.” Aku lupa aku sedang dimeja makan bersama Mom dan Dad. Dan aku tau Dad
melirik ke arahku. “Oke Bye Ndree”. Aku langsung menutup telepon.
“Tidak baik
menerima telepon ketika kita sedang makan. Kau tau itu kan Alice?”, Dad
langsung berkata tepat ketika aku baru memencet tombol End.
“Sorry Dad...”
***
Aku memasuki
gerbang sekolah dengan jaket soft pink dan payung bening. Lumayan dingin pagi
ini, but I love Rain. Dari kejauhan aku bisa melihat Stella. Aku ingin
berteriak memanggilnya tapi terlalu banyak orang disini. Jadi aku hanya
mempercepat langkahku. Stella dalam balutan jaket hitam dan payung kuning
berjalan sambil memeluk diri sendiri dengan langkah yang agak dipercepat. Aku
memegang bahunya dan iapun menoleh.
“hai”, katanya.
“sendirian?”
“iya”, kataku
“tumben, Andre
nggak bisa jeput ya?”, hei... aku tidak suka irama perkataannya. Mungkin karena
iya sedang kedinginan.
“Ya udah, kita
masuk sekarang ya. Dingin kan?”
Kami mempercepat
langkah sampai masuk ke gedung utama. Melepas jaket dan berpisah. Selama
diperjalanan tanpa kusadari aku sudah mulai bermenung. Kenapa Stella bicara
seperti itu? Alasan bahwa ia kedinginan masih tidak masuk akal bagiku. Apa aku
telah melakukan kesalahan ya? Aku mulai me-review
kegiatanku belakangan ini, tapi yang bisa kulihat hanyalah adegan aku sedang
latihan bersama anak-anak paduan suara. “Astaga... apa hanya itu yang
kulakukan?” ucapku lebih pada diri sendiri. Lalu aku mulai berpikir kembali
kapan terakhir kalinya aku berkomunikasi dengan mereka. dan akhirnya aku sadar
bahwa itu sudah sangat lama. Sekitar seminggu yang lalu, karena mulai saat
itulah latihan kami menjadi sangat intensif dari biasanya.
Setelah berhasil
mengutuk diriku sendiri aku memutuskan untuk langsung ke kelas Rachel. Tapi
mataku langsung terpaku pada pasangan asing yang berdiri di depan kelas Stella.
Cewek yang berdiri membelakangiku itu masih menyandang ranselnya yang tertutup
sebagian oleh jaketnya yang digantungkan dibahunya. Hei! Aku kenal jaket itu.
Stella? Apa itu memang Stella? Aku terus berjalan sambil terus memperhatikan
mereka. dan ketika jarak kami sudah cukup dekat, aku rasa aku bisa mengeluarkan
mataku dengan mudah saat ini. Itu memang Stella! Apa yang dia lakukan
bersama...Erik? Hei apa yang terjadi disini? Stella kenapa tersenyum kamu dan
terkesan malu-malu begitu? Sesaat ia melihatku dan matanya langsung membulat
terlihat kaget, tapi kurasa pasti tidak sekaget saat aku melihat mereka. Stella
langsung melemparkan senyuman kaku padaku.
Aku sangat
bingung saat ini, maka dari itu aku langsung berlari menuju kelas rachel untuk
minta penjelasan. Kenapa begitu banyak perubahan hanya dalam waktu seminggu?
Oke, ini tidak banyak. Hanya satu. Tapi kenapa begitu drastis? Sampai di kelas
Rachel aku langsung menghampirinya dan menyeretnya keluar.
“Hai” tukasnya
“hai. Ituu...
ituu... Stella.” Ucapku tak jelas sambil menunjuk-nunjuk ke arah kelasnya. Aku
tak tau harus berkata apa.
“iih.. apaan
sih?”
“itu anak kenapa
bisa bicara ama si Erik?”
Rachel melongokan
kepalanya melewati kepalaku. “ooh... ya gitu deh...”
“lho? Kok gitu
deeh? Jelasin doong?”
“yaa kayanya mereka
udah deket gitu.”
Alisku mengerut.
“sejak kapan?”
“hmm... mungkin 4
hari yang lalu” nada suaranya yang menaik menandakan ia pun tak tau pasti.
“waktu itu kan kita lagi ngumpul berempat, trus si Erik da...”
“ooh...” mendadak
aku tak mau mendengar penjelasan rachel lagi. tak tau kenapa mendadak aku
merasa sedih. “Ntar lagi bel. Aku balik ke kelas dulu ya.” Tanpa menunggu
respon dari Rachel aku langsung membalikkan badan dan berjalan menjauh. Aku
tidak melewati rute yang tadi, aku lebih memilih jalan memutar menuju kelasku.
Aku hanya sedang tidak mau melihat wajah teman-temanku.
***
Saat jam
istirahat aku sudah nangkring di depan kelas nancy yang berada tepat didepan
kelasku. Saat ia keluar dan melihatku, kami sama-sama tersenyum. Langsung saja
kami ke tempat yang lain. Ya, aku sudah bisa mengontrol emosiku. Aku melihat Stella rachel dan Cindy berdiri
di dekat balkon. Kami mulai berbicang-bincang tentang hal-hal gaje seperti
biasanya. Tapi, lama-lama aku mulai tidak mengerti arah pembicaraan mereka. aku
jadi kebanyakan diam. Akhirnya aku membuka handphone ku untuk mencari
kesibukan. Hei ada pesan. Dari Kak Qoy. Pemimpin Paduan Suara yang sekarang
sudah menginjak kelas XII. SMS yang masuk kira-kira sejam yang lalu itu
menanyakan dimana keberadaanku sekarang. Langsung saja aku memecet tombol call
dan mundur sedikit dari perkumpulanku.
“Hallo Alice?”
“ya kak ada apa?”
“Kakak tunggu di
kelas kakak sekarang juga ya Al.”
“sekarang?”
“Yup”
“Ok. Ngapain sih
kak?”
“Udah kesini aja.
Udah yaa. Bye!” kak Qoy langsung menutup Telepon.
Aku berpaling
pada teman-temanku, “Guys, aku ke kelas kak Qoy bentar ya.”
“ngapain?” kata
Cindy
Aku Cuma
mengangkat bahuku menandakan bahwa aku juga tidak tau. Melihat tidak ada reaksi
lain aku langsung berjalan. Tapi kenapa aku merasa mereka masih menatapku?
Bukan tatapan baik kurasa.
***
Sesampainya aku
di rumah, aku membuka Netbook-ku dan mencari Jeanitha d skype, siapa tau dia
sedang online. Tapi nihil. Jadilah aku hanya mengirimkan e-mail padanya.
Subject :
Hai jen? Apa kabar? Kabar baik doong... aku disini
baik-baik aja, and nggak baik-baik aja. Lomba yang aku ikutin bareng Andre
alhamdulillah dapat juara jen. Itu bawa pengaruh baik banget buat aku di
lingkungan sosial aku disini. Tapi kayanya mulai mengganggu hubungan aku sama
teman-teman yang lain.
Apa aku terlalu nyuekin mereka? tapi harusnya mereka
paham dong kalau aku lagi berusaha buat fokus untuk lomba pertama yang aku
ikutin di masa SMA ini. Masa cuma gara-gara itu mereka jadi marah? Tadi aku udh
berusaha mendekatkan diri sama mereka. tapi ntah kenapa rasanya ada yang
janggal dari sikap mereka ke aku. Aku nggak tau harus gimana sama mereka. apa
benar mereka mempermasalahkan itu atau ada hal lain yang aku ketahui?
Cuma dalam seminggu rasanya terlalu banyak perubahan jen.
Stella tau-tau aja udah deket sama Erik. Erik itu anak fotografi sekolah. Dia
nggak terkenal-terkenal amat sih, tapi lumayan cakep. Tapi aku Cuma tau itu,
aku nggak bisa dapat informasi lebih lagi. Aku jadi merasa terasingkan dari
mereka jen.
Aku tau.. inti dari semua ini adalah komunikasi. Aku
bakal coba tapi nggak tau kapan
Love and miss ya Jen
***
Pagi ini aku
dijeput Andre lagi. Mood ku belum juga kembali 100%. Kalu kulihat moodnya Andre
juga tidak begitu baik hari ini. Itu sedikit menolongku, karena tidak akan ada
pertanyaan –pertanyaan yang akan mengusikku. Tapi ini sedikit menggangguku
melihat Andre seperti ini.
Langit pagi ini
sangat biru. Membuatku sedikit tenang memandanginya selama perjalanan menuju
sekolah. Aku mulai berpikir lagi. Apa yang harus aku lakukan jika nanti bertemu
mereka. aku harus segera bicara dengan mereka, atau kalau tidak aku akan
disidang dalam sebuah meja batu bundar dekat kantin. Hal paling kuwanti-wanti
jika itu terjadi adalah sesi tangis-tangisan, walaupun biasanya saat itu
terjadi kami semua akan cuek bebek dengan lingkungan kami.
Pemandangan
langit biruku tiba-tiba dilintasi oleh gapura yang berada di gerbang sekolah
dan ini berarti aku sudah sampai di sekolah. Tiba-tiba saja aku meminta Andre
berhenti disitu. “Ndre, aku berhenti disini.”
“Kenapa?”
Kenapa? Aku juga
nggak tau “Hmm... aku mauu... ah! Ke Perpus. Aku mau cari buku disana. Kamu
duluan aja.” Untung saja aku melihat papan yang menandakan adanya perpustakaan
disekitar sini. “Bye”. Andre kembali melajukan motornya menuju singgasana
motornya di pelataran parkir depan gedung utama.
Dulu waktu SMP
perpustakaan adalah salah satu tempat favoritku untuk menyendiri karena disana
sangat sepi. Memang sih pepustakaan di sini tidak sesepi yang d SMP, tapi ini
kan masi pagi. Siapa sih yang mau ke perpustakaan pagi-pagi begini? Akulah
orangnya.
Begitu memasuki
pintu perpustakaan sang guru perpus mencegatku dan mengetuk-ngetuk sebuah buku
di depannya. Oh? Jadi disini harus pake absen yaa? Aku meraih bolpoin yang
tergeletak disamping buku dan mulai menulis tanggal dan hari hari ini, nama,
kelas, dan tujuan? Tujuan ke perpustakaan ya pasti berhubungan dengan buku lah.
Nggak mungkin aku ke sini mau pesan bakso kan? Aku membolak-balik kertas
tersebut untuk melihat tujuan yang dituliskan pengunjung lain. Ok. Berkunjung.
Simple sekali. Tanda tangan dan selesai.
“saya sudah boleh
masuk kan buk?”
“silakan” tukas
si ibu.
Aku menelusuri
setiap sudut perpustakaan ini untuk menemukan tempat paling nyaman disini. Dan
aku menemukannya berada di dekat pintu balkon, disana terdapat sebuah meja
dengan banyak kursi. Kalau ada banyak orang disana pasti akan sangat
menyebalkan. Tapi saat ini tempat itu kosong. Aku langsung duduk berusaha menyamankan
posisiku. Perpustakaan ini memang terletak di lantai dua. Sedangkan lantai
satunya dipakai sebagai ruangan majelis guru. Tak jarang sebenarnya banyak juga
yang takut ke perpustakaan karena ia harus melewati kantor majelis guru
terlebih dahulu. Dan itu berarti ia harus berpakain yang baik dan benar.
Disini sangat
nyaman aku bisa melihat langit dan pepohonan disini tanpa dihalangi lalu
lalangnya manusia baru gede yang baru nyampe sekolah. Aku merebahkan kepalaku
di atas meja tak beralas itu sambil terus memandang pepohonan yang bergoyang
seirama dihembus sejuknya udara pagi. Namun tetap saja semua itu mengingatkan
ku pada teman-teman.
Apa mereka
menganggap aku telah mencampakkan mereka karena telah memiliki teman baru,
yaitu anak-anak paduan suara dan paskibra. Jadi apakah aku harus selalu
melaporkan apa saja kegiatanku dengan mereka kapan pun dan dimana pun? Apa itu
yang mereka mau? Cuma seminggu apakah mereka tidak bisa bersabar?
Bel sekolah
membuyarkan lamunanku yang belakangan aku ketahui telah membuatku memonyongkan
bibirku beberapa senti kedepan. Aku segera berdiri dari kursi nyamanku,
berjalan menuju pintu, berpamitan dengn ibu perpus sekedarnya dan meraih tasku
di loker penitipan tas.
***
Bel tanda pulang
sudah berbunyi. Aku berusaha menyelip-nyelip ditengah keramaian sepanjang
lorong sampai mataku tertumbuk diujung lorong. Aku melihat Cindy, Stella,Rachel
dan Nancy. Tapi, suasana macam apa itu? Nancy tampak sangar dipenglihatanku,
sedangkan Rachel tak kalah mengerikannya sambil memegang kedua bahu Nancy. Aku
terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Agak sedikit suli karena orang yang
lalu lalang diantara kami. Aku berusaha membaca gerak mulut mereka seteliti
mungkin karena tidak bisa mendenggar apapun dari sini. Tunggu. Apa aku baru
saja melihat Rachel mengucapkan ‘aneh’, atau ‘antre’, atau ‘Andre’?
Aku berjalan
pelan mendekati mereka. tak ingin kedatanganku terlihat terlalu mencolok.
“pokoknya kita
harus segera bilang sama Alice!” bentak Nancy
“Tenang dulu Nan.
Dia baru aja ikut lomba. Kita tunggu dulu beberapa hari gimana?” Cindy mencoba
menyampaikan pendapatnya.
“Dua hari aja
bagi aku udah cukup untuk ngeliat sikap dia. Kemana aja dia dua hari ini?
Ngilang terus. Pasti ke tempat si Andre kan?” balas Nancy lagi
“Tapi hari senin
dia kan dipanggil kak Qoy, kamu liat sendiri nelpon kak Qok kan?”
“iya. Habis itu
dia kemana? Ngga balik kan? Pulang sekolah dia kemana? Cuma gara-gara cowok
bisa-bisanya ya dia ngelupain kita.” Kata nancy semakin lama semakin pelan
suaranya. Ia mengedikkan bahunya berusaha melepaskan tangan Rachel yang dari
tadi masih juga mencengkeram bahunya. Lalu berjalan sendiri menuju tangga
meninggalkan teman-teman lain yang tampak kebingungan setengah mati.
Aku yang
memperhatikan kepergian nancy merasakan adanya tatapan yang diarahkan
terhadapku. Aku menoleh pada arahnya tatapan itu dan mendapati Stella sedang
menyenggol yang lain agar melihatku. Aku langsung mendekati mereka tapi tak
mengatakan satu patah katapun.
“nancy marah”
kata Rachel memberitahuku. Aku hanya mengangguk sambil menundukkan kepala.
“Katanya kamu
jadi sering ninggalin kami sejak kamu sama Andre” sejak aku sama Andre. Bukan
sejak aku sibuk mempersiapkan lomba. aku mengangguk sekali lagi.
“Kalau kami
bertiga...” kali ini Cindy yang bicara,”...lumayan bisa ngerti. Tapi Nancy
kayanya udah emosi banget.”
“Kamu harus
bicara sama Nancy, Al.” Aku menegakkan kepalaku melihat mereka. tapi agak sulit
kali ini bagiku untuk mengangguk. Tapi aku tau, saat ini semua kesalahan
memang karena perbuatanku. Akhirnya aku
mengangguk.
“Oke. Sekarang
kita pulang yaa.” Tukas rachel. “Bareng Andre?” aku tau pertanyaan ditujukan
kepadaku.
“mungkin nggak,
tapi aku mau naik Bis aja”
Rachel hanya
mengangguk. Aku membalikkan badan dan kemudian terhenti karena aku ingin
mengucapkan “Terima Kasih ya”. Mereka tersenyum hangat padaku. Sedikit membantu
disaat hatiku sedikit kacau saat ini.
***
Aku memainkan
tali tas yang berada dipangkuanku sambil berpikir apa yang harus kukatakan pada
nancy. Tidak mungkin aku memintanya memberikan pertanyaan-pertanyaan padaku
kan. Bisa-bisa dia menyangka aku orang tak tau diri. Tidak bisa menyadari
kesalahan sendiri. Aku tau kesalahanku
dimana. Aku Cuma tidak tau harus memulainya dari mana.
Sesaat aku
tertegun melihat keramaian di samping kiri bis yang kunaiki. Lalu aku mendengar
orang disebelahku berbisik dengan temannya dan tidak sengaja kudengar bahwa itu
adalah kecelakaan motor. Dasar anak sekarang kenapa mesti ngebut nggak jelas
gitu sih. Andre nggak mungkin kaya gitu lah. Meski pernah sekali ia nyaris menabrakku
dulu di depan gerbang. Tapi setelah itu aku tidak pernah mendengar kabar lain
tentang perangainya saat membawa motor.
Saat itulah aku
melihat helm GM putih yang tergeletak di jalanan. Itu helm Andre? Nggak
mungkin. Bukan Cuma dia yang punya helm kayak gitu. Aku berusaha mengusir
pikiran burukku saat handphoneku berdering. Andre. Benarkan? Itu bukan dia.
“hallo?”
“Hallo selamat
siang neng.” Bukan suara Andre.