“Aku... Aku ngga
bisa... Nggak bisa bilang nggak.”
Diam. Belum ada
suara.
“Maksud aku...
Ya! Aku menjawab ya.”. Uh! Apa dia selalu harus selama itu dalam menerima
informasi? Memang sih baru 2 fakta yang aku temukan. Pertama, ketika dia jatuh
dari motornya. Kedua, ya sekarang ini.
“jadi kamu mau
menjadi pacarku?”, tanyanya dengan nada yang mencerminkan keraguan.
“Mmm ya”, hanya
itu yang keluar dari mulutku, aku tidak tau harus bilang apa lagi.
“Benarkah?!”, dia
berbicara terlalu keras hingga aku harus menjauhkan handphone-ku sedikit dari
telingaku sebelum dia membuat telingaku sakit dan sangat jelas perasaan gembira
dari nada bicaranya.
“ya...”, jawabku
dengan sedikit bernada naik, turun, dan naik lagi kemudian diakhiri dengan tawa
semanis mungkin yang bisa kuberikan untuknya karena aku mendengar pertanyaannya
seperti pertanyaan seorang anak kecil yang telah dijanjikan akan di ajak ke
taman bermain impian oleh kedua orang tuanya. Sedetik kemudian pun aku
mendengar teriakannya dari ujung sambungan. Aku kembali tertawa mendengarnya.
Bahagia rasanya bebanku sudah terangkat.
Aku baru sadar,
ternyata aku telah memilih jalan yang tepat. Aku belum pernah merasakan
perasaan seperti ini sebelumnya. Bahagia, haru, banyak sekali energi positif
yang kurasakan. Tampaknya ini akan menjadi semakin baik lagi. Semoga saja...
***
Matahari pagi
mengintip dari balik tirai jendela kamarku sehingga aku terpaksa bangun. Rasanya
mataku masih sangat sangat berat untuk dibuka. Bagaimana tidak, aku baru tidur
selama 3 jam setelah sebelumnya aku menghabiskan waktu yang bisa ku manfaatkan
untuk tidur dengan berbicara dengan Andre semalam. Andre? Tiba-tiba aku
tersenyum sendiri, seperti orang bodoh saja. Tentu saja. Aku teringat kejadian
semalam yang terjadi antara aku dan Andre. Pagi ini aku telah mempunya status
baru. BER-PA-CA-RAN. Yuhuu...!!! tapi, sayang aku tidak bisa benar-benar
meneriakkan teriakan kebahagiaanku. Bisa ribut nanti kalau pagi-pagi aku sudah
berteriak-teriak tidak jelas.
Tapi, aku masih
tetap Alice White. Mengganti status hubungan menjadi berpacaran bukan berarti
aku harus berhenti mandi pagi, sarapan, dan bersekolah. Aku jadi
bertanya-tanya, apa yang akan terjadi di sekolah ya? Apa Andre akan
memberitahukan ini pada teman-temannya? Dan apa respon yang akan aku dapatkan
dari sahabat-sahabatku? Segera saja setelah selesai berpakaian dan sarapan aku
berangkat ke sekolah. Aku harus datang lebih cepat dari biasanya agar aku bisa
bicara sebentar dengan Andre.
Pagi ini papa
tidak bisa mengantarku ke sekolah. Kembali aku harus berjalan menyusuri gang
dan menaiki sebuah bus agar bisa sampai di sekolah.Tapi, sudah 10 menit aku
menunggu bus, tidak ada juga yang datang. Itu terlalu lama.
“Halo, Andre?”
“Pagi...”, jawab
Andre ceria.
“Pagi. Ndre, kamu
udah nyampe sekolah?”
“Belum, kenapa?
Mau aku jeput? Kenapa kamu ngos-ngosan gitu?”
“Nggak, nggak
kenapa-napa, dan ngga usah jeput aku. Aku cuma mau nanya, kamu udah ngasi tau
teman-teman kamu?”
“Tentang?”
Uh... haruskah
aku mengatakannya?, “Tentang... ki-ta”
“Oh... belum. Eh,
udah. Diva udah tau. Kenapa?”
“yaah... aku sih
berharap ngga usah ada yang tau dulu. Aku maunya biar orang tau sendiri aja.
Aku nggak tahan kalau sampai mereka ngetawain aku.”. tepat saat itu aku melihat
bus dari kejauhan. Setelah dekat, aku memberhentikannya dan naik.
“ngetawain?”
“yah, kamu tau
maksud aku. Ngetawain aku dan mungkin juga kamu karena baru jadian.”
“oh... kamu ngga
usah khawatir. Diva orangnya bisa dipercaya kok. Tapi kalau aku ngasih tau
teman-teman dekat boleh dong?”
“mungkin kita
bisa bikin kesepakatan. Aku juga mau ngasih tau teman-teman dekat. Nggak
mungkin tahan kalo harus sendiri.”
“kan ada aku...”
“Ih... serius.”
“iya iya... aku
ngerti kok. Yakin nggak mau di jeput nih?”
“nggak usah. Aku
juga udah di bus kok.”
“ya udah, sampe
ketemu di sekolah ya sweet heart.”
“apa tadi?”
“sweet heart.
Boleh dong?”
“boleh, tapi
tidak di depan teman-teman.”, kataku dengan melakukan penekanan pada kata
‘tidak’.
“Deal!”
“OK, bye...”
***
Entah mengapa aku
merasa hari ini terlalu cerah. Terlalu banyak senyum yang kuumbar hari ini yang
mungkin saja mengakibatkan orang yang melihat akan berfikir bahwa aku adalah
seorang gadis aneh. Aku juga yakin mereka akan langsung melihat nama atau label
sekolahku dan kemudian bertanya-tanya sendiri, kenapa SMA Kanaya yang bagus dan
populer itu mau menerima siswi aneh seperti aku.
Tapi, terserah
pada apa yang sedang mereka pikirkan. Yang penting hari ini bagiku adalah hari
yang baru, dan aku harus segera memberitahukan berita gembira ini pada
sahabat-sahabat tercintaku. Beggitu memasuki lorong menuju kelas, aku tidak
langsung menuju ke kelasku, aku menyinggahi satu per satu kelas teman-temanku.
Tapi sayang sekali, tidak satupun diantara mereka berada di kelas sekarang, ada
yang sedang pergi keluar dan ada juga yang belum datang. Mungkin aku harrus
menunggu 10 menit sebelum bel berbunyi, aku yakin mereka sudah ada di kelas
saat itu. Sekarang aku ingat, tadi aku berencana untuk menemui Andre, apakah
aku harus melakukannya sekarang? Maksudku, hal yang akan aku tanyakan sudah
terjawab di telepon tadi, atau apakah aku haris menyinggahi kelasnya setiap
pagi mulai dari hari ini sebagai perwujudan dari posisi sebagai pacar yang
baik? Bisa dibilang sebagai apel pagi. Tapi kurasa tidak sepantasnya seorang
perempuan yang mendatangi ‘lelakinya’ terlebih dahulu. Kalau Andre bisa
berfikir, ia pasti akan melakukannya dengan sendirinya.
10 menit sebelum
bel, aku harus mencari mereka sekarang. Mungkin yang terdekat aku harus mencari
Rachel dulu. Sambil mikirkan kata-kata apa yang cocok untuk menggambarkan
situasi ini sehingga mereka akan bisa merasakan kebahagian yang kini kurasakan,
aku berjalan ke arah pintu dan terhenti 3 langkah sebelum sampai disana.
“Hai...”, sapa
Andre dengan senyumannya yang secerah mentari pagi ini.
“Hai...”, sapaku
balik dengan manis. Sekarang aku sadar, ternyata Andre menjalankan tugasnya
sebagai seorang pacar dengan baik di hari pertamanya. Oke, nilai A di hari
pertama. “Ada apa?”
“Tidak, hanya
ingin melihat keadaan...”, Ia berhenti sejenak,”...Mu.”. Yah aku tau apa yang
akan dikatakannya.
“Wow, baik sekali”, kataku tulus,”Jadi sekarang kau tau aku baik-baik saja. Lalu?”
“Wow, baik sekali”, kataku tulus,”Jadi sekarang kau tau aku baik-baik saja. Lalu?”
“Kau ada kegiatan
pagi ini?”
“Aku ingin
menemui teman-temanku.”, jawabku sambil tersenyum
“Ingin
memberitahukannya?”
“Yah,
begitulah...”
Terdengar tawanya
yang renyah,”Baiklah kalau begitu, aku juga akan menemui temna-temanku.” Dan
dia berlalu begitu saja.
Tapi, sejenak
kemudian aku jadi ragu, apakah masih sempat berkumpul dengan mereka semua dalam
waktu 5 menit? Mungkin aku harus menundanya pada jam istirahat pertama. Aku
mengirimkan pesan singkat kepada mereka untuk berkumpul di balkon lantai 2
sekolah saat istirahat nanti. Mungkin itu bisa menghemat waktu.
***
“Al... Aku liat
kamu tadi pagi ngomong sama Andre.”,Stella bicara blak-blakan
Yah, seperti yang
kuduga. Semoa orang yang mengelilingiku saat ini memasang tampang curiga
kepadaku.
“Hehehehehe...”,
hanya tawa buatan yang dapat kubunyikan dan secara refleks tanganku naik ke
kepala dan menggaruk bagian yang tidak gatal sama sekali.
Aw! Aku merasakan
sebuah hantaman kecil menghantam kepalaku dan kemudian diikuti dengan teriakan,
cubitan, dan gelitik yang datang dari teman-temanku ini. Ternyata semua
kata-kata yang kurancang dari tadi pagi tidak ada gunanya, dan aku senang
mereka senang mendengar kabar ini. Tak ada lagi kata-kata yang pas untuk
menggambarkan betapa sempurnanya hari ini. Rasnya aku ingin berteriak
sekencang-kencangnya bersama dengan teman-temanku melepaskan semua kegembiraan
ini, dan membiarkan seluruh dunia tau bahwa hal indah telah terjadi di hidupku,
dan kemudian akan kubiarkan mereka semua iri kepadaku.
“Yeee!!! Makan
gratis!!!”, teriak Rachel dan Cindy serempak
“Aaa... Kalian
maunya makan gratis doang.”, jawabku
“Kan kita harus
ada perayaan kecil-kecilan atas prestasi yang telah kamu dapatkan.”, jawab
Rachel
“Prestasi apa?!”,
kataku sedikit bingung
“Kan kamu
berhasil membawa Andre ke pelukanmu? Eh, pake mantra apaan sih? Aku juga mau
dong.”, jawab Rachel
“Ish... kenapa?
Mau? Buat Paruga yaa?”, rayuku pada Rachel. Semuanya tertawa melihat Rachel
yang senyum-senyum masam karena ejekanku.
***
Hari ini aku
pulang diantar oleh Stella setelah mereka semua berhasil menguras habis
kantongku. Aku tak berdaya kalau mereka meminta seperti itu. Yah, hitung-hitung
sebagai perayaan dan rasa syukurku karena aku akhirnya mendapatkan apa yang aku
inginkan di dunia ini. Semua orang berkata kita pasti akan sangat kesulitan
melupakan cinta pertama, karena itu akan sangat sangat sangat membekas di hati,
sangat susah di hapus. Dulu aku cemas bahwa aku harus mengalami masa-masa kelam
seperti itu, karena aku sangat tau bahwa aku tidak akan mungkin mendapatkan
Andre. Ternyata aku salah, sekarang aku tidak perlu lagi mencemaskan hal itu,
karena sekarang aku bersamanya. Dan aku berharap, aku bisa bersamanya...
selamanya.
Sekarang ada
masih banyak hal yang tidak aku ketahuai mengenai cara berpacaran ini. Seperti,
jika bertemu dengannya bagaimana seharusnya aku menyapanya? Haruskah aku duluan
yang menyapa? Atau aku harus menunggu dia menyapa terlebih dahulu? Lalu, topik
pembicaraan apa yang seharusnya aku ambil? Aku harus bertanya pada seseorang,
tapi pada siapa? Stella? Lagi? Ah... aku terlalu malu, terlalu jelas bahwa
tidak memiliki pengalaman sama sekali. Diva? Biasa-bisa dia langsung
membocorkannya pada Andre. Baiklah, Just
ask your own heart. Kalau dia bilang menyukaiku, berarti dia menyukai
keseluruhan yang ada padaku, termasuk gayaku. Dia menerimaku apa adanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar