Senin, 28 April 2014

PART 2

            P
agi hari, ketika aku memasuki gerbang SMA terfavorit di kota ini, SMA Kanaya, aku kembali teringat kejadian semalam yang mengganggu tidurku. Wajah-wajah mereka yang tak kusangka-sangka kenal dengan Alice White, seorang siswi SMA biasa dengan style sangat-sangat sederhana, yaitu baju putih seragam sekolah dengan rok selutut berwarna merah maroon, dengan jas berwarna senada dan pita kecil di dada. Dengan sepatu kats putih, kaos kaki putih setinggi lutut, dan rambut gerai yang sangat dikenali teman-teman terdekatku. Betapa membosankannya penampilan ini. Sangat berbeda dengan mereka yang menjadi pujaan di sekolah ini. Sebagai contoh, Diva, dia manis dengan kulit putihnya, senyumnya yang menawan terhampar di balik bibirnya yang tipis. Gayanya selalu setia dengan geraian rambutnya yang merah ikal, panjang, dan selalu setia dengan sebuah bando cantik berbagai model setiap harinya, hingga saat ini model bandonya menjadi tren di sekolahku. Perhiasannya seperti gelang, anting, sepatu yang sangat girlish memancarkan keglamouran yang alami. Tidak seperti teman-temannya yang lain yang sangat antusias untuk menunjukkan betapa kayanya dia. Sangat beruntung lelaki yang memiliki Diva yang rendah hati.
            Aku tak sadar bahwa ternyata aku sudah sampai di kelas. Aku terlalu asyik dengan lamunanku, sampai-sampai aku mengacuhkan Chichi yang datang ke arahku dengan tampang manis yang dibuat-buat. Langsung saja aku paham, dan mengeluarkan PR Biologyku.
            “ Nih…” Kataku sambil memberikan tugas rumah yang sudah kukerjakan.
            “Thanks  ya Al… Kamu the best deh”, ucap Chichi sembari berlari riang menuju kursinya.
            Baru saja aku akan kembali pada lamunanku, aku dikagetkan dengan suara melengking Cindy.
            “Al!!! Keluar yuk… aku bosan di kelas. Kan lebih baik menghirup udara segar dipagi hari…” katanya sambil nyengir.
            “ Apa aku punya pilihan lain?”
            “ Nggak. Hehehe”
            Cindy ini juga salah satu dari 6 orang persahabatanku. Kelompok bermain kami ini juga lumayan dikenal karena kami selalu bersama dimanapun dan kapanpun. Aku, Nancy, Cindy, Rachel, Stella, dan Jeanitha sudah berteman sejak kelas 1 SMP. Ooops… aku lupa, kelompok bermain kami hanya tinggal 5 orang, karena Jeanitha sekarang melanjutkan sekolahnya di luar kota. Kisah percintaan kami juga cukup menyedihkan. Kalau aku, sangat menyedihkan karna sampai saat ini belum pernah merasakan cinta yang sebenarnya. Yah… dulu aku pernah mempunyai hubungan. Tapi, itu dulu… bertahun-tahun yang lalu, kelas 4 SD. Betapa bodohnya aku saat itu. Mau menerima seorang cowok hanya karena permintaan teman-temanku yang saat itu hanya tinggal akulah satu-satunya dari kelompok itu yang belum mempunyai pacar. Dasar cinta monyet.
            Kalau Nancy, dulu sebelum pacaran dengan Edgar ia pernah menjalin hubungan dengan seorang pemain band terkenal di SMP. Tetapi betapa sayangnya, hubungan itu hanya bertahan selama 10 hari. Itu hanya membuat kami sakit hati. Tega-teganya dia mempermainkan perasaan seorang wanita. Dan lebih prihatinnya lagi, itu adalah pengalaman pertamanya untuk berpacaran.
            Kalau Cindy, dialah yang tercuek mengenai cinta -setelah aku-. Tapi dulu dia pernah menceritakan kepada kami bahwa ia tertarik pada seorang lelaki yang ia kenal dari situs social. Sayangnya sekarang ia tidak pernah mengungkit masalah itu lagi, dan kamipun tidak berani untuk menanyakannya secara langsung kepada Cindy.
            Kalau Rachel, ia adalah yang tersetia. Ia sekarang sedang dalam perjalanan mengejar seorang pemain basket sekolah. Hal itu sudah berlangsung selama kira-kira 3 tahun-an. Tapi 1 kesalahan yang dilakukannya. Dia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Ia hanya dapat tersenyum jika ditanya mengapa. Rachel akan melompat kegirangan jika ia dapat melihat sang pujaan hati walaupun hanya dari kejauhan, dan kami akan menjadi korban keganasan remasan tangannya. Dia akan menangis jika dia mengetahui bahwa sang pujaan hati sedang mendekati wanita lain. Dan peristiwa bahwa ia menyukai Oddy itu bukan lagi menjadi rahasia kami, tapi itu sudah menjadi rahasia public, mungkin 1 sekolah sudah mengetahui kabar itu, termasuk Oddy itu sendiri. Tapi sayang, ia tidak membalas perasaan Rachel. Tapi, Rachel pantang menyerah sampai saat ini.
            Kalau Stella, dia adalah yang pemikirannya paling dewasa walaupun ternyata dia adalah yang termuda diantara kami. Mungkin Stella bisa dikatakan yang ter-Play Girl diantara kami. Setauku, sampai saat ini dia  sudah pacaran sebanyak 3 kali. Dan sekarang dia sedang tertarik pada seorang siswa SMA lain yang satu kursus dengannya. Sebenarnya aku tidak mengetahui begitu banyak tentang Stella, karena aku baru mulai benar-benar dekat dengannya beberapa bulan yang lalu.
            Kalau Jeanith, dia adalah yang paling bijaksana. Dia tidak bersekolah di SMA Kanaya. Dia bersekolah di sebuah SMA negeri berasrama di luar kota. Tetapi kami tetap terhubung dengannya melalui e-mail, dan aku adalah yang memiliki koneksi terbaik dengan Jean. Aku sering kali bercerita panjang lebar dengannya di e-mail, kutumpahkan semua permasalahan yang ada kepadanya, dan dia memang dapat memberikan saran yang tepat untuk ku lakukan. Sangat beruntung memiliki teman seperti dia. Malah aku terkadang lebih terbuka kepada Jean seorang dari pada pada teman-teman yang lain. Tidak adil memang, tapi terkadang aku merasa teman-temanku akan merasa jenuh dengan obrolanku yang itu-itu saja.

***

            Akhirnya aku dan Cindy, hanya pergi berdua dan duduk di balkon lantai 2 sekolah. Meskipun cuaca hari ini cukup dingin untuk dinikmati, kurasa aku membutuhkannya saat ini karena otakku sudah panas setelah memikirkan kejadian yang tidak terduga semalam, dan rasa keingintahuanku mengenai hal yang akan dikatakan Diva padaku nanti.
            Bel pertama berbunyi, pagi ini aku belajar Mathematic. Tapi sayangnya aku tidak dapat berkonsentrasi dengan baik pagi ini. Yup! Masih dengan alasan yang sama. Aku merasa seperti orang bodoh saat ini. Tiba-tiba, aku seperti mendengar bunyi Klik! di kepalaku. Sore kemarin aku bertemu dengan Andre, lalu malamnya dia mengirimi aku pesan, pada saat itu juga Diva juga mengirimi aku pesan. Oh ya, Diva dan Andre, mereka sekelas, dan kabarnya pun mereka juga dekat sekali. Meskipun aku tidak tau itu ‘dekat’ dalam artian apa, tapi bisa saja dekat dalam artian ‘pacar’.
            “Pertanyaan apa yang mau anda tanyakan Ms.White?”, Tanya Mr.Home padaku.
            Aku langsung terlonjak kaget,“Ha?! O…O… Oh!! Tidak jadi, sir. Maaf”. Tanpa kusadari ternyata tadi aku mengangguk-angguk, dan itu bertepatan saat Mr.Home bertanya pada seluruh kelas,’apakah ada yang mau ditanyakan?’, karena aku menganggung aku disangka mau bertanya.Fiiuuh…
***
            Bel sekolah yang berbunyi seperti bel pemberitahuan di stasiun kereta itu membangunkanku dari lamunan panjang selama 3 jam pelajaran. Sejenak aku sempat ragu untuk pergi menemui Diva. Aku belum meminta pendapat teman-teman mengenai hal ini. Aku sedikit ragu untuk menceritakan hal ini kepada mereka, karena jika aku cerita kepada mereka, aku pasti akan bertanya banyak hal mengenai Andre, dan pasti mereka akan mengira bahwa aku menyukai Andre, dan mereka akan mengejekku karena menyukai seorang bintang sekolah, yang tidak akan mungkin aku dapatkan.
            Akhirnya aku pergi, menuju UGT. UGT adalah kepanjangan dari Under Great Tree. Itu adalah sebuah tempat yang dilindungi pohon besar yang rindang yang berjejer di sekeliling lapangan basket. Di perjalanan menuju UGT, aku masih memikirkan tentang kejadian semalam. Tiba-tiba aku seperti tersadarkan oleh sesuatu. seingatku, Diva adalah mantan pacar dari Andre, dan tadi malam Andre menghubungiku, lalu diikuti dengan Diva. Apakah dia marah padaku karena Andre menghubungiku? Apakah dia cemburu? Lalu sekarang Diva memintaku untuk menemuinya. Apakah dia akan melabrakku? Apakah dia akan meracuniku dengan berbagai hujatan mengenai perempuan murahan. Sejenak aku menghentikan langkahku, aku ragu. Tapi saat itu juga kepercayaan diriku timbul. Kenapa aku harus takut? Toh Andrelah yang menghubungiku terlebih dahulu. Berarti itu bukan salahku. Aku hanya harus menjawab dengan sejujur-jujurnya jika ia bertanya.
            Tinggal 1 kelokan lagi dan aku akan tiba di UGT. Tapi, Buukk!!! Sesuatu yang keras menabrak tubuhku sehingga aku terpental dan menabrak dinding.
            “Aduuh… kalau jalan liat-liat dong” kataku sambil meringis memegang bahuku yang sedikit nyeri.
            “Maaf ya Alice, karena tikungan aku ngga liat ada orang.”
            Suara itu… aku kenal dengan baik suara itu…
            “Bahumu sakit ya?”, kata Andre dengan nada yang sangat menyesal.
            “Eerr… T-tidak… a-aku tidak apa-apa”. Kataku dengan suara yang tak kusangka-sangka terdengar sangat aneh.
            “ Mmm… kalau begitu, aku duluan ya… aku diminta untuk menghadap Mr.Home. tidak apa-apa kan?”
            “ T-tidak masalah kok…”, kataku sambil kupaksakan senyum yang kuyakini dapat membuatnya illfeel  padaku.
            Aku heran, kenapa aku harus begitu gugup di depan Andre? Hal yang sama terjadi kemarin di pasar. Kurasa tadi dia dapat mendengar detak jantungku yang sangat kencang itu. Sungguh hari yang aneh. Rasanya banyak hal yang tidak biasa terjadi hari ini. Dan sekarang entah keanehan apa lagi yang harus kuhadapi saat bertemu dengan Diva nanti. Huuh… Entahlah…
            “Al…!!!”, aku mendengar suara melengking itu. Aku menoleh, dan ternyata benar. Diva sedang duduk manis dibawah sebuah pohon besar sambil melambai ke arah ku.
            “Eh, Hai…”, jawabku ku sambil tersenyum.”Sudah lama?”
            “Nggak kok, kan baru bel.”, jawabnya dengan senyumnya yang khas dan hangat itu.”Mmm… sebaiknya aku langsung mulai aja ya, soalnya kan waktu istirahat kita pendek.”
            “Okay… jadi kamu mau ngomong apa?” tanyaku.
            “Mmm… pertama, aku mau nanya dulu. Benarkah tadi malam Andre menghubungi kamu?”
            Aku terkesiap mendengar pertanyaan dari Diva tadi, darah langsung surut dari mukaku, dan keringat dingin mulai membasahi punggungku. “Ya.. emangnya kenapa?”. Aku harus mempersiapkan mental untuk menerima berbagai caci maki dari Diva yang akan terjadi kurang dari 1 menit lagi.
            Tapi tidak seperti yang kusangka, diva malah tertawa. “Haha… ternyata jadi. Dia bilang apa aja?”
            “Maksudnya?” tanyaku bingung.
            “Iya… Dia bilang apa aja tadi malam?”
            “Bukan… tapi… kusangka… kamu…”
            “Apa? Marah? Hahaha…”, tawanya semakin kencang,”Ngapain juga aku marah? Aku sama Andre itu sekarang cuma sahabatan Alice…” katanya langsung mengerti maksudku.
            “Oh… Begitu…”, hanya itu yang dapat kuucapkan saking malunya. Betapa badohnya diriku.
            “Jadi?” lanjutnya.
            “Apa? Oh… ya. Mmm… seingatku dia hanya mengingatkan aku untuk mengumpulkan uang iuran kelas yang harus dilaporkan kepada OSIS. Tapi, itu tidak berguna, karena yang bendahara bukan aku, tapi temanku Nancy.” Jelasku.
            “Dasar bodoh…”, Kata Diva sambil menyembunyikan tawanya. “Ternyata dia tidak seberani yang kusangka. Memakai taktik lama.”
            “Maksudnya?”, tanyaku heran.
            “Sebenarnya bukan itulah alasan sebenarnya dia menghubungimu tadi malam.  Ada alasan lain.” Jawabnya, membuatku penasaran. “Sudah beberapa bulan yang lalu dia cerita kepadaku, bahwa dia sedang menyukai seorang gadis. Ini adalah yang pertama semenjak dia putus denganku 3 tahun yang lalu.”
            Aku sudah mulai memahami arah pembicaraan Diva, tapi aku lebih memilih untuk pura-pura tidak mengerti karena jika aku langsung menunjukkan apa yang aku pikirkan, dan kemudia ternyata pernyataanku salah, itu hanya akan mempermalukanku. Jadi lebih baik aku memastikannya terlebih dahulu. “Lalu, kenapa kamu menceritakannya kepadaku?”. Sebenarnya ini juga sedikit membingungkan, aku belum paham sepenuhnya.
            “Alice… apakah kamu tidak paham? Itu kamu… gadis itu kamu… Gadis yang disayangi Andre.”
            Meskipun sebelumnya aku sudah mengetahui setengah dari pesan yang akan disampaikan Diva kepadaku, tak urung pernyataan Diva tadi cukup membuatku kaget. Aku ingin bertanya, tapi suaraku dikalahkan oleh kerasnya suara bel masuk.
            “jadi tolong dipikirkan ya, Alice.”
            “pikirkan apa?”
            “kamu tau apa yang aku maksud…”
            Ya, aku tau apa yang dia maksud. Aku tau itu dengan sangat jelas. Tapi aku sangat ingin menyangkalnya. Maksudku, seorang Andre? Suka kepadaku? Apakah itu kenyataan? Atau ini semua sebenarnya hanyalah tipuan belaka yang sengaja diberikan kepadaku oleh mereka, anak-anak tenar. Tapi untuk apa? Jangankan bermasalah, berbicara dengan mereka saja aku tidak pernah. Dengan Diva, adalah yang pertama.
            Diva meninggalkan ku dengan senyumannya. Aku hanya dapat terpaku di tempat. Aku mulai beringsut, kemudian berjalan menuju kelasku yang berada di gedung B. entah apa yang terjadi sesudahnya, tau-tau aku sudah sampai di kelas. Aku tak lagi memerhatikan apa yang ada disekelilingku.
***
            10 tahun yang lalu…
            Seorang anak laki-laki bersweater biru muda datang menghampiriku dengan 2 orang temannya. Dia berhenti di depanku, dan berkata,
            “Alice setaaan!!!”, sambil tertawa mengejek dan kemudian berlari menjauhiku.
            Saat itu aku adalah seorang gadis kecil dengan penampilan rambut sebahu yang diikat ke atas. Tapi, karena aku tidak percaya diri, aku menutupinya dengan topi yang ada pada sweater hitamku. Tetapi, anak laki-laki malah mengejekku karena aku malah membuat kepalaku tambah bengkak. Karena meras tidak terima atas ejekan yang diberikan, aku mengejar anak laki-laki yang bernama Andre Tan itu dengan maksud akan menjitak kepalanya.
            Saat aku dalam perjalanan mengejar, tiba-tiba Andre terjatuh. Aku yang sedang mengejarnya terkejut dan tidak sempat merem kakiku. Alhasil, aku berhasil menindih tubuhnya. Seketika, aku langsung bangun, tapi anehnya Andre tak kunjung bangun, tapi lagi aku mendengar isak kecil yang datang dari Andre. Teman-temannya yang tadi lebih dulu berlari memutar arah dan menghampiri Andre, termasuk Rina dan teman-teman lainnya yang melihat kejadian itu dari taman bermain.
            “Andre, kamu kenapa?”,tanya Rina.
            “Aku jatuh”,  kata Andre disela isak tangisnya.
            “Alice, Andre kenapa?”, tanya Rina tiba-tiba kepadaku.
            “Kamu udah dengar, dia terjatuh”, jawabku.
            “Iya… aku juga tau. Tapi terjatuh karena apa? Pasti kamu ngedorong dia kan? Soalnya tadi aku liat kamu ngejar-ngejar Andre.”, jawab Rina
            “Nggak kok. Andre jatuh sendiri.”, kataku membela diri.
            “Kamu pasti bohong!”, jawabnya membentakku, “yuk teman-teman, kita nggak berteman dengan pembohong”, kata Rina pada teman-teman yang lain.
            Kemudian teman-teman mulai meninggalkan kami dengan pandangan jijik kepadaku. Sebagian anak laki-laki membawa Andre ke kantor guru. Aku hanya dapat diam melihat reaksi teman-teman yang seperti itu. Tetapi kemudian air mata mulai menggenangi pelupuk mataku. Aku langsung berlari menuju kelasku, kelas itu kosong. Aku duduk di bangkuku, dan menangis terisak. Kenapa mereka jahat kepadaku? Padahal aku tidak mendorong Andre, tapi kenapa Rina menuduhku? Itulah yang kupikirkan waktu itu.
            Tapi kemudian, ada sebuah sentuhan lembut di bahu kananku, dan aku melihat sebuah permen tangkai bulat berwarna pelangi sudah berada di sebelah tanganku di atas meja. Aku menoleh, dan melihat Andre sudah berdiri di belakangku dengan kepala tertunduk.
            “Alice, maafin aku yaa…”, kata Andre pelan tetapi yakin.
            Aku hanya dapat diam melihat Andre, tak mengeluarkan sepatah katapun. Tiba-tiba Andre berlari keluar kelas, dan menghampiri Rina dan teman-teman di dekat ayunan taman. Mereka tampak seperti sedang membicarakan sesuatu. Aku langsung duduk kembali, tak peduli pada apa yang sedang mereka lakukan, karena mereka juga tidak peduli padaku.
            “Alice, maafkan kami yaa…”, suara Rina mengejutkanku,”Andre sudah menjelaskannya kepada kami, kamu tidak mendorong dia, Andre bilang dia jatuh sendiri. Maafkan kami ya, Alice.”

            Aku hanya dapat mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Rina menarik tanganku untuk menarikku keluar kelas untuk bermain. Sekejap kujangkaukan tanganku yang sebelah lagi untuk menggapai permen tangkai yang berada di atas meja. Aku melongokkan kepala ke seluruh penjuru kelas, tapi dia tidak ada. Aku ingin mengucapkan terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar