Senin, 28 April 2014

PART 9

Pagi ini hujan begitu deras dan itu cukup membuatku kesal. Sudah jelas Andre tak akan menjeputku pagi ini. Mmm kurasa ini adalah saat yang tepat bagiku untuk kembali pada teman-temanku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa agak jauh dari mereka. mungkin karena beberapa hari belakangan aku disibukkan dengan lomba paski dan padus itu. Semoga saja mereka tidak menganggap aku melakukan semua itu dengan sengaja. Karena pengorbanan mereka untuk sabar menghadapiku tidak sia-sia. Untuk lomba paduan suara kami berhasil mendapatkan peringkat pertama, mempertahankan prestasi SMA Kanaya dari tahun kemarin. Sedangkan Paski walaupun hanya mendapatkan kedua, kami tetap senang dan bangga karena perjuangan kami masi diapresiasi oleh tim penilai dan para penonton. Aku jadi ingat euphoria saat hasil lomba diumumkan.
“Alice! Sarapan sudah siap. Ayo turun.”, terdengar teriakan Mom dari bawah.
“Iya maa...”
Saat aku sedang menghabiskan sarapanku, handphoneku berdering.
“Halo?”
“Pagi sweetheart. Pagi yang cerah yaa...”
“Yaa.. cerah sekali.”, jawabku malas-malasan. “Nggak masalah kok Ndre. Aku naik bis aja.”, langsung kataku karena tau maksud ia meneleponku.
“Oke. Hati-hati yaa... pake payung dan jaket.”
“Iyaa say-... Ndree.” Aku lupa aku sedang dimeja makan bersama Mom dan Dad. Dan aku tau Dad melirik ke arahku. “Oke Bye Ndree”. Aku langsung menutup telepon.
“Tidak baik menerima telepon ketika kita sedang makan. Kau tau itu kan Alice?”, Dad langsung berkata tepat ketika aku baru memencet tombol End.
“Sorry Dad...”

***

Aku memasuki gerbang sekolah dengan jaket soft pink dan payung bening. Lumayan dingin pagi ini, but I love Rain. Dari kejauhan aku bisa melihat Stella. Aku ingin berteriak memanggilnya tapi terlalu banyak orang disini. Jadi aku hanya mempercepat langkahku. Stella dalam balutan jaket hitam dan payung kuning berjalan sambil memeluk diri sendiri dengan langkah yang agak dipercepat. Aku memegang bahunya dan iapun menoleh.
“hai”, katanya. “sendirian?”
“iya”, kataku
“tumben, Andre nggak bisa jeput ya?”, hei... aku tidak suka irama perkataannya. Mungkin karena iya sedang kedinginan.
“Ya udah, kita masuk sekarang ya. Dingin kan?”
Kami mempercepat langkah sampai masuk ke gedung utama. Melepas jaket dan berpisah. Selama diperjalanan tanpa kusadari aku sudah mulai bermenung. Kenapa Stella bicara seperti itu? Alasan bahwa ia kedinginan masih tidak masuk akal bagiku. Apa aku telah melakukan kesalahan ya? Aku mulai me-review kegiatanku belakangan ini, tapi yang bisa kulihat hanyalah adegan aku sedang latihan bersama anak-anak paduan suara. “Astaga... apa hanya itu yang kulakukan?” ucapku lebih pada diri sendiri. Lalu aku mulai berpikir kembali kapan terakhir kalinya aku berkomunikasi dengan mereka. dan akhirnya aku sadar bahwa itu sudah sangat lama. Sekitar seminggu yang lalu, karena mulai saat itulah latihan kami menjadi sangat intensif dari biasanya.
Setelah berhasil mengutuk diriku sendiri aku memutuskan untuk langsung ke kelas Rachel. Tapi mataku langsung terpaku pada pasangan asing yang berdiri di depan kelas Stella. Cewek yang berdiri membelakangiku itu masih menyandang ranselnya yang tertutup sebagian oleh jaketnya yang digantungkan dibahunya. Hei! Aku kenal jaket itu. Stella? Apa itu memang Stella? Aku terus berjalan sambil terus memperhatikan mereka. dan ketika jarak kami sudah cukup dekat, aku rasa aku bisa mengeluarkan mataku dengan mudah saat ini. Itu memang Stella! Apa yang dia lakukan bersama...Erik? Hei apa yang terjadi disini? Stella kenapa tersenyum kamu dan terkesan malu-malu begitu? Sesaat ia melihatku dan matanya langsung membulat terlihat kaget, tapi kurasa pasti tidak sekaget saat aku melihat mereka. Stella langsung melemparkan senyuman kaku padaku.
Aku sangat bingung saat ini, maka dari itu aku langsung berlari menuju kelas rachel untuk minta penjelasan. Kenapa begitu banyak perubahan hanya dalam waktu seminggu? Oke, ini tidak banyak. Hanya satu. Tapi kenapa begitu drastis? Sampai di kelas Rachel aku langsung menghampirinya dan menyeretnya keluar.
“Hai” tukasnya
“hai. Ituu... ituu... Stella.” Ucapku tak jelas sambil menunjuk-nunjuk ke arah kelasnya. Aku tak tau harus berkata apa.
“iih.. apaan sih?”
“itu anak kenapa bisa bicara ama si Erik?”
Rachel melongokan kepalanya melewati kepalaku. “ooh... ya gitu deh...”
“lho? Kok gitu deeh? Jelasin doong?”
“yaa kayanya mereka udah deket gitu.”
Alisku mengerut. “sejak kapan?”
“hmm... mungkin 4 hari yang lalu” nada suaranya yang menaik menandakan ia pun tak tau pasti. “waktu itu kan kita lagi ngumpul berempat, trus si Erik da...”
“ooh...” mendadak aku tak mau mendengar penjelasan rachel lagi. tak tau kenapa mendadak aku merasa sedih. “Ntar lagi bel. Aku balik ke kelas dulu ya.” Tanpa menunggu respon dari Rachel aku langsung membalikkan badan dan berjalan menjauh. Aku tidak melewati rute yang tadi, aku lebih memilih jalan memutar menuju kelasku. Aku hanya sedang tidak mau melihat wajah teman-temanku.

***

Saat jam istirahat aku sudah nangkring di depan kelas nancy yang berada tepat didepan kelasku. Saat ia keluar dan melihatku, kami sama-sama tersenyum. Langsung saja kami ke tempat yang lain. Ya, aku sudah bisa mengontrol emosiku.  Aku melihat Stella rachel dan Cindy berdiri di dekat balkon. Kami mulai berbicang-bincang tentang hal-hal gaje seperti biasanya. Tapi, lama-lama aku mulai tidak mengerti arah pembicaraan mereka. aku jadi kebanyakan diam. Akhirnya aku membuka handphone ku untuk mencari kesibukan. Hei ada pesan. Dari Kak Qoy. Pemimpin Paduan Suara yang sekarang sudah menginjak kelas XII. SMS yang masuk kira-kira sejam yang lalu itu menanyakan dimana keberadaanku sekarang. Langsung saja aku memecet tombol call dan mundur sedikit dari perkumpulanku.
“Hallo Alice?”
“ya kak ada apa?”
“Kakak tunggu di kelas kakak sekarang juga ya Al.”
“sekarang?”
“Yup”
“Ok. Ngapain sih kak?”
“Udah kesini aja. Udah yaa. Bye!” kak Qoy langsung menutup Telepon.
Aku berpaling pada teman-temanku, “Guys, aku ke kelas kak Qoy bentar ya.”
“ngapain?” kata Cindy
Aku Cuma mengangkat bahuku menandakan bahwa aku juga tidak tau. Melihat tidak ada reaksi lain aku langsung berjalan. Tapi kenapa aku merasa mereka masih menatapku? Bukan tatapan baik kurasa.

***

Sesampainya aku di rumah, aku membuka Netbook-ku dan mencari Jeanitha d skype, siapa tau dia sedang online. Tapi nihil. Jadilah aku hanya mengirimkan e-mail padanya.
To                    : agrjeanitha@gmail.com
Subject           :

Hai jen? Apa kabar? Kabar baik doong... aku disini baik-baik aja, and nggak baik-baik aja. Lomba yang aku ikutin bareng Andre alhamdulillah dapat juara jen. Itu bawa pengaruh baik banget buat aku di lingkungan sosial aku disini. Tapi kayanya mulai mengganggu hubungan aku sama teman-teman yang lain.
Apa aku terlalu nyuekin mereka? tapi harusnya mereka paham dong kalau aku lagi berusaha buat fokus untuk lomba pertama yang aku ikutin di masa SMA ini. Masa cuma gara-gara itu mereka jadi marah? Tadi aku udh berusaha mendekatkan diri sama mereka. tapi ntah kenapa rasanya ada yang janggal dari sikap mereka ke aku. Aku nggak tau harus gimana sama mereka. apa benar mereka mempermasalahkan itu atau ada hal lain yang aku ketahui?
Cuma dalam seminggu rasanya terlalu banyak perubahan jen. Stella tau-tau aja udah deket sama Erik. Erik itu anak fotografi sekolah. Dia nggak terkenal-terkenal amat sih, tapi lumayan cakep. Tapi aku Cuma tau itu, aku nggak bisa dapat informasi lebih lagi. Aku jadi merasa terasingkan dari mereka jen.
Aku tau.. inti dari semua ini adalah komunikasi. Aku bakal coba tapi nggak tau kapan

Love and miss ya Jen

***

Pagi ini aku dijeput Andre lagi. Mood ku belum juga kembali 100%. Kalu kulihat moodnya Andre juga tidak begitu baik hari ini. Itu sedikit menolongku, karena tidak akan ada pertanyaan –pertanyaan yang akan mengusikku. Tapi ini sedikit menggangguku melihat Andre seperti ini.
Langit pagi ini sangat biru. Membuatku sedikit tenang memandanginya selama perjalanan menuju sekolah. Aku mulai berpikir lagi. Apa yang harus aku lakukan jika nanti bertemu mereka. aku harus segera bicara dengan mereka, atau kalau tidak aku akan disidang dalam sebuah meja batu bundar dekat kantin. Hal paling kuwanti-wanti jika itu terjadi adalah sesi tangis-tangisan, walaupun biasanya saat itu terjadi kami semua akan cuek bebek dengan lingkungan kami.
Pemandangan langit biruku tiba-tiba dilintasi oleh gapura yang berada di gerbang sekolah dan ini berarti aku sudah sampai di sekolah. Tiba-tiba saja aku meminta Andre berhenti disitu. “Ndre, aku berhenti disini.”
“Kenapa?”
Kenapa? Aku juga nggak tau “Hmm... aku mauu... ah! Ke Perpus. Aku mau cari buku disana. Kamu duluan aja.” Untung saja aku melihat papan yang menandakan adanya perpustakaan disekitar sini. “Bye”. Andre kembali melajukan motornya menuju singgasana motornya di pelataran parkir depan gedung utama.
Dulu waktu SMP perpustakaan adalah salah satu tempat favoritku untuk menyendiri karena disana sangat sepi. Memang sih pepustakaan di sini tidak sesepi yang d SMP, tapi ini kan masi pagi. Siapa sih yang mau ke perpustakaan pagi-pagi begini? Akulah orangnya.
Begitu memasuki pintu perpustakaan sang guru perpus mencegatku dan mengetuk-ngetuk sebuah buku di depannya. Oh? Jadi disini harus pake absen yaa? Aku meraih bolpoin yang tergeletak disamping buku dan mulai menulis tanggal dan hari hari ini, nama, kelas, dan tujuan? Tujuan ke perpustakaan ya pasti berhubungan dengan buku lah. Nggak mungkin aku ke sini mau pesan bakso kan? Aku membolak-balik kertas tersebut untuk melihat tujuan yang dituliskan pengunjung lain. Ok. Berkunjung. Simple sekali. Tanda tangan dan selesai.
“saya sudah boleh masuk kan buk?”
“silakan” tukas si ibu.
Aku menelusuri setiap sudut perpustakaan ini untuk menemukan tempat paling nyaman disini. Dan aku menemukannya berada di dekat pintu balkon, disana terdapat sebuah meja dengan banyak kursi. Kalau ada banyak orang disana pasti akan sangat menyebalkan. Tapi saat ini tempat itu kosong. Aku langsung duduk berusaha menyamankan posisiku. Perpustakaan ini memang terletak di lantai dua. Sedangkan lantai satunya dipakai sebagai ruangan majelis guru. Tak jarang sebenarnya banyak juga yang takut ke perpustakaan karena ia harus melewati kantor majelis guru terlebih dahulu. Dan itu berarti ia harus berpakain yang baik dan benar.
Disini sangat nyaman aku bisa melihat langit dan pepohonan disini tanpa dihalangi lalu lalangnya manusia baru gede yang baru nyampe sekolah. Aku merebahkan kepalaku di atas meja tak beralas itu sambil terus memandang pepohonan yang bergoyang seirama dihembus sejuknya udara pagi. Namun tetap saja semua itu mengingatkan ku pada teman-teman.
Apa mereka menganggap aku telah mencampakkan mereka karena telah memiliki teman baru, yaitu anak-anak paduan suara dan paskibra. Jadi apakah aku harus selalu melaporkan apa saja kegiatanku dengan mereka kapan pun dan dimana pun? Apa itu yang mereka mau? Cuma seminggu apakah mereka tidak bisa bersabar?
Bel sekolah membuyarkan lamunanku yang belakangan aku ketahui telah membuatku memonyongkan bibirku beberapa senti kedepan. Aku segera berdiri dari kursi nyamanku, berjalan menuju pintu, berpamitan dengn ibu perpus sekedarnya dan meraih tasku di loker penitipan tas.

***

Bel tanda pulang sudah berbunyi. Aku berusaha menyelip-nyelip ditengah keramaian sepanjang lorong sampai mataku tertumbuk diujung lorong. Aku melihat Cindy, Stella,Rachel dan Nancy. Tapi, suasana macam apa itu? Nancy tampak sangar dipenglihatanku, sedangkan Rachel tak kalah mengerikannya sambil memegang kedua bahu Nancy. Aku terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Agak sedikit suli karena orang yang lalu lalang diantara kami. Aku berusaha membaca gerak mulut mereka seteliti mungkin karena tidak bisa mendenggar apapun dari sini. Tunggu. Apa aku baru saja melihat Rachel mengucapkan ‘aneh’, atau ‘antre’, atau ‘Andre’?
Aku berjalan pelan mendekati mereka. tak ingin kedatanganku terlihat terlalu mencolok.
“pokoknya kita harus segera bilang sama Alice!” bentak Nancy
“Tenang dulu Nan. Dia baru aja ikut lomba. Kita tunggu dulu beberapa hari gimana?” Cindy mencoba menyampaikan pendapatnya.
“Dua hari aja bagi aku udah cukup untuk ngeliat sikap dia. Kemana aja dia dua hari ini? Ngilang terus. Pasti ke tempat si Andre kan?” balas Nancy lagi
“Tapi hari senin dia kan dipanggil kak Qoy, kamu liat sendiri nelpon kak Qok kan?”
“iya. Habis itu dia kemana? Ngga balik kan? Pulang sekolah dia kemana? Cuma gara-gara cowok bisa-bisanya ya dia ngelupain kita.” Kata nancy semakin lama semakin pelan suaranya. Ia mengedikkan bahunya berusaha melepaskan tangan Rachel yang dari tadi masih juga mencengkeram bahunya. Lalu berjalan sendiri menuju tangga meninggalkan teman-teman lain yang tampak kebingungan setengah mati.
Aku yang memperhatikan kepergian nancy merasakan adanya tatapan yang diarahkan terhadapku. Aku menoleh pada arahnya tatapan itu dan mendapati Stella sedang menyenggol yang lain agar melihatku. Aku langsung mendekati mereka tapi tak mengatakan satu patah katapun.
“nancy marah” kata Rachel memberitahuku. Aku hanya mengangguk sambil menundukkan kepala.
“Katanya kamu jadi sering ninggalin kami sejak kamu sama Andre” sejak aku sama Andre. Bukan sejak aku sibuk mempersiapkan lomba. aku mengangguk sekali lagi.
“Kalau kami bertiga...” kali ini Cindy yang bicara,”...lumayan bisa ngerti. Tapi Nancy kayanya udah emosi banget.”
“Kamu harus bicara sama Nancy, Al.” Aku menegakkan kepalaku melihat mereka. tapi agak sulit kali ini bagiku untuk mengangguk. Tapi aku tau, saat ini semua kesalahan memang  karena perbuatanku. Akhirnya aku mengangguk.
“Oke. Sekarang kita pulang yaa.” Tukas rachel. “Bareng Andre?” aku tau pertanyaan ditujukan kepadaku.
“mungkin nggak, tapi aku mau naik Bis aja”
Rachel hanya mengangguk. Aku membalikkan badan dan kemudian terhenti karena aku ingin mengucapkan “Terima Kasih ya”. Mereka tersenyum hangat padaku. Sedikit membantu disaat hatiku sedikit kacau saat ini.

***

Aku memainkan tali tas yang berada dipangkuanku sambil berpikir apa yang harus kukatakan pada nancy. Tidak mungkin aku memintanya memberikan pertanyaan-pertanyaan padaku kan. Bisa-bisa dia menyangka aku orang tak tau diri. Tidak bisa menyadari kesalahan sendiri. Aku  tau kesalahanku dimana. Aku Cuma tidak tau harus memulainya dari mana.
Sesaat aku tertegun melihat keramaian di samping kiri bis yang kunaiki. Lalu aku mendengar orang disebelahku berbisik dengan temannya dan tidak sengaja kudengar bahwa itu adalah kecelakaan motor. Dasar anak sekarang kenapa mesti ngebut nggak jelas gitu sih. Andre nggak mungkin kaya gitu lah. Meski pernah sekali ia nyaris menabrakku dulu di depan gerbang. Tapi setelah itu aku tidak pernah mendengar kabar lain tentang perangainya saat membawa motor.
Saat itulah aku melihat helm GM putih yang tergeletak di jalanan. Itu helm Andre? Nggak mungkin. Bukan Cuma dia yang punya helm kayak gitu. Aku berusaha mengusir pikiran burukku saat handphoneku berdering. Andre. Benarkan? Itu bukan dia.
“hallo?”

“Hallo selamat siang neng.” Bukan suara Andre. 

PART 8

Aku terbangun di pagi hari dan langsung disapa oleh sebuah kotak hitam seukuran setengah kotak sepatu yang tergeletak di atas meja belajarku. Aku belum menyentuh isi dalam dari kotak hitam itu semenjak Andre memberikannya kepadaku. Sebenarnya aku penasaran apa isi dalam dari kotak itu. Tapi karena terlalu lelah karena terlalu banyak kejadian menarik dari kemarin membuatku langsung tertidur begitu menyentuhkan kepalaku ke bantal.
Setelah Andre memberikan ucapan selamatnya untukku kemarin, aku langsung dihujani oleh uluran tangan selamat ulang tahun dari teman-teman Andre. Itu membuatku sedikit terkejut karena aku – atau lebih tepatnya mereka- tidak begitu mengenalku. Dan kurasa mereka hanya memberikan ucapan selamat karena aku pacar Andre. Aku tidak tau apakah aku harus senang atau sedih dengan fakta yang satu itu.
Setelah berhasil menyalami semua teman-teman itu, aku langsung menuju ke halaman sekolah tempat Nancy sedang berdiri. Aku berlari-lari kecil ke tampatnya sambil senyum-senyum malu karena aku yakin Nancy dan sahabatku yang lain pasti melihat kejadian tadi. Namun, baru saja aku sampai di depannya ia langsung menggenggam tanganku dan menyeretku menuju sebuah kelas. Saat itu juga aku melihat Rachel, Cindy dan Stella yang berdiri agak jauh dari kami bergerak serentak menuju kelas tempat Nancy dan aku berada. Mereka memasuki kelas itu sambil tertawa-tawa kecil. Ini membuatku semakin bingung
“Ciee...!!!” mereka meneriakiku. Oh, sekarang aku tau, ini masih lanjutan dari kejadian di lapangan tadi. Yah, apa boleh buat, aku tidak bisa melawan dan hanya bisa tersenyum. Setelah itu mereka memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadaku secara bergantian disertai pelukan hangat. Aku sudah cukup senang dengan hal ini, tapi ternyata masih ada kejutan lain. Nancy mengeluarkan sebuah kotak dari sebuah tas tangan yang di bawanya sejak tadi. Ia mengulurkan kotak seukuran netbook yang terbungkus oleh kertas kado kartun dengan warna dominan pink itu kepadaku. Aku benar-benar terkejut, awalnya aku hanya diam sambil memandang kotak itu. Sesaat kemudian aku menengadahkan wajahku kepadanya.
“Makasih ya Nan...” kataku terharu
“Eeeh.. ambil dulu kadonya baru bilang makasih” katanyanya dengan nada bercanda. Aku meletakkan kado dari Andre yang masih ku peluk ke meja terdekat dari tempatku, kemudian menerima kado Nancy.
“Sama-sama” katanya langsung

***

Mungkin ini saatnya membuka kado. Perlahan tapi pasti aku berjalan menuju meja belajarku dan mengambil kado Andre. Kemudian aku duduk di kursi belajarku. Itu hanya sebuah kotak hitam polos tanpa bungkusan dari kertas kado lucu. Aku hanya perlu menarik tutup atasnya untuk mengetahui apa isi kari kotak tersebut. Aku menarik penutupnya dan aku mendapati diriku tersenyum melihat hadiah dari Andre. Sebuah kotak musik persegi panjang berwarna biru muda dihiasi bunga-bunga pink dengan tema carnaval, karena disana ada semacam bianglala di sebelah kanan dan dan 2 boneka penari yang berdiri di atas kaca di bagian sebelah kirinya. Aku memutar bianglala ke arah kanan sebanyak 3 kali dan mengalunlah sebuah lagu klasik yang umum digunakan untuk lagu pada kotak musik. Hei! Kedua penari itu menari berdua sambil berputar-putar di atas kaca itu. Sungguh hadiah yang manis.
Masih sambil mendengarkan alunan nada harmoni dari kotak musik Andre, aku menggapai hadiah dari Nancy. Aku menggoyang-goyangkan kotak itu sejenak berharap bisa menebak apa isinya. Tapi sayangnya aku gagal. Aku tak tau isinya. Perlahan-lahan aku membuka selotip yang menempel pada kertas pembungkus berusaha agar tidak merusaknya. Tapi aku terlalu tidak sabar hingga akhirnya aku merobeknya. Di dalamnya aku mendapati sebuah kotak karton polos. Lalu aku membukanya, lagi-lagi aku mendapati diriku tersenyum. Kali ini karena sebuah bingkai foto cantik berwarna pink ada di dalamnya. Aku mencoba menegakkannya di atas meja belajarku. Yup! Sangat cocok diletakkan dimejaku. Aku harus memasang sebuah foto, foto yang istimewa di dalam bingkai istimewa.
Benar-benar hari yang sempurna. Perubahan yang kuharapkan terjadi tahun ini benar-benar terjadi, malah sampai melebihi harapanku.  2 kado yang ku terima tahun ini, oh, tidak. 3, 3 kado yang kuterima tahun ini akan selalu menjadi kado teristimewa bagiku. Kado ke-3? Itu adalah kado dari Rachel. Seusai acara penyerahan kado dari Nancy kami pulang., tetapi Rachel menahanku dan kemudian meminta maaf padaku. Dia mengatakan bahwa sebenarnya dia sudah berencana umtuk memberikanku kado, tapi dia kesulitan dalam memilih kado yang tepat. Dan sayangnya dia tidak mendapatkannya sampai saat ini. Oleh karena itu untuk menebus kelalaiannya –katanya- di memaksaku ikut makan bakso dengannya. Aku sudah berusaha untuk mengatakan kepadanya bahwa itu bukan masalah besar jika dia tidak memberikan kado untukku. Tetapi dia tetap memaksa. Jadi aku menyerah. Sekarang kado dari Rachel sudah ada dalam saluran pencernaanku. Hihihi...

***

Sepertinya pelajaran sejarah akan selalu menjadi hal yang paling membosankan di dunia ini. Memang sih, jika tidak ada sejarah belum tentu aku ada disini bersama teman-temanku dan dalam keadaan yang seperti ini. Tapi, kenapa kita harus selalu mengingat dan mengenang masa lalu? Masa lalu adalah hal yang paling jauh yang pernah dimiliki seluruh manusia di muka bumi ini. Bahkan hewan dan tumbuhan mungkin juga memilikinya, sejarah yang membuat kenapa tidak ada Brontosaurus ataupun Tirex lagi di dunia ini. Atau kenapa sekarang ada tumbuhan bougenfil berwarna orange. Sejarahlah yang membuat semua itu nyata. Dan... pelajaran sejarah ini telah mengingatkanku pada satu kejadian yang akan selalu menjadi sejarah terbaik dalam hal percintaanku.
Bel berbunyi tanda jam pelajaran sudah usai. Aku langsung menuju kantin sekolah karena aku membuat janji dengan teman-temanku hari ini. Tidak ada pembicaraan khusus, tapi ini memang kebiasaan kami menghabiskan waktu di kantin sekolah saat jam sekolah usai sampai cahaya matahari mengurangi intensitas panasnya, dan bersiap-siap untuk mengucapkan sampai jumpa pada kota kami dan kemudian digantikan tugasnya oleh bulan. Mungkin aku sedikit terlambat dari yang lain karena aku melihat Cindy, Rachel, dan Stella disana. Aku langsung duduk di sebelah Rachel. Kami baru melakukan obrolan ringan kami tentang tingkah aneh yang dilakukan guru-guru kami tadi kelas ketika Andre datang ke meja kami. Seketika itu juga perhatianku langsung teralihkan. Andre tersenyum, seperti yang kuharapkan.
“Aku boleh pinjam Alice sebentar?”
Rachel mengedikkan sebelah bahunya sebagai jawaban ‘Tidak masalah’. Mendengar jawaban dari rachel aku langsung menoleh kepada Cindy dan stella, apa tidak masalah jika aku meninggalkan mereka. Cindy tersenyum kepadaku yang kuanggap sebagai jawaban ya. Tapi, stella Cuma diam. Aku mengangkat alis kepada Stella sebagai tanda menuntut jawaban.
“Jangan lama-lama ya...” Kata Stella akhirnya. Aku mengangguk sebagai tanda aku berjanji. Lalu aku berdiri dan kemudian berjalan mengikuti Andre yang sudah lebih dulu berjalan di depanku.
“Kenapa?” tanyaku ketika kami sudah duduk .
“Langsung aja nih?”
“Ya” jawabku cepat
“Oke, mulai dari mana ya?” ia tampak berfikir sejenak sebelum melanjutkan. “Kamu tau kan 2 minggu lagi aku bakal mengikuti lomba?”
Aku mengangguk
“Kami butuh kelompok paduan suara untuk itu.”
“Jadi?” tidak mengerti
“Kamu kan kan bisa nyanyi.”
“Hah?Jadi?” tanyaku semakin tidak mengerti. Dari mana dia tau tentang suaraku? Aku bukannya mengatakan aku memiliki suara seindah suara malaikat di bagi dua. Tapi suaraku masih cukup lumayan untuk didengar.
Ia menepuk dahinya. “Kamu mau kan jadi anggota paduan suara untuk lomba 2 minggu lagi? Mereka bilang mereka kekurangan anggota. Jadi aku memberikan saran kepada mereka untuk merekrut kamu sebagai salah satu anggota, dan mereka setuju.
What?!? Apa dia sudah gila? Aku bergabung dengan kelompok paduan suara?
“Err... aku rasa itu bukan ide yang bagus Ndre.” Kataku sedikit ragu
“Kenapa?”
Aku rasa aku tidak berani mengatakan jawabannya.
“Minder?” tanya Andre kemudian, dan Tepat!
Aku mengangguk.
“Kenapa harus minder?”
“Ntah lah, aku rasa aku bukanlah orang yang pantas untuk melakukannya. Kamu tau betul apa maksudku. Mereka dari kalanganmu dalam tanda kutip” kataku sambil menaikkan jari telunjuk dan tengah kedua tanganku, dan membentuk seperti tanda kutip di sebelah pelipisku. “Kurasa mereka tidak mengenalku.”
“Hei Alice, berfikirlah! Kalau mereka tidak mengenalmu, kenapa mereka setuju saat aku mengajukan namamu?”
Otakku berputar cepat memikirkan fakta yang barusan diucapkan oleh Andre.
“Kamu harus mencobanya, Al. Segala sesuatu jika akan terjadi, pasti akan terjadi. Ini semua hanya masalah waktu. Saat ini aku hanya membantu hal itu terjadi lebih cepat. Maafkan aku, tapi, kau harus mencoba untuk bersosialisasi dengan orang lain juga Alice.”
Yang dikatakan Andre tadi benar, sangat benar. Apakah aku harus mencobanya?
“Baiklah” kataku, membuat aku terkejut sendiri atas jawabanku.
“Bagus. Latihannya dimulai lusa pulang sekolah.”, kata Andre Lugas.
“Lusa?”
“iya. Kenapa? Kamu ada janji?”
“Mmm... mungkin bisa aku tunda dulu.” Kataku mengingat bahwa aku punya janji untuk pergi ke sakura bersama teman-teman.

***

“Maaf yaa...” kataku sambil menggamit kedua tanganku didepan dada.
“Hmm, padahal aku mau cerita sesuatu sama kalian semua.”, kata Nancy murung.
“kamu cerita aja sama yang lain, nanti malam aku telepon deh.”, janjiku. Aku berharap mereka tak akan marah. Please God, tolong hamba-Mu ini.
“Oke deh”, kata Nancy masih murung
“Oke kok masih cemberut gitu?”, kataku sedikit menggoda. “Stella Rachel Cindy. Ngga papa kan?”. Mereka mengangguk. Fiiuuh!
“Ngga papa kok Al”, akhirnya Nancy menjawab dengan senyum. “kami langsung cabut ya.”
“Oke”, kataku. Langsung melambaikan tangan. Mereka pun langsung membalas lambaianku.
Well, janji udah di cancel. Sekarang apa? Latihan? Paduan suara?
“Siap latihan kan?”, Suara itu terdengar dekat tepat disebelah telingaku, membuatku sedikit terlonjak.
“Huuh... harus ya bikin kaget gitu?”
“Oh? Kaget yaa? Maaf ya sayaaang...”, katanya sambil mengacak-acak rambutku.
“Iiih... jangaaan...”, gerutuku sambil membenarkan bentuk rambutku.
Langsung Andre menarik tanganku dan menyeretku menuju lapangan. Membawaku langsung ke tengah kerumunan anak-anak paduan suara.
“Ok, jadi ini dia anggota baru kita”, kata Andre di tengah kerumunan dengan suara agak menggelegar, membuatku sedikit malu karena itu berhasil mengambil perhatian sebagian besar anak paski dan paduan suara. Awalnya aku takut jika seandainya mereka akan mencemoohku. Tapi, dugaanku salah. Kakak kelas ku yang bernama Qoy, sekaligus menjabat sebagai Filcommander paduan suara menyalamiku diiringi dengan senyuman.
“Moga-moga kita bisa jadi tim yang baik ya”, kata Qoy
“Semoga saja”, kataku sembari menjabat tangannya.
Latihan langsung dimulai begitu anggota paski juga diminta untuk berkumpul. Andre memberikan senyumnya padaku, seperti mengatakan “Semangat Alice, Pasti bisa kok!”, yaa semacam itulah. Meskipun rasanya letih, tapi aku sangat senang karena bisa puas melihat Andre sampai sore. Pulang pun diantar sampai ke rumah. Padahal sebelumnya aku sudah menolak, aku tau dia pasti sangat capek. Tapi dia memaksa, katanya dia ngga mau kalau harus liat aku pulang sendiri sore-sore gini. Senaaang rasanya...

***

Pagi ini semuanya tetap seperti biasa. Sesudah sarapan langsung berangkat. Tapi saat membuka pintu depan aku langsung dikejutkan oleh kedatangan Andre yang sudah siap duduk di atas motornya di depan pagar rumahku. Aku berlari-lari kecil ke arahnya. Wah! Senyumnya semakin mencerahkan pagiku. Benar-benar pagi yang menyenangkan.
Deru motor mengiringi kepergian kami menuju sekolah. Sebenarnya ini memang  masih terlalu pagi untuk ke sekolah. Tentu saja, biasanya jam segini aku masih nunggu bis di persimpangan. Tau-tau ini anak muncul depan rumah. Ya jelaslah aku nyampe sekolah jadi kaya orang ketagihan belajar gini. Sepi banget. Waktu masuk ke kelasku aja, kosong. Jadilah aku hanya duduk diam di bangkuku yang hari ini mendapat giliran duduk di belakang paling dekat dinding. Letak paling strategis buat tidur.
Dari pada mati karena bosan aku mngeluarkan novel yang selalu kusediakan di dalam tas jika saja mendadak aku merasa bosan. Saat baru membaca 6 halaman, aku mendengar suara langkah kaki dari depan. Berjalan pelan ke arahku tetapi pasti. Bukannya berlebihan tapi awalnya itu memang sedikit menakutkan. Perlahan aku menurunkan buku yang sedari tadi aku baca dalam posisi tepat di depan wajahku dengan kedua siku menumpu di atas meja. Daan... jeng jeeng!!! Rachel muncul tepat di depan wajahku, membuatku sedikit mundur karena kaget, bukannya takut. Yang benar saja, aku tau itu bukanlah bunyi hantu.
“Jadi gimana latihan kemarin? Asik?”, tanya Rachel langsung.
“Masuk apa nggak bisa pake salam apa?”, tanyaku sedikit emosi karena masih agak kaget.
“Pagiii... Gimana?”
Ah! Anak ini memang selalu berhasil membuat orang lain gondok. Tapi, seketika langsung tergantikan oleh senyum karena aku mulai mengingat-ingat hari kemarinku. “Asik kok” kataku singkat, dan aku tau itu belum cukup bagi Rachel. “Awalnya aku nyangka anak-anak itu bakalan sombong dan sinis sama aku. Tapi ternyata enggak kok. Sebenernya syukur bangeet mereka mau nerima aku. Yaah jadinya nggak canggung-canggung amat sih kemarin.”
“ooo gitu yaaa”
“kemarin gimana?”
Rachel mengangkat alisnya, lalu dengan gerakan malas membalik tubuhnya ke depan dan meletakkan tasnya di atas meja. “ Cuma seperti biasa aja kok Al.”
“Katanya Nancy mau cerita sesuatu. Astaga!!!”, aku lupa. Aku berjanji untuk nelpon Nancy. Saking capeknya kemarin, aku langsung tidur waktu baru mendaratkan pantat di kasur. Mmm... nggak juga sih. Nggak mungkin aku tidurnya duduk kan? Tapi, herannya Rachel kok nggak heran waktu aku kaget ya?
“Pasti lupa telpon Nancy kan?”
“Iyaa... aduh gimana doong?”
akhirnya Rachel tersenyum menenangkan. “nggak papa kok.kemarin kami juga nggak jadi cerita kok. Katanya mau kita lengkap semua. Tapi, nanti tetap minta maaf ya sama Nancy.”
“Iya Chel... aduuh! Kok bisa lupa sih!”
“Udah. Antarin aku ke kelas yuk.”
Aku mengangguk, meletakkan novelku, dan berdiri seiring Rachel berjalan.

***
Perlombaan sudah sangat dekat. Kami berlatih setiap hari sepulang sekolah. Dari hari ke hari kami merasa penampilan kami semakin membaik. Kami pun optimis bisa menang melawan paduan suara dari SMA Ranis yang memang selalu menjadi saingan terberat kami. Tapi, sayangnya latihan ini terlalu memakan waktuku. Tak ada waktu yang bisa kulewatkan dengan mereka, para sahabat. Cuma kepercayaan merekalah yang bisa aku andalkan saat ini. Semoga saja mereka tidak menganggap aku melakukan semua ini dengan sengaja.
Hari pertandingan telah tiba. Anggota Paski dan Paduan Suara telah berkumpul di sekolah pukul setengah tujuh pagi dengan seragam dan kelengkapan yang telah ditentukan. Sebelum berangkat ke lokasi perlombaan dengan bus sekolah yang telah disediakan, kami berdoa bersama terlebih dahulu. Perwakilan kami pun mengambil nomor lot di meja panitia dan kami mendapat nomor 2 yang berarti kami merupakan penampilan yang ke dua dalam pertandingan ini. Terlalu cepat tapi baik, karena melihat banyaknya peserta yang mengikuti pertandingan ini, pasti akan sangat jenuh menunggu jika itu merupakan penampilan ke-15 atau ke-16.
Penampilan pertama telah selesai ditampilkan. Kami segera mangambil tempat dan langsung mencoba menyesuaikan diri dengan suasana menegangkan di tengah lapangan.
“Siap gerak!”, suara komandan pun telah terdengar menandakan pertandingan kami pun juga telah dimulai. Anggota paski telah berjalan degan sikap tegas nan mantap. Membuat banyak penonoton terkagum-kagum dibuatnya. Mereka telah tiba di depan tiang bendera dan langsung membuka formasi. Lama kami menunggu sampai akhirnya terdengar hentakan keras pertanda bendera telah dikibarkan yang diikuti oleh tepuk tangan dari penonton. “Bendera Siap!”, menandakan ini saatnya bagi Paduan Suara untuk beraksi.
“Astaga!”, teriakku dalam hati. Suara kami menggema dimana-mana. Jadi inilah rasanya berlomba dengan teman-teman baruku. Menakjubkan. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya selesai kami nyanyikan serentak dengan berhentinya benderaa di puncak tiang bendera dan lagi-lagi dengan tepuk tangan yang mengelilingi kami, mengepung kami dalam kebahagian karena semua berjalan sesuai rencana tanpa hambatan berarti.
Kami membubarkan diri dari barisan masing-masing saat anggota paski melakukan hal yang sama. Kami menghampiri anggota paski dan melakukan sorak-sorakan khas SMA Kanaya. Andre mendekatiku dan kami sama memberikan salam selamat atas kesuksesan masing-masing. Selanjutnya kami memasuki kelas yang telah disediakan untuk kami beristirahat. Bahagia rasanya melihat kekompakan teman-teman yang terjadi di depan mataku. Mereka bercanda bersama, tertawa, dan saling pukul memukul yang membuat tawa kami menjadi lebih keras lagi. Lalu aku berfikir, aku tidak menyesal sama sekali mengikuti kata-kata Andre. Dia memang memikirkan yang terbaik untukku. Aku melihatnya sambil tersenyum ketika ia menoleh ke arahku. Ia langsung berdiri dari tempatnya dan berjalan ke arahku. Begitu ia menempati kursi kosong disebelahku ia bertanya, “Kenapa?”. Aku hanya menggeleng sembari masih memberikan senyuman padanya.
Hari sudah semakin siang dan aku mulai bosan dengan keramaian ini. Teman-teman yang lain sudah berpencar kemana-mana mencari teman lama yang berasal dari SMA lain. Lagi-lagi Andre datang.
“Kelihatan banget bosannya.”, katanya sambil tertawa.
“Iya, Ndree. Dari tadi cuma ngeliatin orang lomba. Yang lain pada pergi.”
“kita jalan-jalan yuk?”
“kemana?”
“yaa keliling sekolah ini aja. Kamu belum tau seluruh wilayah disini kan?”
Aku menggeleng. Ia pun berdiri, jadi aku juga ikut berdiri. Kami berjalan santai menyusuri lorong kelas, menaiki jenjang, dan akhirnya kami sampai di lantai tiga gedung tersebut. Disana sangat sejuk. Angin berhembus lembut membuat rambutku beterbangan ke sisi kanan wajahku. Ia mengajakku lebih mendekati balkon lagi. Disana aku bisa melihat perlombaan yang sedang berlangsung di lapangan. Pertandingan itu jadi terlihat lebih menyenangkan, ntah memang karena pertandingannya atau karena Andre berada disisiku saat ini.
Banyak hal yang kami bicarakan disana, sehingga aku merasa menjadi semakin dekat dengan Andre. Aku bisa mengetahui seluk beluk kehidupannya. Mulai dari kesehariannya, hobinya, musik kesukaannya, orang tuanya, dan saudaranya. Begitu juga denganku, aku juga menceritakan kehidupanku padanya.
Berjam-jam kami berdiri disana dan kami baru tersadar ketika Rico memanggil kami dari bawah.
“Woi! Udahan pacarannya? Kita disuruh ngumpul tuh.”

Aku tertawa karena Andre mengangkat telunjuknya ke depan bibirnya sambil menunjukkan ekspresi ‘Ah... Lo ganggu aja’. Aku memukul bahu Andre dan menariknya sembari berjalan menuju tangga.

PART 7

Aku telah melewatkan waktu 1 minggu, eh-hm, maksudku kami. Sepertinya semua berjalan lancar-lancar saja. Di minggu pertama ini kami saling bertanya tentang kebiasaan sehari-hari, atau sebenarnya lebih tepat dikatakan, dia, dia yang bertanya mengenai kebiasaanku, apa saja kegiatanku, makanan kesukaanku, warna kesukaanku. Bodohnya aku tidak bisa bertanya balik padanya. Tetapi, ada sesuatu yang menghalangiku untuk lebih mendekatkan diri padanya, padahal aku sendiri tau dengan sangat jelas bahwa yang menghalangi itu adalah diriku sendiri. Tapi kenapa? Aku sendiri tidak mengerti.
            Dia memberikanku sebuah nama kesayangan yang familiar di dengar di dalam dunia perpacaran. ’SweetHeart’. Dan sekarang aku sadar bahwa aku adalah orang yang sangat sulit berhubungan dengan sesuatu yang bernama percintaan. Aku senang jika Andre memanggilku SweetHeart, tapi entah kenapa tak ada sedikitpun terbesit dalam benakku untuk memberikan julukan serupa untuknya, aku hanya tidak menyenangi hal itu. Aku tau itu tidak adil, dia memberikan kesenangan padaku, tapi tidak memberikan itu kembali kepadanya. Aku berfikir mungkin aku akan memanggilnya dengan panggilan sayang tertentu padanya, tapi aku hanya akan menggunkan panggilan itu dalam keadaan tertentu, jadi dia bisa mengetahui bahwa panggilan itu memiliki makna sangat sangat spesial bagiku.
Satu lagi masalahku –Oh...Kenapa masalah selalu datang silih berganti?!?-, Aku tidak selalu bisa melayani panggilan telepon atau SMS nya pada malam hari. Rutinitasku adalah belajar, memang terdengar sedikit berlebihan tapi itulah kenyataannya. Aku sudah mengatakan hal itu padanya, dan dia bilang itu tidak masalah, tetapi aku tidak yakin. Dia selalu mengirim SMS, yang akibatnya aku hanya bisa menjawab pesannya dengan kalimat yang sangat pendek sehingga terkesan pedas. Jika itu adalah sebuah telepon, maka aku tidak mengangkatnya. Oh... Betapa jahatnya aku. Tapi kuharap dia bisa mengerti, karena aku tidak mau status berpacaran-ku akan mengganggu proses belajarku, yang kemudian akan berimbas pada nilaiku. Lalu semua ini akan dipertanyakan oleh orang tuaku yang realitanya tidak mengetahui apa-apa soal aku yang memiliki seorang ‘teman terlalu dekat’. Aku pernah berencana untuk memberitahukan ini pada kakakku. Tapi kusurutkan niatku karena mengingat kakakku memiliki pengalaman buruk di masa lalunya, bisa-bisa dia menentang hubungan yang baru seumur jagung ini. Jadi mungkin sebaiknya aku mencari tau dulu tentang hubungan ini,aku akan mencari tau baik dan buruknya akibat yang dihasilkan dari hubungan ini. Jadi, jika suatu saat nanti kakakku menentangnya aku memiliki alasan yang kuat untuk mempertahankannya. Saat ini aku hanya perlu bertahan untuk menjalani ini semua.

***

Beberapa hari lagi umurku akan bertambah. Semakin sering aku mengingatnya, semakin sakit hati aku pada kehidupan rasanya. Aku tau jarak umurku dengan Andre tidak terlalu jauh, tetapi tetap saja dia itu lebih muda. Bakan jika itu hanya memiliki 1 hari jaraknya, tetap saja akan menjadi sebuah beban pikiran bagiku, dan aku benci itu.Tapi apa yang dapat aku lakukan? Memalsukan akta kelahiranku hanya demi dia? Sepertinya itu hanya jalan pintas menuju jurang. Mungkin sekarang aku hanya harus belajar menerimanya.
Hari ulang tahun? Apa yang seharusnya aku harapkan dari dia? Sebuah kejutan. Dalam bentuk apa? Pesta, kurasa itu tidak mungkin. Aku tidak seharusnya mengarapkan hal yang muluk-muluk. Cukup dengan ucapan selamat kurasa, itu sudah cukup bagiku. Aku sudah biasa hanya menerima selamat dihari ulang tahunku, termasuk dari sahabatku. Aku tau itu terdengar aneh, mungkin bagi kami memberikan kado ulang tahun bukanlah sebuah tradisi. Hal itu juga terjadi di keluargaku. Tapi, tetap saja sebenarnya aku mengharapkan sebuah perubahan di tahun ini.
Dentingan gitar yang biasa kudengar dari ponselku terdengar lagi sebagai tanda ada sebuah panggilan.
“Hai, Nre...”
“Hallo, SweetHeart.”, walaupun aku telah mendengarnya berkali-kali, tetap saja mendengar suaranya dapat membuatku melupakan semua masalah dari yang besar sampai yang kecil di hatiku. “ Apa yang kau lakukan sekarang?”, sangat formal
“Hanya sedang menghitung hari.”
“Oh... Bagaimana dengan tugas rumahmu?”, aku heran kenapa dia tidak bertanya hari apa yang sedang kuhitung?
“Sudah ku selesaikan. Sekarang aku bebas.”
“Itu bagus. Jadi apa yang akan kita bicarakan malam ini?”
“Aku mau menanyakan sesuatu”
“Silakan”
Diam sejenak, tari nafas, hembuskan, “Ndre, apa kamu ngga bosan sama aku?”
“Apa?”, terdengar jelas nada bingung di dalamnya.
“Iya, aku ngga bisa sebebas teman-teman kamu itu. Aku ngga bisa keluar malam untuk kamu ajak main, aku nggak selalu bisa angkat telpon kamu. Terlalu banyak batasan dalam diri aku. Apa kamu nggak bosan mengadapi aku?”
“Bodoh. Kok kamu bisa mikir sampai kayak gitu ha? Aku udah tau konsekuensi seperti ini sejak lama. Aku udah tau kamu ini orangnya seperti apa, apa yang sepatutnya bisa kamu lakukan dan yang tidak, dan itu tidak menjadi masalah bagiku.”
Senyumku mengembang secara otomatis, “Yah... aku hanya melihat realita yang ada.”, jawabku sedikit lebih pelan karena malu akan pertanyaanku yang sangat-sangat bodoh.
Selanjutnya percakapan kami cuma membahas mengenai hal-hal biasa. Aku berharap semoga saja dia bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa semua batasan yang kumiliki bukanlah sebuah masalah besar baginya. Banyak yang mengatakan tak ada gunanya memegang kata—kata seorang lelaki, itu hanya akan menusukkan sebuah duri di hatimu. Haruskah aku memercayai Andre?

***

Pelajaran Sejarah adalah yang paling membosankan, aku sedang menciptakan lukisan indah ketiga di halaman belakang buku catatanku ketika aku dilempari sebuah kertas kecil oleh temanku. Aku menoleh padanya dengan ekspresi wajah yang memberenggut.
“Apa?” Kataku padanya tanpa mengeluarkan suara. Kemudian dia menunjuk ke arah jendela. Disana aku bisa melihat Diva sedang menggoyang-goyangkan tangannya memanggilku. Segera saja aku maju ke depan kelas dan meminta izin dari guru sejarahku yang membosankan. Sesampainya di luar, aku langsung diseret olah Diva menjauh dari kelasku.
“Kenapa? Ada apa?” Tanyaku bingung pada Diva
“Tidak, aku hanya ingin menyampaikan pesan dari Andre. Dia ingin kau menemui dia di samping sekolah di dekat halte sepulang sekolah nanti.”
“Kenapa?” Tanyaku bingung
“Aku juga tidak tau, yang penting kau harus datang ya. Oh ya, dan pastikan kau hanya datang sendiri.”Jawab Diva. Aku tidak yakin dia tidak mengetahui apa-apa tentang ini, karena tadi aku melihatnya berbicara sambil tersenyum geli yang ditahan. Ada apa sebenarnya ini?

***

Aku tidak yakin harus menemui Andre sekarang, entah kenapa ada sedikit keraguan dalam diriku untuk segera menemuinya.Andre ingin membicarakan sesuatu denganku, apakah ada masalah? Kenapa dia meminta Diva untuk menyampaikan pesannya padaku? Kenapa dia tidak menyampaikannya sendiri secara langsung kepadaku seperti biasa, atau mengirim pesan kepadaku. Oh! Seketika itu juga aku merasa tanganku dingin dan berkeringat. Aku tau kesalahanku, aku tau... Bagaimana... bagaimana jika ternyata Andre... Tidak, aku tidak ingin memikirkan kemungkinan itu.
Tiba-tiba saja ponselku bergetar, aku memang mematikan suaranya tadi di kelas. Aku mengangkat alis saat membaca nama pengirim pesan. Andre.
Apakah aku harus menunggu lebih lama lagi?
Oh tidak. Ternyata dia sudah menungguku. Mau tidak mau aku harus segera menghadapinya. Semoga saja kilasan bayangan tadi tidak akan bener-benar terjadi.
Aku mendapati Andre sedang berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada di bawah halte dan menghadap ke sisi lain dari tempatku berdiri. Sebenarnya halte ini bukanlah tempat tertutup, tempat ini bisa dibilang sangat terbuka. Ia terletak disebelah pagar samping halaman sekolah kami, dan aku yakin semua orang sebenarnya bisa melihat kami dengan sangat jelas kalau saja tidak ada dinding penutup tempat bersandarnya orang-orang yang duduk sambil menunggu bus datang.
“Andre?”Panggilku pelan
Tiba-tiba dia memutar badannya dengan cepat sehingga sekarang kami berdiri berhadapan. “Hai...” katanya sambil tersenyum, senyum yang dapat menyejukkan hatiku seperti biasanya. Baiklah, dia tersenyum. Mungkin ini bukanlah mengenai sesuatu yang buruk.
“Ada apa memanggilku ke sini? Dan kenapa bukan kau sendiri saja yang memanggilku tadi? Kenapa kau meminta Diva yang menyampaikannya kepadaku?”
Lagi-lagi dia tersenyum. “Aku hanya ingin ngobrol denganmu.” Jawabnya singkat. Ini semakin membuatku bingung. Ada yang aneh sedang terjadi di sini. Tiba-tiba senyuman yang sedari tadi terbentuk halus di bibirnya lenyap tak berbekas, lalu kemudian di duduk di halte yang saat itu hanya kami berdua disana. Ia menompangkan berat badannya pada kedua siku yang menumpu di lututnya, dan dia menggenggam kedua tangannya seakan-akan dia sedang memohon. Tanganku kembali dingin karena cemas karena takut bayanganku tadi sepertinya mulai mendekatiku ke alam nyata.
“Ada apa?” tanyaku sambil berusaha membuat suaraku tetap terdengar tenang.
“Ada yang harus kukatakan padamu.”
“Apa itu? Katakan saja.” Tidak, jangan katakan. Kumohon jangan katakan kata-kata itu
Kita...” ia berhenti, dan sekarang itu juga membuatku berhenti menarik nafas karena saking tegangnya aku.
“Aku... “ Tiba-tiba dia berdiri kembali, berhadapan denganku, membuatku kaget dan aku mundur selangkah.
“Selamat ulang tahun, sayang...” Katanya sambil menatap ke mataku, pelan tetapi yakin. Aku melongo mendengarnya dan tidak bisa berkata apa-apa. Melihatku belum memberikan respon untuknya ia mengulangi kata-katanya. “Alice, selamat ulang tahun” katanya lagi sambil tersenyum lebar.
Melihat itu aku terpekik dengan sangat lengking. “Aaaa!!!! Andreee!!!”
“hei ada apa??” Ia bingung sambil memegangi telinganya yang ku yakin berdenging karena teriakanku.
“Ku mohon Andre, jangan lakukan hal ini lagi kepadaku”, jawabku masih histeris
“Hal apa? Selamat dariku?”, tanyanya sangat bingung
“Bukan, jangan pernah membuatku cemas seperti ini lagi. Kau tidak tau betapa takutnya aku tadi. Kusangka kau akan... akan...”
“Mengakhirinya?” aku diam sejenak dan kemudian mengangguk.”Hahaha!!!” Andre tertawa lepas mendengar pemikiranku yang aneh itu.”Kenapa kau bisa berfikiran seperti itu?”
“Karena aku tidak menghubungi mi selama 3 hari terakhir.”
“Oh kau benar, tapi aku juga tidak menghubungimu terlebih dahulu kan? Biasanya kan aku dulu yang memulai. Maafkan aku ya Alice.” Ucap Andre sambil tersenyum kecil kepadaku.
“Kenapa kau meminta maaf?” Andre hanya tersenyum, dan tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak hitam hampir seukuran setengah dari kotak sepatu, menatapnya sejenak, lalu menyodorkannya kepadaku. Aku kaget lalu kembali mundur selangkah.
“Ini untukmu, kado ulang tahun dariku. Kuharap kau suka.” Aku menatapnya sebentar sebelum aku mengulurkan tangan menerima hadiah darinya.
“Aku pasti suka pada apapun yang kau berikan padaku, bahkan sebenarnya kau tidak perlu repot-repot mencarikanku hadiah. Tapi... terima kasih. Terima kasih atas hadiahnya, terima kasih atas kejutan hari ini, terima kasih... karena telah menyayangiku dan sabar menghadapiku.” Aku melihat alis Andre terangkat karena ucapanku tadi, tapi kemudian dia tersenyum.
“Terima kasih kembali. Tapi, sebenarnya ini tidak bisa disebut sebagai kejutan. Awalnya aku ingin memberikan kejutan sesungguhnya padamu. Tapi mengingat aku tidak bisa langsung meninggalkan sekolah hari ini, aku hanya bisa memberimu ini.”
Aku tersenyum mendengarnya,” tidak,ini sudah lebih dari cukup”. Aku tau bahwa Andre harus menjalani latihan sebagai salah satu anggota pengibar bendera, sama seperti Cindy, dan mereka akan mengikuti lomba antar SMA se-kota. Ia sudah berlatih keras selama seminggu terakhir. Aku jadi berfikir, kapan dia mencarikan hadiah untukku kalau jadwalnya saja sepadat itu.
“Alice?”
“Ya?”
Ia menghembuskan nafasnya tanda tidak rela,” aku minta maaf, tapi 10 menit lagi aku harus segera berkumpul untuk latihan itu” katanya dengan nada tulus yang menyesal.
“Oh, itu tidak masalah. Pergilah. Jangan sampai kau dimarahi oleh yang lain” jawabku santai walaupun sebenarnya sedikit kecewa karena akan ditinggalkan pada momen yang langka terjadi dalam hidupku ini. Tapi aku tidak ingin membebani dia.
Andre kembali mengambil hadiah yang berada dalam pelukanku dan meletakkannya di kursi halte. Andre meraih kedua tanganku dengan tangannya, dan kemudian menggenggamnya. “Sekali lagi, Selamat ulang tahun Alice White.” Katanya sambil tersenyum
Aku baru akan membuka mulut menjawabnya ketika aku dikagetkan oleh sorak-sorai yang berasal dari lapangan. Aku menoleh ke arah lapangan dan mendapati orang-orang yang sedang melihat kearah kami sambil berteriak-teriak menyoraki kami yang kedapatan sedang saling berpegangan. Aku baru menyadari bahwa ternyata posisi kami sekarang sudah agak lebih ke ujung halte karena aku yang dari tadi mundur secara perlahan, sehingga sekarang kami tidak lagi terhalangi oleh pembatas halte yang digunakan untuk bersandar. Sekarang kami menjadi tontonan yang disaksikan oleh hampir satu sekolah.
Aku berusaha menarik tanganku dari genggaman Andre. Awalnya dia tidak mau melepaskan, tapi setelah aku memelototinya akhirnya dia melepaskannya juga. Mundur selangkah dan berkata,”Baiklah, aku harus pergi sekarang”

Aku mengangguk , “Terima kasih”, kataku sambil mengambil kembali kado yang diletakkan di atas kursi halte. Andre mengedipkan sebelah matanya sebagai balasan.