Senin, 28 April 2014

PART 6

“Aku... Aku ngga bisa... Nggak bisa bilang nggak.”
Diam. Belum ada suara.
“Maksud aku... Ya! Aku menjawab ya.”. Uh! Apa dia selalu harus selama itu dalam menerima informasi? Memang sih baru 2 fakta yang aku temukan. Pertama, ketika dia jatuh dari motornya. Kedua, ya sekarang ini.
“jadi kamu mau menjadi pacarku?”, tanyanya dengan nada yang mencerminkan keraguan.
“Mmm ya”, hanya itu yang keluar dari mulutku, aku tidak tau harus bilang apa lagi.
“Benarkah?!”, dia berbicara terlalu keras hingga aku harus menjauhkan handphone-ku sedikit dari telingaku sebelum dia membuat telingaku sakit dan sangat jelas perasaan gembira dari nada bicaranya.
“ya...”, jawabku dengan sedikit bernada naik, turun, dan naik lagi kemudian diakhiri dengan tawa semanis mungkin yang bisa kuberikan untuknya karena aku mendengar pertanyaannya seperti pertanyaan seorang anak kecil yang telah dijanjikan akan di ajak ke taman bermain impian oleh kedua orang tuanya. Sedetik kemudian pun aku mendengar teriakannya dari ujung sambungan. Aku kembali tertawa mendengarnya. Bahagia rasanya bebanku sudah terangkat.
Aku baru sadar, ternyata aku telah memilih jalan yang tepat. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Bahagia, haru, banyak sekali energi positif yang kurasakan. Tampaknya ini akan menjadi semakin baik lagi. Semoga saja...

***

Matahari pagi mengintip dari balik tirai jendela kamarku sehingga aku terpaksa bangun. Rasanya mataku masih sangat sangat berat untuk dibuka. Bagaimana tidak, aku baru tidur selama 3 jam setelah sebelumnya aku menghabiskan waktu yang bisa ku manfaatkan untuk tidur dengan berbicara dengan Andre semalam. Andre? Tiba-tiba aku tersenyum sendiri, seperti orang bodoh saja. Tentu saja. Aku teringat kejadian semalam yang terjadi antara aku dan Andre. Pagi ini aku telah mempunya status baru. BER-PA-CA-RAN. Yuhuu...!!! tapi, sayang aku tidak bisa benar-benar meneriakkan teriakan kebahagiaanku. Bisa ribut nanti kalau pagi-pagi aku sudah berteriak-teriak tidak jelas.
Tapi, aku masih tetap Alice White. Mengganti status hubungan menjadi berpacaran bukan berarti aku harus berhenti mandi pagi, sarapan, dan bersekolah. Aku jadi bertanya-tanya, apa yang akan terjadi di sekolah ya? Apa Andre akan memberitahukan ini pada teman-temannya? Dan apa respon yang akan aku dapatkan dari sahabat-sahabatku? Segera saja setelah selesai berpakaian dan sarapan aku berangkat ke sekolah. Aku harus datang lebih cepat dari biasanya agar aku bisa bicara sebentar dengan Andre.
Pagi ini papa tidak bisa mengantarku ke sekolah. Kembali aku harus berjalan menyusuri gang dan menaiki sebuah bus agar bisa sampai di sekolah.Tapi, sudah 10 menit aku menunggu bus, tidak ada juga yang datang. Itu terlalu lama.
“Halo, Andre?”
“Pagi...”, jawab Andre ceria.
“Pagi. Ndre, kamu udah nyampe sekolah?”
“Belum, kenapa? Mau aku jeput? Kenapa kamu ngos-ngosan gitu?”
“Nggak, nggak kenapa-napa, dan ngga usah jeput aku. Aku cuma mau nanya, kamu udah ngasi tau teman-teman kamu?”
“Tentang?”
Uh... haruskah aku mengatakannya?, “Tentang... ki-ta”
“Oh... belum. Eh, udah. Diva udah tau. Kenapa?”
“yaah... aku sih berharap ngga usah ada yang tau dulu. Aku maunya biar orang tau sendiri aja. Aku nggak tahan kalau sampai mereka ngetawain aku.”. tepat saat itu aku melihat bus dari kejauhan. Setelah dekat, aku memberhentikannya dan naik.
“ngetawain?”
“yah, kamu tau maksud aku. Ngetawain aku dan mungkin juga kamu karena baru jadian.”
“oh... kamu ngga usah khawatir. Diva orangnya bisa dipercaya kok. Tapi kalau aku ngasih tau teman-teman dekat boleh dong?”
“mungkin kita bisa bikin kesepakatan. Aku juga mau ngasih tau teman-teman dekat. Nggak mungkin tahan kalo harus sendiri.”
“kan ada aku...”
“Ih... serius.”
“iya iya... aku ngerti kok. Yakin nggak mau di jeput nih?”
“nggak usah. Aku juga udah di bus kok.”
“ya udah, sampe ketemu di sekolah ya sweet heart.”
“apa tadi?”
“sweet heart. Boleh dong?”
“boleh, tapi tidak di depan teman-teman.”, kataku dengan melakukan penekanan pada kata ‘tidak’.
“Deal!”
“OK, bye...”

***

Entah mengapa aku merasa hari ini terlalu cerah. Terlalu banyak senyum yang kuumbar hari ini yang mungkin saja mengakibatkan orang yang melihat akan berfikir bahwa aku adalah seorang gadis aneh. Aku juga yakin mereka akan langsung melihat nama atau label sekolahku dan kemudian bertanya-tanya sendiri, kenapa SMA Kanaya yang bagus dan populer itu mau menerima siswi aneh seperti aku.
Tapi, terserah pada apa yang sedang mereka pikirkan. Yang penting hari ini bagiku adalah hari yang baru, dan aku harus segera memberitahukan berita gembira ini pada sahabat-sahabat tercintaku. Beggitu memasuki lorong menuju kelas, aku tidak langsung menuju ke kelasku, aku menyinggahi satu per satu kelas teman-temanku. Tapi sayang sekali, tidak satupun diantara mereka berada di kelas sekarang, ada yang sedang pergi keluar dan ada juga yang belum datang. Mungkin aku harrus menunggu 10 menit sebelum bel berbunyi, aku yakin mereka sudah ada di kelas saat itu. Sekarang aku ingat, tadi aku berencana untuk menemui Andre, apakah aku harus melakukannya sekarang? Maksudku, hal yang akan aku tanyakan sudah terjawab di telepon tadi, atau apakah aku haris menyinggahi kelasnya setiap pagi mulai dari hari ini sebagai perwujudan dari posisi sebagai pacar yang baik? Bisa dibilang sebagai apel pagi. Tapi kurasa tidak sepantasnya seorang perempuan yang mendatangi ‘lelakinya’ terlebih dahulu. Kalau Andre bisa berfikir, ia pasti akan melakukannya dengan sendirinya.
10 menit sebelum bel, aku harus mencari mereka sekarang. Mungkin yang terdekat aku harus mencari Rachel dulu. Sambil mikirkan kata-kata apa yang cocok untuk menggambarkan situasi ini sehingga mereka akan bisa merasakan kebahagian yang kini kurasakan, aku berjalan ke arah pintu dan terhenti 3 langkah sebelum sampai disana.
“Hai...”, sapa Andre dengan senyumannya yang secerah mentari pagi ini.
“Hai...”, sapaku balik dengan manis. Sekarang aku sadar, ternyata Andre menjalankan tugasnya sebagai seorang pacar dengan baik di hari pertamanya. Oke, nilai A di hari pertama. “Ada apa?”
“Tidak, hanya ingin melihat keadaan...”, Ia berhenti sejenak,”...Mu.”. Yah aku tau apa yang akan dikatakannya.
            “Wow, baik sekali”, kataku tulus,”Jadi sekarang kau tau aku baik-baik saja. Lalu?”
“Kau ada kegiatan pagi ini?”
“Aku ingin menemui teman-temanku.”, jawabku sambil tersenyum
“Ingin memberitahukannya?”
“Yah, begitulah...”
Terdengar tawanya yang renyah,”Baiklah kalau begitu, aku juga akan menemui temna-temanku.” Dan dia berlalu begitu saja.
Tapi, sejenak kemudian aku jadi ragu, apakah masih sempat berkumpul dengan mereka semua dalam waktu 5 menit? Mungkin aku harus menundanya pada jam istirahat pertama. Aku mengirimkan pesan singkat kepada mereka untuk berkumpul di balkon lantai 2 sekolah saat istirahat nanti. Mungkin itu bisa menghemat waktu.

***

“Al... Aku liat kamu tadi pagi ngomong sama Andre.”,Stella bicara blak-blakan
Yah, seperti yang kuduga. Semoa orang yang mengelilingiku saat ini memasang tampang curiga kepadaku.
“Hehehehehe...”, hanya tawa buatan yang dapat kubunyikan dan secara refleks tanganku naik ke kepala dan menggaruk bagian yang tidak gatal sama sekali.
Aw! Aku merasakan sebuah hantaman kecil menghantam kepalaku dan kemudian diikuti dengan teriakan, cubitan, dan gelitik yang datang dari teman-temanku ini. Ternyata semua kata-kata yang kurancang dari tadi pagi tidak ada gunanya, dan aku senang mereka senang mendengar kabar ini. Tak ada lagi kata-kata yang pas untuk menggambarkan betapa sempurnanya hari ini. Rasnya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya bersama dengan teman-temanku melepaskan semua kegembiraan ini, dan membiarkan seluruh dunia tau bahwa hal indah telah terjadi di hidupku, dan kemudian akan kubiarkan mereka semua iri kepadaku.
“Yeee!!! Makan gratis!!!”, teriak Rachel dan Cindy serempak
“Aaa... Kalian maunya makan gratis doang.”, jawabku
“Kan kita harus ada perayaan kecil-kecilan atas prestasi yang telah kamu dapatkan.”, jawab Rachel
“Prestasi apa?!”, kataku sedikit bingung
“Kan kamu berhasil membawa Andre ke pelukanmu? Eh, pake mantra apaan sih? Aku juga mau dong.”, jawab Rachel
“Ish... kenapa? Mau? Buat Paruga yaa?”, rayuku pada Rachel. Semuanya tertawa melihat Rachel yang senyum-senyum masam karena ejekanku.

***

Hari ini aku pulang diantar oleh Stella setelah mereka semua berhasil menguras habis kantongku. Aku tak berdaya kalau mereka meminta seperti itu. Yah, hitung-hitung sebagai perayaan dan rasa syukurku karena aku akhirnya mendapatkan apa yang aku inginkan di dunia ini. Semua orang berkata kita pasti akan sangat kesulitan melupakan cinta pertama, karena itu akan sangat sangat sangat membekas di hati, sangat susah di hapus. Dulu aku cemas bahwa aku harus mengalami masa-masa kelam seperti itu, karena aku sangat tau bahwa aku tidak akan mungkin mendapatkan Andre. Ternyata aku salah, sekarang aku tidak perlu lagi mencemaskan hal itu, karena sekarang aku bersamanya. Dan aku berharap, aku bisa bersamanya... selamanya.

Sekarang ada masih banyak hal yang tidak aku ketahuai mengenai cara berpacaran ini. Seperti, jika bertemu dengannya bagaimana seharusnya aku menyapanya? Haruskah aku duluan yang menyapa? Atau aku harus menunggu dia menyapa terlebih dahulu? Lalu, topik pembicaraan apa yang seharusnya aku ambil? Aku harus bertanya pada seseorang, tapi pada siapa? Stella? Lagi? Ah... aku terlalu malu, terlalu jelas bahwa tidak memiliki pengalaman sama sekali. Diva? Biasa-bisa dia langsung membocorkannya pada Andre. Baiklah, Just ask your own heart. Kalau dia bilang menyukaiku, berarti dia menyukai keseluruhan yang ada padaku, termasuk gayaku. Dia menerimaku apa adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar