Aku telah
melewatkan waktu 1 minggu, eh-hm, maksudku kami. Sepertinya semua berjalan
lancar-lancar saja. Di minggu pertama ini kami saling bertanya tentang
kebiasaan sehari-hari, atau sebenarnya lebih tepat dikatakan, dia, dia yang
bertanya mengenai kebiasaanku, apa saja kegiatanku, makanan kesukaanku, warna
kesukaanku. Bodohnya aku tidak bisa bertanya balik padanya. Tetapi, ada sesuatu
yang menghalangiku untuk lebih mendekatkan diri padanya, padahal aku sendiri
tau dengan sangat jelas bahwa yang menghalangi itu adalah diriku sendiri. Tapi
kenapa? Aku sendiri tidak mengerti.
Dia memberikanku sebuah nama kesayangan yang familiar di dengar di dalam dunia perpacaran. ’SweetHeart’. Dan sekarang aku sadar bahwa aku adalah orang yang sangat sulit berhubungan dengan sesuatu yang bernama percintaan. Aku senang jika Andre memanggilku SweetHeart, tapi entah kenapa tak ada sedikitpun terbesit dalam benakku untuk memberikan julukan serupa untuknya, aku hanya tidak menyenangi hal itu. Aku tau itu tidak adil, dia memberikan kesenangan padaku, tapi tidak memberikan itu kembali kepadanya. Aku berfikir mungkin aku akan memanggilnya dengan panggilan sayang tertentu padanya, tapi aku hanya akan menggunkan panggilan itu dalam keadaan tertentu, jadi dia bisa mengetahui bahwa panggilan itu memiliki makna sangat sangat spesial bagiku.
Dia memberikanku sebuah nama kesayangan yang familiar di dengar di dalam dunia perpacaran. ’SweetHeart’. Dan sekarang aku sadar bahwa aku adalah orang yang sangat sulit berhubungan dengan sesuatu yang bernama percintaan. Aku senang jika Andre memanggilku SweetHeart, tapi entah kenapa tak ada sedikitpun terbesit dalam benakku untuk memberikan julukan serupa untuknya, aku hanya tidak menyenangi hal itu. Aku tau itu tidak adil, dia memberikan kesenangan padaku, tapi tidak memberikan itu kembali kepadanya. Aku berfikir mungkin aku akan memanggilnya dengan panggilan sayang tertentu padanya, tapi aku hanya akan menggunkan panggilan itu dalam keadaan tertentu, jadi dia bisa mengetahui bahwa panggilan itu memiliki makna sangat sangat spesial bagiku.
Satu lagi
masalahku –Oh...Kenapa masalah selalu datang silih berganti?!?-, Aku tidak
selalu bisa melayani panggilan telepon atau SMS nya pada malam hari.
Rutinitasku adalah belajar, memang terdengar sedikit berlebihan tapi itulah
kenyataannya. Aku sudah mengatakan hal itu padanya, dan dia bilang itu tidak
masalah, tetapi aku tidak yakin. Dia selalu mengirim SMS, yang akibatnya aku
hanya bisa menjawab pesannya dengan kalimat yang sangat pendek sehingga
terkesan pedas. Jika itu adalah sebuah telepon, maka aku tidak mengangkatnya.
Oh... Betapa jahatnya aku. Tapi kuharap dia bisa mengerti, karena aku tidak mau
status berpacaran-ku akan mengganggu proses belajarku, yang kemudian akan
berimbas pada nilaiku. Lalu semua ini akan dipertanyakan oleh orang tuaku yang
realitanya tidak mengetahui apa-apa soal aku yang memiliki seorang ‘teman
terlalu dekat’. Aku pernah berencana untuk memberitahukan ini pada kakakku.
Tapi kusurutkan niatku karena mengingat kakakku memiliki pengalaman buruk di
masa lalunya, bisa-bisa dia menentang hubungan yang baru seumur jagung ini.
Jadi mungkin sebaiknya aku mencari tau dulu tentang hubungan ini,aku akan
mencari tau baik dan buruknya akibat yang dihasilkan dari hubungan ini. Jadi,
jika suatu saat nanti kakakku menentangnya aku memiliki alasan yang kuat untuk
mempertahankannya. Saat ini aku hanya perlu bertahan untuk menjalani ini semua.
***
Beberapa hari
lagi umurku akan bertambah. Semakin sering aku mengingatnya, semakin sakit hati
aku pada kehidupan rasanya. Aku tau jarak umurku dengan Andre tidak terlalu
jauh, tetapi tetap saja dia itu lebih muda. Bakan jika itu hanya memiliki 1
hari jaraknya, tetap saja akan menjadi sebuah beban pikiran bagiku, dan aku
benci itu.Tapi apa yang dapat aku lakukan? Memalsukan akta kelahiranku hanya
demi dia? Sepertinya itu hanya jalan pintas menuju jurang. Mungkin sekarang aku
hanya harus belajar menerimanya.
Hari ulang tahun?
Apa yang seharusnya aku harapkan dari dia? Sebuah kejutan. Dalam bentuk apa?
Pesta, kurasa itu tidak mungkin. Aku tidak seharusnya mengarapkan hal yang
muluk-muluk. Cukup dengan ucapan selamat kurasa, itu sudah cukup bagiku. Aku
sudah biasa hanya menerima selamat dihari ulang tahunku, termasuk dari
sahabatku. Aku tau itu terdengar aneh, mungkin bagi kami memberikan kado ulang
tahun bukanlah sebuah tradisi. Hal itu juga terjadi di keluargaku. Tapi, tetap
saja sebenarnya aku mengharapkan sebuah perubahan di tahun ini.
Dentingan gitar
yang biasa kudengar dari ponselku terdengar lagi sebagai tanda ada sebuah
panggilan.
“Hai, Nre...”
“Hallo,
SweetHeart.”, walaupun aku telah mendengarnya berkali-kali, tetap saja
mendengar suaranya dapat membuatku melupakan semua masalah dari yang besar
sampai yang kecil di hatiku. “ Apa yang kau lakukan sekarang?”, sangat formal
“Hanya sedang
menghitung hari.”
“Oh... Bagaimana
dengan tugas rumahmu?”, aku heran kenapa dia tidak bertanya hari apa yang
sedang kuhitung?
“Sudah ku
selesaikan. Sekarang aku bebas.”
“Itu bagus. Jadi
apa yang akan kita bicarakan malam ini?”
“Aku mau
menanyakan sesuatu”
“Silakan”
Diam sejenak,
tari nafas, hembuskan, “Ndre, apa kamu ngga bosan sama aku?”
“Apa?”, terdengar
jelas nada bingung di dalamnya.
“Iya, aku ngga
bisa sebebas teman-teman kamu itu. Aku ngga bisa keluar malam untuk kamu ajak
main, aku nggak selalu bisa angkat telpon kamu. Terlalu banyak batasan dalam
diri aku. Apa kamu nggak bosan mengadapi aku?”
“Bodoh. Kok kamu
bisa mikir sampai kayak gitu ha? Aku udah tau konsekuensi seperti ini sejak
lama. Aku udah tau kamu ini orangnya seperti apa, apa yang sepatutnya bisa kamu
lakukan dan yang tidak, dan itu tidak menjadi masalah bagiku.”
Senyumku
mengembang secara otomatis, “Yah... aku hanya melihat realita yang ada.”,
jawabku sedikit lebih pelan karena malu akan pertanyaanku yang sangat-sangat
bodoh.
Selanjutnya
percakapan kami cuma membahas mengenai hal-hal biasa. Aku berharap semoga saja
dia bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa semua batasan yang kumiliki
bukanlah sebuah masalah besar baginya. Banyak yang mengatakan tak ada gunanya
memegang kata—kata seorang lelaki, itu hanya akan menusukkan sebuah duri di
hatimu. Haruskah aku memercayai Andre?
***
Pelajaran Sejarah
adalah yang paling membosankan, aku sedang menciptakan lukisan indah ketiga di
halaman belakang buku catatanku ketika aku dilempari sebuah kertas kecil oleh
temanku. Aku menoleh padanya dengan ekspresi wajah yang memberenggut.
“Apa?” Kataku
padanya tanpa mengeluarkan suara. Kemudian dia menunjuk ke arah jendela. Disana
aku bisa melihat Diva sedang menggoyang-goyangkan tangannya memanggilku. Segera
saja aku maju ke depan kelas dan meminta izin dari guru sejarahku yang
membosankan. Sesampainya di luar, aku langsung diseret olah Diva menjauh dari
kelasku.
“Kenapa? Ada
apa?” Tanyaku bingung pada Diva
“Tidak, aku hanya
ingin menyampaikan pesan dari Andre. Dia ingin kau menemui dia di samping
sekolah di dekat halte sepulang sekolah nanti.”
“Kenapa?” Tanyaku
bingung
“Aku juga tidak
tau, yang penting kau harus datang ya. Oh ya, dan pastikan kau hanya datang sendiri.”Jawab
Diva. Aku tidak yakin dia tidak mengetahui apa-apa tentang ini, karena tadi aku
melihatnya berbicara sambil tersenyum geli yang ditahan. Ada apa sebenarnya
ini?
***
Aku tidak yakin
harus menemui Andre sekarang, entah kenapa ada sedikit keraguan dalam diriku
untuk segera menemuinya.Andre ingin membicarakan sesuatu denganku, apakah ada
masalah? Kenapa dia meminta Diva untuk menyampaikan pesannya padaku? Kenapa dia
tidak menyampaikannya sendiri secara langsung kepadaku seperti biasa, atau mengirim
pesan kepadaku. Oh! Seketika itu juga aku merasa tanganku dingin dan
berkeringat. Aku tau kesalahanku, aku tau... Bagaimana... bagaimana jika
ternyata Andre... Tidak, aku tidak ingin memikirkan kemungkinan itu.
Tiba-tiba saja
ponselku bergetar, aku memang mematikan suaranya tadi di kelas. Aku mengangkat
alis saat membaca nama pengirim pesan. Andre.
Apakah aku harus menunggu lebih lama lagi?
Oh tidak.
Ternyata dia sudah menungguku. Mau tidak mau aku harus segera menghadapinya.
Semoga saja kilasan bayangan tadi tidak akan bener-benar terjadi.
Aku mendapati
Andre sedang berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada di bawah
halte dan menghadap ke sisi lain dari tempatku berdiri. Sebenarnya halte ini
bukanlah tempat tertutup, tempat ini bisa dibilang sangat terbuka. Ia terletak
disebelah pagar samping halaman sekolah kami, dan aku yakin semua orang
sebenarnya bisa melihat kami dengan sangat jelas kalau saja tidak ada dinding
penutup tempat bersandarnya orang-orang yang duduk sambil menunggu bus datang.
“Andre?”Panggilku
pelan
Tiba-tiba dia
memutar badannya dengan cepat sehingga sekarang kami berdiri berhadapan.
“Hai...” katanya sambil tersenyum, senyum yang dapat menyejukkan hatiku seperti
biasanya. Baiklah, dia tersenyum. Mungkin ini bukanlah mengenai sesuatu yang
buruk.
“Ada apa
memanggilku ke sini? Dan kenapa bukan kau sendiri saja yang memanggilku tadi?
Kenapa kau meminta Diva yang menyampaikannya kepadaku?”
Lagi-lagi dia
tersenyum. “Aku hanya ingin ngobrol denganmu.” Jawabnya singkat. Ini semakin
membuatku bingung. Ada yang aneh sedang terjadi di sini. Tiba-tiba senyuman
yang sedari tadi terbentuk halus di bibirnya lenyap tak berbekas, lalu kemudian
di duduk di halte yang saat itu hanya kami berdua disana. Ia menompangkan berat
badannya pada kedua siku yang menumpu di lututnya, dan dia menggenggam kedua
tangannya seakan-akan dia sedang memohon. Tanganku kembali dingin karena cemas
karena takut bayanganku tadi sepertinya mulai mendekatiku ke alam nyata.
“Ada apa?”
tanyaku sambil berusaha membuat suaraku tetap terdengar tenang.
“Ada yang harus
kukatakan padamu.”
“Apa itu? Katakan
saja.” Tidak, jangan katakan. Kumohon
jangan katakan kata-kata itu
“Kita...” ia berhenti, dan sekarang itu juga membuatku berhenti menarik
nafas karena saking tegangnya aku.
“Aku... “
Tiba-tiba dia berdiri kembali, berhadapan denganku, membuatku kaget dan aku mundur
selangkah.
“Selamat ulang
tahun, sayang...” Katanya sambil menatap ke mataku, pelan tetapi yakin. Aku
melongo mendengarnya dan tidak bisa berkata apa-apa. Melihatku belum memberikan
respon untuknya ia mengulangi kata-katanya. “Alice, selamat ulang tahun”
katanya lagi sambil tersenyum lebar.
Melihat itu aku
terpekik dengan sangat lengking. “Aaaa!!!! Andreee!!!”
“hei ada apa??”
Ia bingung sambil memegangi telinganya yang ku yakin berdenging karena
teriakanku.
“Ku mohon Andre,
jangan lakukan hal ini lagi kepadaku”, jawabku masih histeris
“Hal apa? Selamat
dariku?”, tanyanya sangat bingung
“Bukan, jangan
pernah membuatku cemas seperti ini lagi. Kau tidak tau betapa takutnya aku
tadi. Kusangka kau akan... akan...”
“Mengakhirinya?”
aku diam sejenak dan kemudian mengangguk.”Hahaha!!!” Andre tertawa lepas
mendengar pemikiranku yang aneh itu.”Kenapa kau bisa berfikiran seperti itu?”
“Karena aku tidak
menghubungi mi selama 3 hari terakhir.”
“Oh kau benar,
tapi aku juga tidak menghubungimu terlebih dahulu kan? Biasanya kan aku dulu
yang memulai. Maafkan aku ya Alice.” Ucap Andre sambil tersenyum kecil
kepadaku.
“Kenapa kau
meminta maaf?” Andre hanya tersenyum, dan tidak menjawab pertanyaanku. Dia
malah membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak hitam hampir seukuran
setengah dari kotak sepatu, menatapnya sejenak, lalu menyodorkannya kepadaku.
Aku kaget lalu kembali mundur selangkah.
“Ini untukmu,
kado ulang tahun dariku. Kuharap kau suka.” Aku menatapnya sebentar sebelum aku
mengulurkan tangan menerima hadiah darinya.
“Aku pasti suka
pada apapun yang kau berikan padaku, bahkan sebenarnya kau tidak perlu
repot-repot mencarikanku hadiah. Tapi... terima kasih. Terima kasih atas hadiahnya,
terima kasih atas kejutan hari ini, terima kasih... karena telah menyayangiku
dan sabar menghadapiku.” Aku melihat alis Andre terangkat karena ucapanku tadi,
tapi kemudian dia tersenyum.
“Terima kasih
kembali. Tapi, sebenarnya ini tidak bisa disebut sebagai kejutan. Awalnya aku
ingin memberikan kejutan sesungguhnya padamu. Tapi mengingat aku tidak bisa
langsung meninggalkan sekolah hari ini, aku hanya bisa memberimu ini.”
Aku tersenyum
mendengarnya,” tidak,ini sudah lebih dari cukup”. Aku tau bahwa Andre harus
menjalani latihan sebagai salah satu anggota pengibar bendera, sama seperti
Cindy, dan mereka akan mengikuti lomba antar SMA se-kota. Ia sudah berlatih
keras selama seminggu terakhir. Aku jadi berfikir, kapan dia mencarikan hadiah
untukku kalau jadwalnya saja sepadat itu.
“Alice?”
“Ya?”
Ia menghembuskan
nafasnya tanda tidak rela,” aku minta maaf, tapi 10 menit lagi aku harus segera
berkumpul untuk latihan itu” katanya dengan nada tulus yang menyesal.
“Oh, itu tidak
masalah. Pergilah. Jangan sampai kau dimarahi oleh yang lain” jawabku santai
walaupun sebenarnya sedikit kecewa karena akan ditinggalkan pada momen yang
langka terjadi dalam hidupku ini. Tapi aku tidak ingin membebani dia.
Andre kembali
mengambil hadiah yang berada dalam pelukanku dan meletakkannya di kursi halte.
Andre meraih kedua tanganku dengan tangannya, dan kemudian menggenggamnya.
“Sekali lagi, Selamat ulang tahun Alice White.” Katanya sambil tersenyum
Aku baru akan
membuka mulut menjawabnya ketika aku dikagetkan oleh sorak-sorai yang berasal
dari lapangan. Aku menoleh ke arah lapangan dan mendapati orang-orang yang
sedang melihat kearah kami sambil berteriak-teriak menyoraki kami yang
kedapatan sedang saling berpegangan. Aku baru menyadari bahwa ternyata posisi
kami sekarang sudah agak lebih ke ujung halte karena aku yang dari tadi mundur
secara perlahan, sehingga sekarang kami tidak lagi terhalangi oleh pembatas
halte yang digunakan untuk bersandar. Sekarang kami menjadi tontonan yang
disaksikan oleh hampir satu sekolah.
Aku berusaha
menarik tanganku dari genggaman Andre. Awalnya dia tidak mau melepaskan, tapi
setelah aku memelototinya akhirnya dia melepaskannya juga. Mundur selangkah dan
berkata,”Baiklah, aku harus pergi sekarang”
Aku mengangguk ,
“Terima kasih”, kataku sambil mengambil kembali kado yang diletakkan di atas
kursi halte. Andre mengedipkan sebelah matanya sebagai balasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar