Aku hanya banyak diam di kelas setelah
kejadian itu. Aku masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Dari awalnya
Alice kecil menemukan cinta pertamanya yang sayangnya tidak terbalas. Sekarang
cinta pertamanyalah yang malah berpaling kembali dan memilih untuk menyukai si
Alice kecil yang telah tumbuh. Andre kecil telah tumbuh, dan menyukaiku?
Aku
harus berjalan dengan berpegang pada dinding. Aku tidak bisa berjalan lurus lagi. Kejadian itu
benar-benar telah membuatku kacau. Tiba-tiba aku merasakan sebuah cengkeraman
erat di lenganku. Ternyata itu Rachel.
“Kamu
kenapa Alice?”, tanya Rachel.
“Ya
ampun, kamu pucat banget. Kamu kenapa?”, tanya Stella yang ternyata sudah
berada di belakang Rachel.
“Mmm…
Nggak, aku Cuma kecapean aja kok, paling tidur sebentar juga pulih lagi.”
Kataku sambil memaksakan seulas senyum.
“Aku
antar pulang ya… Aku bawa mobil. Ayo, Rach…”, lanjut Stella
Tanpa
persetujuanku, Rachel membopongku menuju mobil Stella. Aku tidak menolaknya,
karena aku memang membutuhkannya. Lagian apa yang harus disegankan kepada
mereka? Mereka adalah sahabat-sahabatku. Yah… Sahabat-sahabatku…
***
Sesampainya
di rumah, aku langsung menuju kamar. Hari ini rumah sunyi seperti biasanya,
Mama dan Papa kerja dan baru akan pulang jika jam sudah menunjukkan jam 9
malam. Aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.
Aku
kembali teringat dengan pembicaraanku dengan Diva tadi di sekolah. Kepalaku
kambali dipenuhi dengan berbagai pertanyaan itu. Satu-satunya jalan untuk
mendapatkan jawabannya hanyalah dengan menanyakan langsung pada Andre. Tapi
bagaimana mungkin? Aku tidak mungkin ke rumahnya, mengetok pintunya, dan ketika
ia membuka pintu aku langsung memuntahkan berbagai pertanyaan aneh, itu pun
jika dia sendiri yang langsung membuka pintu, dan itu akan semakin memalukan
jika ternyata pikiranku tentang anak-anak tenar yang sedang mengerjaiku adalah
benar. Pastinya saat itu dia akan menertawaiku, tertawa
sekencang-kencangnya.
Ringtone
Hp dari Alvin and The Chipmunks yang sangat kukenal bordering. Ada sms masuk.
Aku yakin itu sms dari Rachel atau Stella yang bertanya apa yang sebenarnya
terjadi padakku tadi. Tapi, ternyata aku salah. Ini sms dari Andre!
Alice, tadi kamu kenapa?
Ternyata
aku tak sepenuhnya salah, perkiraanku tentang tema pembicaraan yang ditanyakan
benar, hanya salah perkiraan orang yang menghubungiku.
Kenapa? Maksudnya kenapa apa?
Tadi pulang sekolah aku liat kamu
jalan dipegangi Rachel. Kenapa? Kamu sakit?
Tidak. Aku hanya kecapekan. Kurasa
hanya temanku yang melebih-lebihkan keadaan dengan bahasa tubuhnya.
Sejak
kapan dia peduli tentang keadaanku? Tiba-tiba aku ingat Diva, aku ingat
pembicaraan tadi. Apa aku menanyakan sekarang saja? Tapi, aku takut jika
ternyata itu hanya kebohongan. Tapi, aku tidak mau harus penasaran tentang hal
ini terus. Rasanya di kepalaku ada batu seberat 10 ton. Ya! Aku harus
menanyakannya
Aku
melanjutkan smsku. Andre, aku mau
bertanya sesuatu. Bolehkah?
Tentu.
Tadi aku berbicara dengan Diva.
Aku hanya
mau memberikan clue, aku tidak mau harus langsung berterus terang. Terserah
saja jika dia ingin menganggapku orang yang bertele-tele. Tapi, ternyata
terbukti, dia langsung paham.
Oh… Itu… :P
Apa itu benar?
Mmm… maaf ya… aku tidak sanggup
harus mengatakannya sendiri. Maaf, aku memang cowok yang tidak gentle. Tapi
hanya dalam masalah seperti ini kok. Maaf…
Jadi itu benar?
Ya, Al… itu benar.
Aku serasa
jatuh terhempas dari lantai gedung tertinggi di dunia. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Perasaan kaget,
tidak percaya, semuanya bercampur aduk. Tapi yang ku herankan, ada sedikit
perasaan senang yang menggerogotiku.
Lama kemudian baru aku bisa kembali
ke duniaku, dan membalas sms Andre.
Mmm... Jadi???
Kamu
mau ngga jadi pacar aku?
Serasa tersambar petir aku membaca pesannya
yang satu itu. Tapi, belum sempat aku menekan tombol untuk me-Reply, kembali
masuk 1 pesan.
Aku
tau kamu kaget. Aku sangat tau. Kamu tidak harus menjawabnya sekarang, tapi aku
akan selalu menunggu jawaban darimu.
Tapi
kenapa? Akhirnya kau
membalas.
Kenapa?
Ya...
kenapa kamu –sejenak aku ragu
untuk memilih kata-kata yang tepat- memilih
aku?
Mmm...
sebenarnya aku sudah menunggumu sejak setahun lalu. Pertama kali aku bertemu
denganmu kembali setelah TK, hahaha.. kau ingat kan? Kita ini teman TK...
Yah... saat itu aku merasakan sesuatu, aku melihat sesuatu yang berbeda darimu.
Mungkin itulah yang namanya “Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama”. Mungkin kamu
akan berfikir bahwa aku adalah orang yang suka merayu. Tapi aku memang
merasakannya, Al. Tapi, baru sekaranglah aku berani mengatakannya, meskipun
tidak secara langsung padamu.
Aku
akan memikirkannya terlebih dahulu... jawabku.
Baiklah,
aku akan menunggunya... berjanjilah kamu akan segera memberitahuku jika kamu
sudah mendapatkan jawabannya.
Baiklah...
janjiku.
Percakan pendek secara tak langsung
ini kurasa sudah berhasil membuatku dilema untuk waktu kedepannya. Aku harus
memikirkan apa tindakan yang akan aku ambil, jangan sampai aku salah langkah.
Sejenak aku memikirkan, apakah aku harus memberi tau yang lain? Para
sahabat-sahabatku...
Guys...
aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian besok. Aku tunggu kalian di Sakura
jam 3. Aku mohon kalian bisa mengusahakan untuk datang, OK?
Kenapa
nggak sekarang aja di rumah kamu? Kosong kan? Balas Nancy
Kayaknya
besok aja Nan...
Kenapa?
Aku
butuh waktu.
***
Rasanya aku tidak sanggup pergi ke sekolah hari ini.
Sudah jam 6 tapi aku masih saja menggulung badan di bawah selimut. Ingin
rasanya aku pura-pura sakit.
“Alice!!! Kamu sudah bangun kan?”, teriak mama dari
bawah.
Sejenak aku berfikir untuk tidak menjawab teriakan mama,
agar mama bingung dan segera pergi melihatku ke kamar. Lalu aku akan mengatakan
aku sakit, dan mama kan memberikanku izin untuk tidak sekolah hari ini. Apakah
aku harus menjalankan rencana ini?
“Udah maa!!!”
Tidak! Aku harus tetap sekolah. Aku tidak boleh
membiarkan masalah kecil seperti ini membunuh semangatku. Aku segera bangkit
dari tempat tidurku. Menuju ke kamar mandi. Segera saja sesudah berpakaian rapi
– setidaknya itu menurutku, karena bagi orang lain gayaku masih saja tidak rapi
karena aku berpakaian seadanya, sesuai perayuran sekolah. Sangat membosankan- ,
aku langsung turun ke bawah, menyantap sarapan dan langsung pergi ke sekolah.
Sebenarnya Papa menawarkan untuk mengantarku, namun aku menolak, karena aku mau
memilih jalan yang membutuhkan waktu lebih lama, karena aku membutuhkan waktu itu
untuk mempersiapkan diri jika saja aku bertemu dengannya hari ini.
Keluar dari pagar rumah, aku
berjalan pelan sampai aku menemukan jalan raya. Aku menyetop sebuah Bus. Naik,
dan memilih bangku nomor 3 dan duduk di bangku yang paling dekat dengan jendela.
Sekitar 15 menit lagi aku akan sampai di depan gerbang SMA Kanaya. Aku
merasakan seakan-akan gerbang itu adalah ‘Gerbang Kehancuran’ yang terbuka
lebar untuk kumasuki. Sesudah pembelokan ini, aku akan segera melihat gerbang
itu.
Aku turun dari bus, berjalan pelan
menuju gerbang itu. Namun sekarang aku berfikir, kenapa aku harus menjadi
setakut ini? Dia hanya menyatakan cinta padaku, dia memintaku menjawab, tanpa
menggunakan ancaman akan membunuhku. Tapi kenapa aku sampai takut? Ok, sekarang
bersikaplah seperti biasa...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar