Senin, 28 April 2014

PART 9

Pagi ini hujan begitu deras dan itu cukup membuatku kesal. Sudah jelas Andre tak akan menjeputku pagi ini. Mmm kurasa ini adalah saat yang tepat bagiku untuk kembali pada teman-temanku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa agak jauh dari mereka. mungkin karena beberapa hari belakangan aku disibukkan dengan lomba paski dan padus itu. Semoga saja mereka tidak menganggap aku melakukan semua itu dengan sengaja. Karena pengorbanan mereka untuk sabar menghadapiku tidak sia-sia. Untuk lomba paduan suara kami berhasil mendapatkan peringkat pertama, mempertahankan prestasi SMA Kanaya dari tahun kemarin. Sedangkan Paski walaupun hanya mendapatkan kedua, kami tetap senang dan bangga karena perjuangan kami masi diapresiasi oleh tim penilai dan para penonton. Aku jadi ingat euphoria saat hasil lomba diumumkan.
“Alice! Sarapan sudah siap. Ayo turun.”, terdengar teriakan Mom dari bawah.
“Iya maa...”
Saat aku sedang menghabiskan sarapanku, handphoneku berdering.
“Halo?”
“Pagi sweetheart. Pagi yang cerah yaa...”
“Yaa.. cerah sekali.”, jawabku malas-malasan. “Nggak masalah kok Ndre. Aku naik bis aja.”, langsung kataku karena tau maksud ia meneleponku.
“Oke. Hati-hati yaa... pake payung dan jaket.”
“Iyaa say-... Ndree.” Aku lupa aku sedang dimeja makan bersama Mom dan Dad. Dan aku tau Dad melirik ke arahku. “Oke Bye Ndree”. Aku langsung menutup telepon.
“Tidak baik menerima telepon ketika kita sedang makan. Kau tau itu kan Alice?”, Dad langsung berkata tepat ketika aku baru memencet tombol End.
“Sorry Dad...”

***

Aku memasuki gerbang sekolah dengan jaket soft pink dan payung bening. Lumayan dingin pagi ini, but I love Rain. Dari kejauhan aku bisa melihat Stella. Aku ingin berteriak memanggilnya tapi terlalu banyak orang disini. Jadi aku hanya mempercepat langkahku. Stella dalam balutan jaket hitam dan payung kuning berjalan sambil memeluk diri sendiri dengan langkah yang agak dipercepat. Aku memegang bahunya dan iapun menoleh.
“hai”, katanya. “sendirian?”
“iya”, kataku
“tumben, Andre nggak bisa jeput ya?”, hei... aku tidak suka irama perkataannya. Mungkin karena iya sedang kedinginan.
“Ya udah, kita masuk sekarang ya. Dingin kan?”
Kami mempercepat langkah sampai masuk ke gedung utama. Melepas jaket dan berpisah. Selama diperjalanan tanpa kusadari aku sudah mulai bermenung. Kenapa Stella bicara seperti itu? Alasan bahwa ia kedinginan masih tidak masuk akal bagiku. Apa aku telah melakukan kesalahan ya? Aku mulai me-review kegiatanku belakangan ini, tapi yang bisa kulihat hanyalah adegan aku sedang latihan bersama anak-anak paduan suara. “Astaga... apa hanya itu yang kulakukan?” ucapku lebih pada diri sendiri. Lalu aku mulai berpikir kembali kapan terakhir kalinya aku berkomunikasi dengan mereka. dan akhirnya aku sadar bahwa itu sudah sangat lama. Sekitar seminggu yang lalu, karena mulai saat itulah latihan kami menjadi sangat intensif dari biasanya.
Setelah berhasil mengutuk diriku sendiri aku memutuskan untuk langsung ke kelas Rachel. Tapi mataku langsung terpaku pada pasangan asing yang berdiri di depan kelas Stella. Cewek yang berdiri membelakangiku itu masih menyandang ranselnya yang tertutup sebagian oleh jaketnya yang digantungkan dibahunya. Hei! Aku kenal jaket itu. Stella? Apa itu memang Stella? Aku terus berjalan sambil terus memperhatikan mereka. dan ketika jarak kami sudah cukup dekat, aku rasa aku bisa mengeluarkan mataku dengan mudah saat ini. Itu memang Stella! Apa yang dia lakukan bersama...Erik? Hei apa yang terjadi disini? Stella kenapa tersenyum kamu dan terkesan malu-malu begitu? Sesaat ia melihatku dan matanya langsung membulat terlihat kaget, tapi kurasa pasti tidak sekaget saat aku melihat mereka. Stella langsung melemparkan senyuman kaku padaku.
Aku sangat bingung saat ini, maka dari itu aku langsung berlari menuju kelas rachel untuk minta penjelasan. Kenapa begitu banyak perubahan hanya dalam waktu seminggu? Oke, ini tidak banyak. Hanya satu. Tapi kenapa begitu drastis? Sampai di kelas Rachel aku langsung menghampirinya dan menyeretnya keluar.
“Hai” tukasnya
“hai. Ituu... ituu... Stella.” Ucapku tak jelas sambil menunjuk-nunjuk ke arah kelasnya. Aku tak tau harus berkata apa.
“iih.. apaan sih?”
“itu anak kenapa bisa bicara ama si Erik?”
Rachel melongokan kepalanya melewati kepalaku. “ooh... ya gitu deh...”
“lho? Kok gitu deeh? Jelasin doong?”
“yaa kayanya mereka udah deket gitu.”
Alisku mengerut. “sejak kapan?”
“hmm... mungkin 4 hari yang lalu” nada suaranya yang menaik menandakan ia pun tak tau pasti. “waktu itu kan kita lagi ngumpul berempat, trus si Erik da...”
“ooh...” mendadak aku tak mau mendengar penjelasan rachel lagi. tak tau kenapa mendadak aku merasa sedih. “Ntar lagi bel. Aku balik ke kelas dulu ya.” Tanpa menunggu respon dari Rachel aku langsung membalikkan badan dan berjalan menjauh. Aku tidak melewati rute yang tadi, aku lebih memilih jalan memutar menuju kelasku. Aku hanya sedang tidak mau melihat wajah teman-temanku.

***

Saat jam istirahat aku sudah nangkring di depan kelas nancy yang berada tepat didepan kelasku. Saat ia keluar dan melihatku, kami sama-sama tersenyum. Langsung saja kami ke tempat yang lain. Ya, aku sudah bisa mengontrol emosiku.  Aku melihat Stella rachel dan Cindy berdiri di dekat balkon. Kami mulai berbicang-bincang tentang hal-hal gaje seperti biasanya. Tapi, lama-lama aku mulai tidak mengerti arah pembicaraan mereka. aku jadi kebanyakan diam. Akhirnya aku membuka handphone ku untuk mencari kesibukan. Hei ada pesan. Dari Kak Qoy. Pemimpin Paduan Suara yang sekarang sudah menginjak kelas XII. SMS yang masuk kira-kira sejam yang lalu itu menanyakan dimana keberadaanku sekarang. Langsung saja aku memecet tombol call dan mundur sedikit dari perkumpulanku.
“Hallo Alice?”
“ya kak ada apa?”
“Kakak tunggu di kelas kakak sekarang juga ya Al.”
“sekarang?”
“Yup”
“Ok. Ngapain sih kak?”
“Udah kesini aja. Udah yaa. Bye!” kak Qoy langsung menutup Telepon.
Aku berpaling pada teman-temanku, “Guys, aku ke kelas kak Qoy bentar ya.”
“ngapain?” kata Cindy
Aku Cuma mengangkat bahuku menandakan bahwa aku juga tidak tau. Melihat tidak ada reaksi lain aku langsung berjalan. Tapi kenapa aku merasa mereka masih menatapku? Bukan tatapan baik kurasa.

***

Sesampainya aku di rumah, aku membuka Netbook-ku dan mencari Jeanitha d skype, siapa tau dia sedang online. Tapi nihil. Jadilah aku hanya mengirimkan e-mail padanya.
To                    : agrjeanitha@gmail.com
Subject           :

Hai jen? Apa kabar? Kabar baik doong... aku disini baik-baik aja, and nggak baik-baik aja. Lomba yang aku ikutin bareng Andre alhamdulillah dapat juara jen. Itu bawa pengaruh baik banget buat aku di lingkungan sosial aku disini. Tapi kayanya mulai mengganggu hubungan aku sama teman-teman yang lain.
Apa aku terlalu nyuekin mereka? tapi harusnya mereka paham dong kalau aku lagi berusaha buat fokus untuk lomba pertama yang aku ikutin di masa SMA ini. Masa cuma gara-gara itu mereka jadi marah? Tadi aku udh berusaha mendekatkan diri sama mereka. tapi ntah kenapa rasanya ada yang janggal dari sikap mereka ke aku. Aku nggak tau harus gimana sama mereka. apa benar mereka mempermasalahkan itu atau ada hal lain yang aku ketahui?
Cuma dalam seminggu rasanya terlalu banyak perubahan jen. Stella tau-tau aja udah deket sama Erik. Erik itu anak fotografi sekolah. Dia nggak terkenal-terkenal amat sih, tapi lumayan cakep. Tapi aku Cuma tau itu, aku nggak bisa dapat informasi lebih lagi. Aku jadi merasa terasingkan dari mereka jen.
Aku tau.. inti dari semua ini adalah komunikasi. Aku bakal coba tapi nggak tau kapan

Love and miss ya Jen

***

Pagi ini aku dijeput Andre lagi. Mood ku belum juga kembali 100%. Kalu kulihat moodnya Andre juga tidak begitu baik hari ini. Itu sedikit menolongku, karena tidak akan ada pertanyaan –pertanyaan yang akan mengusikku. Tapi ini sedikit menggangguku melihat Andre seperti ini.
Langit pagi ini sangat biru. Membuatku sedikit tenang memandanginya selama perjalanan menuju sekolah. Aku mulai berpikir lagi. Apa yang harus aku lakukan jika nanti bertemu mereka. aku harus segera bicara dengan mereka, atau kalau tidak aku akan disidang dalam sebuah meja batu bundar dekat kantin. Hal paling kuwanti-wanti jika itu terjadi adalah sesi tangis-tangisan, walaupun biasanya saat itu terjadi kami semua akan cuek bebek dengan lingkungan kami.
Pemandangan langit biruku tiba-tiba dilintasi oleh gapura yang berada di gerbang sekolah dan ini berarti aku sudah sampai di sekolah. Tiba-tiba saja aku meminta Andre berhenti disitu. “Ndre, aku berhenti disini.”
“Kenapa?”
Kenapa? Aku juga nggak tau “Hmm... aku mauu... ah! Ke Perpus. Aku mau cari buku disana. Kamu duluan aja.” Untung saja aku melihat papan yang menandakan adanya perpustakaan disekitar sini. “Bye”. Andre kembali melajukan motornya menuju singgasana motornya di pelataran parkir depan gedung utama.
Dulu waktu SMP perpustakaan adalah salah satu tempat favoritku untuk menyendiri karena disana sangat sepi. Memang sih pepustakaan di sini tidak sesepi yang d SMP, tapi ini kan masi pagi. Siapa sih yang mau ke perpustakaan pagi-pagi begini? Akulah orangnya.
Begitu memasuki pintu perpustakaan sang guru perpus mencegatku dan mengetuk-ngetuk sebuah buku di depannya. Oh? Jadi disini harus pake absen yaa? Aku meraih bolpoin yang tergeletak disamping buku dan mulai menulis tanggal dan hari hari ini, nama, kelas, dan tujuan? Tujuan ke perpustakaan ya pasti berhubungan dengan buku lah. Nggak mungkin aku ke sini mau pesan bakso kan? Aku membolak-balik kertas tersebut untuk melihat tujuan yang dituliskan pengunjung lain. Ok. Berkunjung. Simple sekali. Tanda tangan dan selesai.
“saya sudah boleh masuk kan buk?”
“silakan” tukas si ibu.
Aku menelusuri setiap sudut perpustakaan ini untuk menemukan tempat paling nyaman disini. Dan aku menemukannya berada di dekat pintu balkon, disana terdapat sebuah meja dengan banyak kursi. Kalau ada banyak orang disana pasti akan sangat menyebalkan. Tapi saat ini tempat itu kosong. Aku langsung duduk berusaha menyamankan posisiku. Perpustakaan ini memang terletak di lantai dua. Sedangkan lantai satunya dipakai sebagai ruangan majelis guru. Tak jarang sebenarnya banyak juga yang takut ke perpustakaan karena ia harus melewati kantor majelis guru terlebih dahulu. Dan itu berarti ia harus berpakain yang baik dan benar.
Disini sangat nyaman aku bisa melihat langit dan pepohonan disini tanpa dihalangi lalu lalangnya manusia baru gede yang baru nyampe sekolah. Aku merebahkan kepalaku di atas meja tak beralas itu sambil terus memandang pepohonan yang bergoyang seirama dihembus sejuknya udara pagi. Namun tetap saja semua itu mengingatkan ku pada teman-teman.
Apa mereka menganggap aku telah mencampakkan mereka karena telah memiliki teman baru, yaitu anak-anak paduan suara dan paskibra. Jadi apakah aku harus selalu melaporkan apa saja kegiatanku dengan mereka kapan pun dan dimana pun? Apa itu yang mereka mau? Cuma seminggu apakah mereka tidak bisa bersabar?
Bel sekolah membuyarkan lamunanku yang belakangan aku ketahui telah membuatku memonyongkan bibirku beberapa senti kedepan. Aku segera berdiri dari kursi nyamanku, berjalan menuju pintu, berpamitan dengn ibu perpus sekedarnya dan meraih tasku di loker penitipan tas.

***

Bel tanda pulang sudah berbunyi. Aku berusaha menyelip-nyelip ditengah keramaian sepanjang lorong sampai mataku tertumbuk diujung lorong. Aku melihat Cindy, Stella,Rachel dan Nancy. Tapi, suasana macam apa itu? Nancy tampak sangar dipenglihatanku, sedangkan Rachel tak kalah mengerikannya sambil memegang kedua bahu Nancy. Aku terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Agak sedikit suli karena orang yang lalu lalang diantara kami. Aku berusaha membaca gerak mulut mereka seteliti mungkin karena tidak bisa mendenggar apapun dari sini. Tunggu. Apa aku baru saja melihat Rachel mengucapkan ‘aneh’, atau ‘antre’, atau ‘Andre’?
Aku berjalan pelan mendekati mereka. tak ingin kedatanganku terlihat terlalu mencolok.
“pokoknya kita harus segera bilang sama Alice!” bentak Nancy
“Tenang dulu Nan. Dia baru aja ikut lomba. Kita tunggu dulu beberapa hari gimana?” Cindy mencoba menyampaikan pendapatnya.
“Dua hari aja bagi aku udah cukup untuk ngeliat sikap dia. Kemana aja dia dua hari ini? Ngilang terus. Pasti ke tempat si Andre kan?” balas Nancy lagi
“Tapi hari senin dia kan dipanggil kak Qoy, kamu liat sendiri nelpon kak Qok kan?”
“iya. Habis itu dia kemana? Ngga balik kan? Pulang sekolah dia kemana? Cuma gara-gara cowok bisa-bisanya ya dia ngelupain kita.” Kata nancy semakin lama semakin pelan suaranya. Ia mengedikkan bahunya berusaha melepaskan tangan Rachel yang dari tadi masih juga mencengkeram bahunya. Lalu berjalan sendiri menuju tangga meninggalkan teman-teman lain yang tampak kebingungan setengah mati.
Aku yang memperhatikan kepergian nancy merasakan adanya tatapan yang diarahkan terhadapku. Aku menoleh pada arahnya tatapan itu dan mendapati Stella sedang menyenggol yang lain agar melihatku. Aku langsung mendekati mereka tapi tak mengatakan satu patah katapun.
“nancy marah” kata Rachel memberitahuku. Aku hanya mengangguk sambil menundukkan kepala.
“Katanya kamu jadi sering ninggalin kami sejak kamu sama Andre” sejak aku sama Andre. Bukan sejak aku sibuk mempersiapkan lomba. aku mengangguk sekali lagi.
“Kalau kami bertiga...” kali ini Cindy yang bicara,”...lumayan bisa ngerti. Tapi Nancy kayanya udah emosi banget.”
“Kamu harus bicara sama Nancy, Al.” Aku menegakkan kepalaku melihat mereka. tapi agak sulit kali ini bagiku untuk mengangguk. Tapi aku tau, saat ini semua kesalahan memang  karena perbuatanku. Akhirnya aku mengangguk.
“Oke. Sekarang kita pulang yaa.” Tukas rachel. “Bareng Andre?” aku tau pertanyaan ditujukan kepadaku.
“mungkin nggak, tapi aku mau naik Bis aja”
Rachel hanya mengangguk. Aku membalikkan badan dan kemudian terhenti karena aku ingin mengucapkan “Terima Kasih ya”. Mereka tersenyum hangat padaku. Sedikit membantu disaat hatiku sedikit kacau saat ini.

***

Aku memainkan tali tas yang berada dipangkuanku sambil berpikir apa yang harus kukatakan pada nancy. Tidak mungkin aku memintanya memberikan pertanyaan-pertanyaan padaku kan. Bisa-bisa dia menyangka aku orang tak tau diri. Tidak bisa menyadari kesalahan sendiri. Aku  tau kesalahanku dimana. Aku Cuma tidak tau harus memulainya dari mana.
Sesaat aku tertegun melihat keramaian di samping kiri bis yang kunaiki. Lalu aku mendengar orang disebelahku berbisik dengan temannya dan tidak sengaja kudengar bahwa itu adalah kecelakaan motor. Dasar anak sekarang kenapa mesti ngebut nggak jelas gitu sih. Andre nggak mungkin kaya gitu lah. Meski pernah sekali ia nyaris menabrakku dulu di depan gerbang. Tapi setelah itu aku tidak pernah mendengar kabar lain tentang perangainya saat membawa motor.
Saat itulah aku melihat helm GM putih yang tergeletak di jalanan. Itu helm Andre? Nggak mungkin. Bukan Cuma dia yang punya helm kayak gitu. Aku berusaha mengusir pikiran burukku saat handphoneku berdering. Andre. Benarkan? Itu bukan dia.
“hallo?”

“Hallo selamat siang neng.” Bukan suara Andre. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar