|
P
|
agi hari, ketika aku memasuki gerbang
SMA terfavorit di kota ini, SMA Kanaya, aku kembali teringat kejadian semalam
yang mengganggu tidurku. Wajah-wajah mereka yang tak kusangka-sangka kenal
dengan Alice White, seorang siswi SMA biasa dengan style sangat-sangat sederhana, yaitu baju putih seragam sekolah
dengan rok selutut berwarna merah maroon, dengan jas berwarna senada dan pita
kecil di dada. Dengan sepatu kats putih, kaos kaki putih setinggi lutut, dan
rambut gerai yang sangat dikenali teman-teman terdekatku. Betapa membosankannya
penampilan ini. Sangat berbeda dengan mereka yang menjadi pujaan di sekolah
ini. Sebagai contoh, Diva, dia manis dengan kulit putihnya, senyumnya yang
menawan terhampar di balik bibirnya yang tipis. Gayanya selalu setia dengan
geraian rambutnya yang merah ikal, panjang, dan selalu setia dengan sebuah
bando cantik berbagai model setiap harinya, hingga saat ini model bandonya
menjadi tren di sekolahku. Perhiasannya seperti gelang, anting, sepatu yang
sangat girlish memancarkan keglamouran yang alami. Tidak seperti teman-temannya
yang lain yang sangat antusias untuk menunjukkan betapa kayanya dia. Sangat
beruntung lelaki yang memiliki Diva yang rendah hati.
Aku
tak sadar bahwa ternyata aku sudah sampai di kelas. Aku terlalu asyik dengan
lamunanku, sampai-sampai aku mengacuhkan Chichi yang datang ke arahku dengan
tampang manis yang dibuat-buat. Langsung saja aku paham, dan mengeluarkan PR
Biologyku.
“
Nih…” Kataku sambil memberikan tugas rumah yang sudah kukerjakan.
“Thanks
ya Al… Kamu the best deh”, ucap
Chichi sembari berlari riang menuju kursinya.
Baru
saja aku akan kembali pada lamunanku, aku dikagetkan dengan suara melengking Cindy.
“Al!!!
Keluar yuk… aku bosan di kelas. Kan lebih baik menghirup udara segar dipagi
hari…” katanya sambil nyengir.
“
Apa aku punya pilihan lain?”
“
Nggak. Hehehe”
Cindy
ini juga salah satu dari 6 orang persahabatanku. Kelompok bermain kami ini juga
lumayan dikenal karena kami selalu bersama dimanapun dan kapanpun. Aku, Nancy,
Cindy, Rachel, Stella, dan Jeanitha sudah berteman sejak kelas 1 SMP. Ooops…
aku lupa, kelompok bermain kami hanya tinggal 5 orang, karena Jeanitha sekarang
melanjutkan sekolahnya di luar kota. Kisah percintaan kami juga cukup
menyedihkan. Kalau aku, sangat menyedihkan karna sampai saat ini belum pernah
merasakan cinta yang sebenarnya. Yah… dulu aku pernah mempunyai hubungan. Tapi,
itu dulu… bertahun-tahun yang lalu, kelas 4 SD. Betapa bodohnya aku saat itu.
Mau menerima seorang cowok hanya karena permintaan teman-temanku yang saat itu
hanya tinggal akulah satu-satunya dari kelompok itu yang belum mempunyai pacar.
Dasar cinta monyet.
Kalau
Nancy, dulu sebelum pacaran dengan Edgar ia pernah menjalin hubungan dengan
seorang pemain band terkenal di SMP. Tetapi betapa sayangnya, hubungan itu
hanya bertahan selama 10 hari. Itu hanya membuat kami sakit hati. Tega-teganya
dia mempermainkan perasaan seorang wanita. Dan lebih prihatinnya lagi, itu
adalah pengalaman pertamanya untuk berpacaran.
Kalau
Cindy, dialah yang tercuek mengenai cinta -setelah aku-. Tapi dulu dia pernah
menceritakan kepada kami bahwa ia tertarik pada seorang lelaki yang ia kenal
dari situs social. Sayangnya sekarang ia tidak pernah mengungkit masalah itu
lagi, dan kamipun tidak berani untuk menanyakannya secara langsung kepada
Cindy.
Kalau
Rachel, ia adalah yang tersetia. Ia sekarang sedang dalam perjalanan mengejar
seorang pemain basket sekolah. Hal itu sudah berlangsung selama kira-kira 3
tahun-an. Tapi 1 kesalahan yang dilakukannya. Dia tidak berani mengungkapkan
perasaannya. Ia hanya dapat tersenyum jika ditanya mengapa. Rachel akan
melompat kegirangan jika ia dapat melihat sang pujaan hati walaupun hanya dari
kejauhan, dan kami akan menjadi korban keganasan remasan tangannya. Dia akan
menangis jika dia mengetahui bahwa sang pujaan hati sedang mendekati wanita
lain. Dan peristiwa bahwa ia menyukai Oddy itu bukan lagi menjadi rahasia kami, tapi itu
sudah menjadi rahasia public, mungkin 1 sekolah sudah mengetahui kabar itu,
termasuk Oddy
itu sendiri. Tapi sayang, ia tidak membalas perasaan Rachel. Tapi, Rachel
pantang menyerah sampai saat ini.
Kalau
Stella, dia adalah yang pemikirannya paling dewasa walaupun ternyata dia adalah
yang termuda diantara kami. Mungkin Stella bisa dikatakan yang ter-Play Girl diantara kami. Setauku, sampai
saat ini dia sudah pacaran sebanyak 3
kali. Dan sekarang dia sedang tertarik pada seorang siswa SMA lain yang satu
kursus dengannya. Sebenarnya aku tidak mengetahui begitu banyak tentang Stella,
karena aku baru mulai benar-benar dekat dengannya beberapa bulan yang lalu.
Kalau
Jeanith, dia adalah yang paling bijaksana. Dia tidak bersekolah di SMA Kanaya.
Dia bersekolah di sebuah SMA negeri berasrama di luar kota. Tetapi kami tetap
terhubung dengannya melalui e-mail, dan aku adalah yang memiliki koneksi
terbaik dengan Jean. Aku sering kali bercerita panjang lebar dengannya di
e-mail, kutumpahkan semua permasalahan yang ada kepadanya, dan dia memang dapat memberikan saran
yang tepat untuk ku lakukan. Sangat beruntung memiliki teman seperti dia. Malah
aku terkadang lebih terbuka kepada Jean seorang dari pada pada teman-teman yang
lain. Tidak adil memang, tapi terkadang aku merasa teman-temanku akan merasa
jenuh dengan obrolanku yang itu-itu saja.
***
Akhirnya
aku dan Cindy, hanya pergi berdua dan duduk di balkon lantai 2 sekolah.
Meskipun cuaca hari ini cukup dingin untuk dinikmati, kurasa aku membutuhkannya
saat ini karena otakku sudah panas setelah memikirkan kejadian yang tidak
terduga semalam, dan rasa keingintahuanku mengenai hal yang akan dikatakan Diva
padaku nanti.
Bel
pertama berbunyi, pagi ini aku belajar Mathematic. Tapi sayangnya aku tidak
dapat berkonsentrasi dengan baik pagi ini. Yup! Masih dengan alasan yang sama.
Aku merasa seperti orang bodoh saat ini. Tiba-tiba, aku seperti mendengar bunyi
Klik! di kepalaku. Sore kemarin aku
bertemu dengan Andre, lalu malamnya dia mengirimi aku pesan, pada saat itu juga
Diva juga mengirimi aku pesan. Oh ya, Diva dan Andre, mereka sekelas, dan
kabarnya pun mereka juga dekat sekali. Meskipun aku tidak tau itu ‘dekat’ dalam
artian apa, tapi bisa saja dekat dalam artian ‘pacar’.
“Pertanyaan
apa yang mau anda tanyakan Ms.White?”, Tanya Mr.Home padaku.
Aku
langsung terlonjak kaget,“Ha?! O…O… Oh!! Tidak jadi, sir. Maaf”. Tanpa kusadari
ternyata tadi aku mengangguk-angguk, dan itu bertepatan saat Mr.Home bertanya
pada seluruh kelas,’apakah ada yang mau ditanyakan?’, karena aku menganggung
aku disangka mau bertanya.Fiiuuh…
***
Bel
sekolah yang berbunyi seperti bel pemberitahuan di stasiun kereta itu
membangunkanku dari lamunan panjang selama 3 jam pelajaran. Sejenak aku sempat
ragu untuk pergi menemui Diva. Aku belum meminta pendapat teman-teman mengenai
hal ini. Aku sedikit ragu untuk menceritakan hal ini kepada mereka, karena jika
aku cerita kepada mereka, aku pasti akan bertanya banyak hal mengenai Andre,
dan pasti mereka akan mengira bahwa aku menyukai Andre, dan mereka akan
mengejekku karena menyukai seorang bintang sekolah, yang tidak akan mungkin aku
dapatkan.
Akhirnya
aku pergi, menuju UGT. UGT adalah kepanjangan dari Under Great Tree. Itu adalah
sebuah tempat yang dilindungi pohon besar yang rindang yang berjejer di
sekeliling lapangan basket. Di perjalanan menuju UGT, aku masih memikirkan
tentang kejadian semalam. Tiba-tiba aku seperti tersadarkan oleh sesuatu.
seingatku, Diva adalah mantan pacar dari Andre, dan tadi malam Andre
menghubungiku, lalu diikuti dengan Diva. Apakah dia marah padaku karena Andre
menghubungiku? Apakah dia cemburu? Lalu sekarang Diva memintaku untuk
menemuinya. Apakah dia akan melabrakku? Apakah dia akan meracuniku dengan
berbagai hujatan mengenai perempuan murahan. Sejenak aku menghentikan
langkahku, aku ragu. Tapi saat itu juga kepercayaan diriku timbul. Kenapa aku
harus takut? Toh Andrelah yang menghubungiku terlebih dahulu. Berarti itu bukan
salahku. Aku hanya harus menjawab dengan sejujur-jujurnya jika ia bertanya.
Tinggal
1 kelokan lagi dan aku akan tiba di UGT. Tapi, Buukk!!! Sesuatu yang keras
menabrak tubuhku sehingga aku terpental dan menabrak dinding.
“Aduuh…
kalau jalan liat-liat dong” kataku sambil meringis memegang bahuku yang sedikit
nyeri.
“Maaf
ya Alice, karena tikungan aku ngga liat ada orang.”
Suara
itu… aku kenal dengan baik suara itu…
“Bahumu
sakit ya?”, kata Andre dengan nada yang sangat menyesal.
“Eerr…
T-tidak… a-aku tidak apa-apa”. Kataku dengan suara yang tak kusangka-sangka
terdengar sangat aneh.
“
Mmm… kalau begitu, aku duluan ya… aku diminta untuk menghadap Mr.Home. tidak
apa-apa kan?”
“
T-tidak masalah kok…”, kataku sambil kupaksakan senyum yang kuyakini dapat
membuatnya illfeel
padaku.
Aku
heran, kenapa aku harus begitu gugup di depan Andre? Hal yang sama terjadi
kemarin di pasar. Kurasa tadi dia dapat mendengar detak jantungku yang sangat
kencang itu. Sungguh hari yang aneh. Rasanya banyak hal yang tidak biasa terjadi
hari ini. Dan sekarang entah keanehan apa lagi yang harus kuhadapi saat bertemu
dengan Diva nanti. Huuh… Entahlah…
“Al…!!!”,
aku mendengar suara melengking itu. Aku menoleh, dan ternyata benar. Diva
sedang duduk manis dibawah sebuah pohon besar sambil melambai ke arah ku.
“Eh,
Hai…”, jawabku ku sambil tersenyum.”Sudah lama?”
“Nggak
kok, kan baru bel.”, jawabnya dengan senyumnya yang khas dan hangat itu.”Mmm…
sebaiknya aku langsung mulai aja ya, soalnya kan waktu istirahat kita pendek.”
“Okay…
jadi kamu mau ngomong apa?” tanyaku.
“Mmm…
pertama, aku mau nanya dulu. Benarkah tadi malam Andre menghubungi kamu?”
Aku
terkesiap mendengar
pertanyaan dari Diva tadi, darah langsung surut dari mukaku, dan keringat
dingin mulai membasahi punggungku. “Ya.. emangnya kenapa?”. Aku harus
mempersiapkan mental untuk menerima berbagai caci maki dari Diva yang akan
terjadi kurang dari 1 menit lagi.
Tapi
tidak seperti yang kusangka, diva malah tertawa. “Haha… ternyata jadi. Dia
bilang apa aja?”
“Maksudnya?”
tanyaku bingung.
“Iya…
Dia bilang apa aja tadi malam?”
“Bukan…
tapi… kusangka… kamu…”
“Apa?
Marah? Hahaha…”, tawanya semakin kencang,”Ngapain juga aku marah? Aku sama
Andre itu sekarang cuma sahabatan Alice…” katanya langsung mengerti maksudku.
“Oh…
Begitu…”, hanya itu yang dapat kuucapkan saking malunya. Betapa badohnya
diriku.
“Jadi?”
lanjutnya.
“Apa?
Oh… ya. Mmm… seingatku dia hanya mengingatkan aku untuk mengumpulkan uang iuran
kelas yang harus dilaporkan kepada OSIS. Tapi, itu tidak berguna, karena yang
bendahara bukan aku, tapi temanku Nancy.” Jelasku.
“Dasar
bodoh…”, Kata Diva sambil menyembunyikan tawanya. “Ternyata dia tidak seberani
yang kusangka. Memakai taktik lama.”
“Maksudnya?”,
tanyaku heran.
“Sebenarnya
bukan itulah alasan sebenarnya dia menghubungimu tadi malam. Ada alasan lain.” Jawabnya, membuatku
penasaran. “Sudah beberapa bulan yang lalu dia cerita kepadaku, bahwa dia
sedang menyukai seorang gadis. Ini adalah yang pertama semenjak dia putus
denganku 3 tahun yang lalu.”
Aku
sudah mulai memahami arah pembicaraan Diva, tapi aku lebih memilih untuk
pura-pura tidak mengerti karena jika aku langsung menunjukkan apa yang aku
pikirkan, dan kemudia ternyata pernyataanku salah, itu hanya akan mempermalukanku.
Jadi lebih baik aku memastikannya terlebih dahulu. “Lalu, kenapa kamu
menceritakannya kepadaku?”. Sebenarnya ini juga sedikit membingungkan, aku
belum paham sepenuhnya.
“Alice…
apakah kamu tidak paham? Itu kamu… gadis itu kamu… Gadis yang disayangi Andre.”
Meskipun
sebelumnya aku sudah mengetahui setengah dari pesan yang akan disampaikan Diva
kepadaku, tak urung pernyataan Diva tadi cukup membuatku kaget. Aku ingin
bertanya, tapi suaraku dikalahkan oleh kerasnya suara bel masuk.
“jadi
tolong dipikirkan ya, Alice.”
“pikirkan
apa?”
“kamu
tau apa yang aku maksud…”
Ya,
aku tau apa yang dia maksud. Aku tau itu dengan sangat jelas. Tapi aku sangat
ingin menyangkalnya. Maksudku, seorang Andre? Suka kepadaku? Apakah itu
kenyataan? Atau ini semua sebenarnya hanyalah tipuan belaka yang sengaja
diberikan kepadaku oleh mereka, anak-anak tenar. Tapi untuk apa? Jangankan
bermasalah, berbicara dengan mereka saja aku tidak pernah. Dengan Diva, adalah
yang pertama.
Diva
meninggalkan ku dengan senyumannya. Aku hanya dapat terpaku di tempat. Aku
mulai beringsut, kemudian berjalan menuju kelasku yang berada di gedung B.
entah apa yang terjadi sesudahnya, tau-tau aku sudah sampai di kelas. Aku tak
lagi memerhatikan apa yang ada disekelilingku.
***
10
tahun yang lalu…
Seorang
anak laki-laki bersweater biru muda datang menghampiriku dengan 2 orang temannya. Dia berhenti
di depanku, dan berkata,
“Alice
setaaan!!!”, sambil tertawa mengejek dan kemudian berlari menjauhiku.
Saat
itu aku adalah seorang gadis kecil dengan penampilan rambut sebahu yang diikat
ke atas. Tapi, karena aku tidak percaya diri, aku menutupinya dengan topi yang
ada pada sweater hitamku. Tetapi, anak laki-laki malah mengejekku karena aku malah membuat kepalaku
tambah bengkak. Karena meras tidak terima atas ejekan yang diberikan, aku
mengejar anak laki-laki yang bernama Andre Tan itu dengan maksud akan menjitak
kepalanya.
Saat
aku dalam perjalanan mengejar, tiba-tiba Andre terjatuh. Aku yang sedang
mengejarnya terkejut dan tidak sempat merem kakiku. Alhasil, aku berhasil
menindih tubuhnya. Seketika, aku langsung bangun, tapi anehnya Andre tak
kunjung bangun, tapi lagi aku mendengar isak kecil yang datang dari Andre.
Teman-temannya yang tadi lebih dulu berlari memutar arah dan menghampiri Andre,
termasuk Rina dan teman-teman lainnya yang melihat kejadian itu dari taman
bermain.
“Andre,
kamu kenapa?”,tanya Rina.
“Aku
jatuh”, kata Andre disela isak
tangisnya.
“Alice,
Andre kenapa?”, tanya Rina tiba-tiba kepadaku.
“Kamu
udah dengar, dia terjatuh”, jawabku.
“Iya…
aku juga tau. Tapi terjatuh karena apa? Pasti kamu ngedorong dia kan? Soalnya
tadi aku liat kamu ngejar-ngejar Andre.”, jawab Rina
“Nggak
kok. Andre jatuh sendiri.”, kataku membela diri.
“Kamu
pasti bohong!”, jawabnya membentakku, “yuk teman-teman, kita nggak berteman
dengan pembohong”, kata Rina pada teman-teman yang lain.
Kemudian
teman-teman mulai meninggalkan kami dengan pandangan jijik kepadaku. Sebagian
anak laki-laki membawa Andre ke kantor guru. Aku hanya dapat diam melihat
reaksi teman-teman
yang seperti itu. Tetapi kemudian air mata mulai menggenangi pelupuk mataku.
Aku langsung berlari menuju kelasku, kelas itu kosong. Aku duduk di bangkuku,
dan menangis terisak. Kenapa mereka jahat kepadaku? Padahal aku tidak mendorong
Andre, tapi kenapa Rina menuduhku? Itulah yang kupikirkan waktu itu.
Tapi
kemudian, ada sebuah sentuhan lembut di bahu kananku, dan aku melihat sebuah
permen tangkai bulat berwarna pelangi sudah berada di sebelah tanganku di atas
meja. Aku menoleh, dan melihat Andre sudah berdiri di belakangku dengan kepala
tertunduk.
“Alice,
maafin aku yaa…”, kata Andre pelan tetapi yakin.
Aku
hanya dapat diam melihat Andre, tak mengeluarkan sepatah katapun. Tiba-tiba
Andre berlari keluar kelas, dan menghampiri Rina dan teman-teman di dekat
ayunan taman. Mereka tampak seperti sedang membicarakan sesuatu. Aku langsung
duduk kembali, tak peduli pada apa yang sedang mereka lakukan, karena mereka
juga tidak peduli padaku.
“Alice,
maafkan kami yaa…”, suara Rina mengejutkanku,”Andre sudah menjelaskannya kepada
kami, kamu tidak mendorong dia, Andre bilang dia jatuh sendiri. Maafkan kami
ya, Alice.”
Aku
hanya dapat mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Rina menarik tanganku untuk
menarikku keluar kelas untuk bermain. Sekejap kujangkaukan tanganku yang
sebelah lagi untuk menggapai permen tangkai yang berada di atas meja. Aku
melongokkan kepala ke seluruh penjuru kelas, tapi dia tidak ada. Aku ingin
mengucapkan terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar