Senin, 28 April 2014

PART 3

Aku hanya banyak diam di kelas setelah kejadian itu. Aku masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Dari awalnya Alice kecil menemukan cinta pertamanya yang sayangnya tidak terbalas. Sekarang cinta pertamanyalah yang malah berpaling kembali dan memilih untuk menyukai si Alice kecil yang telah tumbuh. Andre kecil telah tumbuh, dan menyukaiku?
            Aku harus berjalan dengan berpegang pada dinding. Aku tidak bisa berjalan lurus lagi. Kejadian itu benar-benar telah membuatku kacau. Tiba-tiba aku merasakan sebuah cengkeraman erat di lenganku. Ternyata itu Rachel.
            “Kamu kenapa Alice?”, tanya Rachel.
            “Ya ampun, kamu pucat banget. Kamu kenapa?”, tanya Stella yang ternyata sudah berada di belakang Rachel.
            “Mmm… Nggak, aku Cuma kecapean aja kok, paling tidur sebentar juga pulih lagi.” Kataku sambil memaksakan seulas senyum.
            “Aku antar pulang ya… Aku bawa mobil. Ayo, Rach…”, lanjut Stella
            Tanpa persetujuanku, Rachel membopongku menuju mobil Stella. Aku tidak menolaknya, karena aku memang membutuhkannya. Lagian apa yang harus disegankan kepada mereka? Mereka adalah sahabat-sahabatku. Yah… Sahabat-sahabatku…

***

            Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar. Hari ini rumah sunyi seperti biasanya, Mama dan Papa kerja dan baru akan pulang jika jam sudah menunjukkan jam 9 malam. Aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.
            Aku kembali teringat dengan pembicaraanku dengan Diva tadi di sekolah. Kepalaku kambali dipenuhi dengan berbagai pertanyaan itu. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan jawabannya hanyalah dengan menanyakan langsung pada Andre. Tapi bagaimana mungkin? Aku tidak mungkin ke rumahnya, mengetok pintunya, dan ketika ia membuka pintu aku langsung memuntahkan berbagai pertanyaan aneh, itu pun jika dia sendiri yang langsung membuka pintu, dan itu akan semakin memalukan jika ternyata pikiranku tentang anak-anak tenar yang sedang mengerjaiku adalah benar. Pastinya saat itu dia akan menertawaiku, tertawa sekencang-kencangnya.
            Ringtone Hp dari Alvin and The Chipmunks yang sangat kukenal bordering. Ada sms masuk. Aku yakin itu sms dari Rachel atau Stella yang bertanya apa yang sebenarnya terjadi padakku tadi. Tapi, ternyata aku salah. Ini sms dari Andre!
            Alice, tadi kamu kenapa?
            Ternyata aku tak sepenuhnya salah, perkiraanku tentang tema pembicaraan yang ditanyakan benar, hanya salah perkiraan orang yang menghubungiku.
            Kenapa? Maksudnya kenapa apa?
            Tadi pulang sekolah aku liat kamu jalan dipegangi Rachel. Kenapa? Kamu sakit?
            Tidak. Aku hanya kecapekan. Kurasa hanya temanku yang melebih-lebihkan keadaan dengan bahasa tubuhnya.
            Sejak kapan dia peduli tentang keadaanku? Tiba-tiba aku ingat Diva, aku ingat pembicaraan tadi. Apa aku menanyakan sekarang saja? Tapi, aku takut jika ternyata itu hanya kebohongan. Tapi, aku tidak mau harus penasaran tentang hal ini terus. Rasanya di kepalaku ada batu seberat 10 ton. Ya! Aku harus menanyakannya
            Aku melanjutkan smsku. Andre, aku mau bertanya sesuatu. Bolehkah?
            Tentu.
            Tadi aku berbicara dengan Diva.
            Aku hanya mau memberikan clue, aku tidak mau harus langsung berterus terang. Terserah saja jika dia ingin menganggapku orang yang bertele-tele. Tapi, ternyata terbukti, dia langsung paham.
            Oh… Itu… :P
            Apa itu benar?
            Mmm… maaf ya… aku tidak sanggup harus mengatakannya sendiri. Maaf, aku memang cowok yang tidak gentle. Tapi hanya dalam masalah seperti ini kok. Maaf…
            Jadi itu benar?
            Ya, Al… itu benar.
            Aku serasa jatuh terhempas dari lantai gedung tertinggi di dunia. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Perasaan kaget, tidak percaya, semuanya bercampur aduk. Tapi yang ku herankan, ada sedikit perasaan senang yang menggerogotiku.
            Lama kemudian baru aku bisa kembali ke duniaku, dan membalas sms Andre.
Mmm... Jadi???
            Kamu mau ngga jadi pacar aku?
            Serasa tersambar petir aku membaca pesannya yang satu itu. Tapi, belum sempat aku menekan tombol untuk me-Reply, kembali masuk 1 pesan.
            Aku tau kamu kaget. Aku sangat tau. Kamu tidak harus menjawabnya sekarang, tapi aku akan selalu menunggu jawaban darimu.
            Tapi kenapa? Akhirnya kau membalas.
            Kenapa?
            Ya... kenapa kamu –sejenak aku ragu untuk memilih kata-kata yang tepat- memilih aku?
            Mmm... sebenarnya aku sudah menunggumu sejak setahun lalu. Pertama kali aku bertemu denganmu kembali setelah TK, hahaha.. kau ingat kan? Kita ini teman TK... Yah... saat itu aku merasakan sesuatu, aku melihat sesuatu yang berbeda darimu. Mungkin itulah yang namanya “Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama”. Mungkin kamu akan berfikir bahwa aku adalah orang yang suka merayu. Tapi aku memang merasakannya, Al. Tapi, baru sekaranglah aku berani mengatakannya, meskipun tidak secara langsung padamu.
            Aku akan memikirkannya terlebih dahulu... jawabku.
            Baiklah, aku akan menunggunya... berjanjilah kamu akan segera memberitahuku jika kamu sudah mendapatkan jawabannya.
            Baiklah... janjiku.
            Percakan pendek secara tak langsung ini kurasa sudah berhasil membuatku dilema untuk waktu kedepannya. Aku harus memikirkan apa tindakan yang akan aku ambil, jangan sampai aku salah langkah. Sejenak aku memikirkan, apakah aku harus memberi tau yang lain? Para sahabat-sahabatku...
            Guys... aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian besok. Aku tunggu kalian di Sakura jam 3. Aku mohon kalian bisa mengusahakan untuk datang, OK?
            Kenapa nggak sekarang aja di rumah kamu? Kosong kan? Balas Nancy
            Kayaknya besok aja Nan...
            Kenapa?
            Aku butuh waktu.
***
            Rasanya aku tidak sanggup pergi ke sekolah hari ini. Sudah jam 6 tapi aku masih saja menggulung badan di bawah selimut. Ingin rasanya aku pura-pura sakit.
            “Alice!!! Kamu sudah bangun kan?”, teriak mama dari bawah.
            Sejenak aku berfikir untuk tidak menjawab teriakan mama, agar mama bingung dan segera pergi melihatku ke kamar. Lalu aku akan mengatakan aku sakit, dan mama kan memberikanku izin untuk tidak sekolah hari ini. Apakah aku harus menjalankan rencana ini?
            “Udah maa!!!”
            Tidak! Aku harus tetap sekolah. Aku tidak boleh membiarkan masalah kecil seperti ini membunuh semangatku. Aku segera bangkit dari tempat tidurku. Menuju ke kamar mandi. Segera saja sesudah berpakaian rapi – setidaknya itu menurutku, karena bagi orang lain gayaku masih saja tidak rapi karena aku berpakaian seadanya, sesuai perayuran sekolah. Sangat membosankan- , aku langsung turun ke bawah, menyantap sarapan dan langsung pergi ke sekolah. Sebenarnya Papa menawarkan untuk mengantarku, namun aku menolak, karena aku mau memilih jalan yang membutuhkan waktu lebih lama, karena aku membutuhkan waktu itu untuk mempersiapkan diri jika saja aku bertemu dengannya hari ini.
            Keluar dari pagar rumah, aku berjalan pelan sampai aku menemukan jalan raya. Aku menyetop sebuah Bus. Naik, dan memilih bangku nomor 3 dan duduk di bangku yang paling dekat dengan jendela. Sekitar 15 menit lagi aku akan sampai di depan gerbang SMA Kanaya. Aku merasakan seakan-akan gerbang itu adalah ‘Gerbang Kehancuran’ yang terbuka lebar untuk kumasuki. Sesudah pembelokan ini, aku akan segera melihat gerbang itu.

            Aku turun dari bus, berjalan pelan menuju gerbang itu. Namun sekarang aku berfikir, kenapa aku harus menjadi setakut ini? Dia hanya menyatakan cinta padaku, dia memintaku menjawab, tanpa menggunakan ancaman akan membunuhku. Tapi kenapa aku sampai takut? Ok, sekarang bersikaplah seperti biasa...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar