Senin, 28 April 2014

PART 7

Aku telah melewatkan waktu 1 minggu, eh-hm, maksudku kami. Sepertinya semua berjalan lancar-lancar saja. Di minggu pertama ini kami saling bertanya tentang kebiasaan sehari-hari, atau sebenarnya lebih tepat dikatakan, dia, dia yang bertanya mengenai kebiasaanku, apa saja kegiatanku, makanan kesukaanku, warna kesukaanku. Bodohnya aku tidak bisa bertanya balik padanya. Tetapi, ada sesuatu yang menghalangiku untuk lebih mendekatkan diri padanya, padahal aku sendiri tau dengan sangat jelas bahwa yang menghalangi itu adalah diriku sendiri. Tapi kenapa? Aku sendiri tidak mengerti.
            Dia memberikanku sebuah nama kesayangan yang familiar di dengar di dalam dunia perpacaran. ’SweetHeart’. Dan sekarang aku sadar bahwa aku adalah orang yang sangat sulit berhubungan dengan sesuatu yang bernama percintaan. Aku senang jika Andre memanggilku SweetHeart, tapi entah kenapa tak ada sedikitpun terbesit dalam benakku untuk memberikan julukan serupa untuknya, aku hanya tidak menyenangi hal itu. Aku tau itu tidak adil, dia memberikan kesenangan padaku, tapi tidak memberikan itu kembali kepadanya. Aku berfikir mungkin aku akan memanggilnya dengan panggilan sayang tertentu padanya, tapi aku hanya akan menggunkan panggilan itu dalam keadaan tertentu, jadi dia bisa mengetahui bahwa panggilan itu memiliki makna sangat sangat spesial bagiku.
Satu lagi masalahku –Oh...Kenapa masalah selalu datang silih berganti?!?-, Aku tidak selalu bisa melayani panggilan telepon atau SMS nya pada malam hari. Rutinitasku adalah belajar, memang terdengar sedikit berlebihan tapi itulah kenyataannya. Aku sudah mengatakan hal itu padanya, dan dia bilang itu tidak masalah, tetapi aku tidak yakin. Dia selalu mengirim SMS, yang akibatnya aku hanya bisa menjawab pesannya dengan kalimat yang sangat pendek sehingga terkesan pedas. Jika itu adalah sebuah telepon, maka aku tidak mengangkatnya. Oh... Betapa jahatnya aku. Tapi kuharap dia bisa mengerti, karena aku tidak mau status berpacaran-ku akan mengganggu proses belajarku, yang kemudian akan berimbas pada nilaiku. Lalu semua ini akan dipertanyakan oleh orang tuaku yang realitanya tidak mengetahui apa-apa soal aku yang memiliki seorang ‘teman terlalu dekat’. Aku pernah berencana untuk memberitahukan ini pada kakakku. Tapi kusurutkan niatku karena mengingat kakakku memiliki pengalaman buruk di masa lalunya, bisa-bisa dia menentang hubungan yang baru seumur jagung ini. Jadi mungkin sebaiknya aku mencari tau dulu tentang hubungan ini,aku akan mencari tau baik dan buruknya akibat yang dihasilkan dari hubungan ini. Jadi, jika suatu saat nanti kakakku menentangnya aku memiliki alasan yang kuat untuk mempertahankannya. Saat ini aku hanya perlu bertahan untuk menjalani ini semua.

***

Beberapa hari lagi umurku akan bertambah. Semakin sering aku mengingatnya, semakin sakit hati aku pada kehidupan rasanya. Aku tau jarak umurku dengan Andre tidak terlalu jauh, tetapi tetap saja dia itu lebih muda. Bakan jika itu hanya memiliki 1 hari jaraknya, tetap saja akan menjadi sebuah beban pikiran bagiku, dan aku benci itu.Tapi apa yang dapat aku lakukan? Memalsukan akta kelahiranku hanya demi dia? Sepertinya itu hanya jalan pintas menuju jurang. Mungkin sekarang aku hanya harus belajar menerimanya.
Hari ulang tahun? Apa yang seharusnya aku harapkan dari dia? Sebuah kejutan. Dalam bentuk apa? Pesta, kurasa itu tidak mungkin. Aku tidak seharusnya mengarapkan hal yang muluk-muluk. Cukup dengan ucapan selamat kurasa, itu sudah cukup bagiku. Aku sudah biasa hanya menerima selamat dihari ulang tahunku, termasuk dari sahabatku. Aku tau itu terdengar aneh, mungkin bagi kami memberikan kado ulang tahun bukanlah sebuah tradisi. Hal itu juga terjadi di keluargaku. Tapi, tetap saja sebenarnya aku mengharapkan sebuah perubahan di tahun ini.
Dentingan gitar yang biasa kudengar dari ponselku terdengar lagi sebagai tanda ada sebuah panggilan.
“Hai, Nre...”
“Hallo, SweetHeart.”, walaupun aku telah mendengarnya berkali-kali, tetap saja mendengar suaranya dapat membuatku melupakan semua masalah dari yang besar sampai yang kecil di hatiku. “ Apa yang kau lakukan sekarang?”, sangat formal
“Hanya sedang menghitung hari.”
“Oh... Bagaimana dengan tugas rumahmu?”, aku heran kenapa dia tidak bertanya hari apa yang sedang kuhitung?
“Sudah ku selesaikan. Sekarang aku bebas.”
“Itu bagus. Jadi apa yang akan kita bicarakan malam ini?”
“Aku mau menanyakan sesuatu”
“Silakan”
Diam sejenak, tari nafas, hembuskan, “Ndre, apa kamu ngga bosan sama aku?”
“Apa?”, terdengar jelas nada bingung di dalamnya.
“Iya, aku ngga bisa sebebas teman-teman kamu itu. Aku ngga bisa keluar malam untuk kamu ajak main, aku nggak selalu bisa angkat telpon kamu. Terlalu banyak batasan dalam diri aku. Apa kamu nggak bosan mengadapi aku?”
“Bodoh. Kok kamu bisa mikir sampai kayak gitu ha? Aku udah tau konsekuensi seperti ini sejak lama. Aku udah tau kamu ini orangnya seperti apa, apa yang sepatutnya bisa kamu lakukan dan yang tidak, dan itu tidak menjadi masalah bagiku.”
Senyumku mengembang secara otomatis, “Yah... aku hanya melihat realita yang ada.”, jawabku sedikit lebih pelan karena malu akan pertanyaanku yang sangat-sangat bodoh.
Selanjutnya percakapan kami cuma membahas mengenai hal-hal biasa. Aku berharap semoga saja dia bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa semua batasan yang kumiliki bukanlah sebuah masalah besar baginya. Banyak yang mengatakan tak ada gunanya memegang kata—kata seorang lelaki, itu hanya akan menusukkan sebuah duri di hatimu. Haruskah aku memercayai Andre?

***

Pelajaran Sejarah adalah yang paling membosankan, aku sedang menciptakan lukisan indah ketiga di halaman belakang buku catatanku ketika aku dilempari sebuah kertas kecil oleh temanku. Aku menoleh padanya dengan ekspresi wajah yang memberenggut.
“Apa?” Kataku padanya tanpa mengeluarkan suara. Kemudian dia menunjuk ke arah jendela. Disana aku bisa melihat Diva sedang menggoyang-goyangkan tangannya memanggilku. Segera saja aku maju ke depan kelas dan meminta izin dari guru sejarahku yang membosankan. Sesampainya di luar, aku langsung diseret olah Diva menjauh dari kelasku.
“Kenapa? Ada apa?” Tanyaku bingung pada Diva
“Tidak, aku hanya ingin menyampaikan pesan dari Andre. Dia ingin kau menemui dia di samping sekolah di dekat halte sepulang sekolah nanti.”
“Kenapa?” Tanyaku bingung
“Aku juga tidak tau, yang penting kau harus datang ya. Oh ya, dan pastikan kau hanya datang sendiri.”Jawab Diva. Aku tidak yakin dia tidak mengetahui apa-apa tentang ini, karena tadi aku melihatnya berbicara sambil tersenyum geli yang ditahan. Ada apa sebenarnya ini?

***

Aku tidak yakin harus menemui Andre sekarang, entah kenapa ada sedikit keraguan dalam diriku untuk segera menemuinya.Andre ingin membicarakan sesuatu denganku, apakah ada masalah? Kenapa dia meminta Diva untuk menyampaikan pesannya padaku? Kenapa dia tidak menyampaikannya sendiri secara langsung kepadaku seperti biasa, atau mengirim pesan kepadaku. Oh! Seketika itu juga aku merasa tanganku dingin dan berkeringat. Aku tau kesalahanku, aku tau... Bagaimana... bagaimana jika ternyata Andre... Tidak, aku tidak ingin memikirkan kemungkinan itu.
Tiba-tiba saja ponselku bergetar, aku memang mematikan suaranya tadi di kelas. Aku mengangkat alis saat membaca nama pengirim pesan. Andre.
Apakah aku harus menunggu lebih lama lagi?
Oh tidak. Ternyata dia sudah menungguku. Mau tidak mau aku harus segera menghadapinya. Semoga saja kilasan bayangan tadi tidak akan bener-benar terjadi.
Aku mendapati Andre sedang berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada di bawah halte dan menghadap ke sisi lain dari tempatku berdiri. Sebenarnya halte ini bukanlah tempat tertutup, tempat ini bisa dibilang sangat terbuka. Ia terletak disebelah pagar samping halaman sekolah kami, dan aku yakin semua orang sebenarnya bisa melihat kami dengan sangat jelas kalau saja tidak ada dinding penutup tempat bersandarnya orang-orang yang duduk sambil menunggu bus datang.
“Andre?”Panggilku pelan
Tiba-tiba dia memutar badannya dengan cepat sehingga sekarang kami berdiri berhadapan. “Hai...” katanya sambil tersenyum, senyum yang dapat menyejukkan hatiku seperti biasanya. Baiklah, dia tersenyum. Mungkin ini bukanlah mengenai sesuatu yang buruk.
“Ada apa memanggilku ke sini? Dan kenapa bukan kau sendiri saja yang memanggilku tadi? Kenapa kau meminta Diva yang menyampaikannya kepadaku?”
Lagi-lagi dia tersenyum. “Aku hanya ingin ngobrol denganmu.” Jawabnya singkat. Ini semakin membuatku bingung. Ada yang aneh sedang terjadi di sini. Tiba-tiba senyuman yang sedari tadi terbentuk halus di bibirnya lenyap tak berbekas, lalu kemudian di duduk di halte yang saat itu hanya kami berdua disana. Ia menompangkan berat badannya pada kedua siku yang menumpu di lututnya, dan dia menggenggam kedua tangannya seakan-akan dia sedang memohon. Tanganku kembali dingin karena cemas karena takut bayanganku tadi sepertinya mulai mendekatiku ke alam nyata.
“Ada apa?” tanyaku sambil berusaha membuat suaraku tetap terdengar tenang.
“Ada yang harus kukatakan padamu.”
“Apa itu? Katakan saja.” Tidak, jangan katakan. Kumohon jangan katakan kata-kata itu
Kita...” ia berhenti, dan sekarang itu juga membuatku berhenti menarik nafas karena saking tegangnya aku.
“Aku... “ Tiba-tiba dia berdiri kembali, berhadapan denganku, membuatku kaget dan aku mundur selangkah.
“Selamat ulang tahun, sayang...” Katanya sambil menatap ke mataku, pelan tetapi yakin. Aku melongo mendengarnya dan tidak bisa berkata apa-apa. Melihatku belum memberikan respon untuknya ia mengulangi kata-katanya. “Alice, selamat ulang tahun” katanya lagi sambil tersenyum lebar.
Melihat itu aku terpekik dengan sangat lengking. “Aaaa!!!! Andreee!!!”
“hei ada apa??” Ia bingung sambil memegangi telinganya yang ku yakin berdenging karena teriakanku.
“Ku mohon Andre, jangan lakukan hal ini lagi kepadaku”, jawabku masih histeris
“Hal apa? Selamat dariku?”, tanyanya sangat bingung
“Bukan, jangan pernah membuatku cemas seperti ini lagi. Kau tidak tau betapa takutnya aku tadi. Kusangka kau akan... akan...”
“Mengakhirinya?” aku diam sejenak dan kemudian mengangguk.”Hahaha!!!” Andre tertawa lepas mendengar pemikiranku yang aneh itu.”Kenapa kau bisa berfikiran seperti itu?”
“Karena aku tidak menghubungi mi selama 3 hari terakhir.”
“Oh kau benar, tapi aku juga tidak menghubungimu terlebih dahulu kan? Biasanya kan aku dulu yang memulai. Maafkan aku ya Alice.” Ucap Andre sambil tersenyum kecil kepadaku.
“Kenapa kau meminta maaf?” Andre hanya tersenyum, dan tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak hitam hampir seukuran setengah dari kotak sepatu, menatapnya sejenak, lalu menyodorkannya kepadaku. Aku kaget lalu kembali mundur selangkah.
“Ini untukmu, kado ulang tahun dariku. Kuharap kau suka.” Aku menatapnya sebentar sebelum aku mengulurkan tangan menerima hadiah darinya.
“Aku pasti suka pada apapun yang kau berikan padaku, bahkan sebenarnya kau tidak perlu repot-repot mencarikanku hadiah. Tapi... terima kasih. Terima kasih atas hadiahnya, terima kasih atas kejutan hari ini, terima kasih... karena telah menyayangiku dan sabar menghadapiku.” Aku melihat alis Andre terangkat karena ucapanku tadi, tapi kemudian dia tersenyum.
“Terima kasih kembali. Tapi, sebenarnya ini tidak bisa disebut sebagai kejutan. Awalnya aku ingin memberikan kejutan sesungguhnya padamu. Tapi mengingat aku tidak bisa langsung meninggalkan sekolah hari ini, aku hanya bisa memberimu ini.”
Aku tersenyum mendengarnya,” tidak,ini sudah lebih dari cukup”. Aku tau bahwa Andre harus menjalani latihan sebagai salah satu anggota pengibar bendera, sama seperti Cindy, dan mereka akan mengikuti lomba antar SMA se-kota. Ia sudah berlatih keras selama seminggu terakhir. Aku jadi berfikir, kapan dia mencarikan hadiah untukku kalau jadwalnya saja sepadat itu.
“Alice?”
“Ya?”
Ia menghembuskan nafasnya tanda tidak rela,” aku minta maaf, tapi 10 menit lagi aku harus segera berkumpul untuk latihan itu” katanya dengan nada tulus yang menyesal.
“Oh, itu tidak masalah. Pergilah. Jangan sampai kau dimarahi oleh yang lain” jawabku santai walaupun sebenarnya sedikit kecewa karena akan ditinggalkan pada momen yang langka terjadi dalam hidupku ini. Tapi aku tidak ingin membebani dia.
Andre kembali mengambil hadiah yang berada dalam pelukanku dan meletakkannya di kursi halte. Andre meraih kedua tanganku dengan tangannya, dan kemudian menggenggamnya. “Sekali lagi, Selamat ulang tahun Alice White.” Katanya sambil tersenyum
Aku baru akan membuka mulut menjawabnya ketika aku dikagetkan oleh sorak-sorai yang berasal dari lapangan. Aku menoleh ke arah lapangan dan mendapati orang-orang yang sedang melihat kearah kami sambil berteriak-teriak menyoraki kami yang kedapatan sedang saling berpegangan. Aku baru menyadari bahwa ternyata posisi kami sekarang sudah agak lebih ke ujung halte karena aku yang dari tadi mundur secara perlahan, sehingga sekarang kami tidak lagi terhalangi oleh pembatas halte yang digunakan untuk bersandar. Sekarang kami menjadi tontonan yang disaksikan oleh hampir satu sekolah.
Aku berusaha menarik tanganku dari genggaman Andre. Awalnya dia tidak mau melepaskan, tapi setelah aku memelototinya akhirnya dia melepaskannya juga. Mundur selangkah dan berkata,”Baiklah, aku harus pergi sekarang”

Aku mengangguk , “Terima kasih”, kataku sambil mengambil kembali kado yang diletakkan di atas kursi halte. Andre mengedipkan sebelah matanya sebagai balasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar