Senin, 28 April 2014

PART 1


emuanya berawal dari sebuah pasar wisata. Aku dan sahabatku, Nancy, sedang berjalan santai sambil melihat-lihat pakaian-pakaian yang dipajang di dalam toko.  Dari sekian banyak pakain yang kuajukan, tak ada yang dapat menarik perhatian Nancy, karena baginya pakaian tersebut tidak cocok dengan postur tubuh Edgar, kekasihnya. Dari baju kemeja berlengan panjang, kemeja berlengan pendek, baju kaos. Tapi tetap saja ditolaknya dengan alasan,” Aku tak bisa membayangkan Edgar memakai baju ini. Ini sangat tidak cocok..”. Bagaimana mungkin dia berkata begitu sedangkan penjaga toko pun sudah setuju dengan pilihanku. Tapi aku tak memperdebatkannya, karena itu hanya akan membuang tenagaku. Ia takkan pernah mendengarkan saran seseorang jika itu menyangkut hal mode yang sebenarnya tak kupahami.
            Sudah lebih 2 jam kami berjalan-jalan mengelilingi pasar, tetapi tetap dengan tangan kosong.
            “ Nan, bisakah kita cari tempat dulu? Aku kecapekan…”, kataku lemas.
            “ Capek? Aduh Al… tapi kita belum dapatin apa-apa buat Edgar…”, ucap Nancy, “ Ini buat lusa tapi aku nggak bisa dapatin yang cocok buat Edgar. Kamu tega ya Edgar kecewa sama aku di hari ulang tahunnya? Kalau dia marah sama aku gimana? Kalau dia mutusin aku…”
            “ Ssst… tuh kan, kebiasaan deh kalau lagi cemas pasti pikirannya jauh banget.” Satu lagi kebiasaan sahabat ku yang satu ini, ia mempunyai imajinasi yang luar biasa. “Edgar tu udah pernah bilang sama aku, dia itu sayang benget sama kamu. Jadi nggak mungkin banget kalau dia mutusin kamu Cuma gara-gara kamu nggak ngasih kado di hari ulang tahunnya.”,aku membentak padanya, “ Cinta itu nggak mandang harta Nan… cukup dengan kamu berada di samping dia, dia pasti akan bahagia…”. Tanpa sadar kata-kata itu keluar secara otomatis dari mulutku. Ntah lah.. mungkin karena otakku sudah terlalu jenuh dengan pilihan pakaian-pakaian ini, walaupun kata orang  kita tidak boleh sekalipun mengatakan ‘otakku sudah jenuh’ atau ‘ otakku penuh’ karena katanya itu berarti kau telah menghina Sang Pencipta. Kenapa? Entahlah, akupun tak tau alasannya.
            “ Kenapa kamu nggak memilih untuk mencari pacar aja Al?”, tanya Nancy tiba-tiba. Seketika senyum mengkhayalku lenyap.
            Sejenak hanya ada hening diantara kami, tak ada yang berbicara. kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
            “ Kita ke café aja yuk. Mungkin disana kita bisa mikirin apa yang kira-kira pantas dan cocok buat Edgar.” Ucapku memecah kecanggungan yang tiba-tiba datang.
            Di pasar wisata tersebut ada sebuah café yang selalu setia kami datangi. Memang rasanya pas pasan, tapi suasana yang dimiliki café tersebut membuat siapapun yang singgah disana akan merasakan ketenangan batin yang sangat nyaman.cafe tersebut terletak di ketinggian sehingga nenyuguhkan panorama alam yang benar-benar indah sehingga tidak salah jika café tersebut ramai di kunjungi oleh berbagai kalangan.
 Aku dan Nancy menyebut café tersebut dengan sebutan café Sakura, karena dekorasi dindingnya yang di penuhi dengan bunga sakura yang berasal dari Jepang. Aku yang sangat mencintai tradisi dan budaya dari Negara Matahari Terbit tersebut telah menjadikan tempat tersebut sebagai tempat favoritku. Hanya satu kekurangan dari tempat tersebut, yaitu mereka tidak dapat menyuguhkan makanan khas Jepang. Yah, memang bodoh rasanya menyukai suatu tempat hanya karena dekorasi indah yang berasal dari Sang Negara Favourite. Tapi itulah aku, sekarang pun aku sudah mulai mempelajari bahasa jepang yang akhirnya sering aku praktikkan kepada sahabatku ini yang tidak tau apa-apa mengenai Jepang dan lebih mencintai Korea karena bahasa Negara tersebut yang memiliki irama yang unik, dan juga karena banyaknya boyband and girlband yang memiliki body yang… wow…
Sesampainya kami di Café Sakura, kami mengambil kursi yang paling dekat dengan jendela agar dapat melihat pemandangan yang asri.
“ Jadi menurut kamu baju yang sebenarnya cocok dengan postur tubuh pacarmu itu yang seperti apa?” Tanyaku langsung setelah memesan makanan pada pelayan café.
“ Yang bagaimana yah? Edgar itu nggak hitam juga nggak putih, jadi mungkin kita ambil warna yang netral dan di sukai cowok. Contohnya coklat, hitam, putih, atau abu abu. Atau kita cariin dia jaket aja kali yah? Soalnya kalau baju kayaknya simple banget.” Jawab nancy.
“ Wah… ini sudah keterlaluan nih. Kalau kamu mau memberikan jaket kenapa kamu tidak bilang dari tadi sih Nan? Kita sudah jalan selama hampir 2 jam…”
Kulihat dia tartawa kecil sambil menggaruk-garuk kepala, gaya khasnya “sekali-sekali kau harus rela berkorban demi sahabatmu ini, sayang” jawab Nancy nyengir.

***

Setelah pesanan tiba kami langsung sibuk dengan makanan masing-masing. Tapi tiba-tiba Nancy berhenti dan langsung menatapku dengan serius. Aku tau jika ekspresi Nancy seperti ini, ada sesuatu yang ingin dia tanyakan kepadaku. Tapi, aku merasa tidak enak dengan tatapannya, dan memilih untuk pura-pura tidak melihatnya. 2 menit… 5 menit… 10 menit… akhirnya aku menyerah dan meletakkan sendok garpuku.
“ Ada apa?” tanyaku.
“ Aku mau tanya sesuatu sama kamu, tapi aku mohon kamu jawab yang jujur.” Tanya Nancy serius.
“Tanya apa? Tumben mau nanya pake pembukaan dulu. Mau tanya apa? Soal ulangan? Ya mana aku tau…” jawabku mencoba bercanda. Tapi melihat Nancy yang tetap diam dengan tampang serius, akhirnya aku manyerah. “ Oke oke… Kamu mau tanya apa?”
“Cuma pertanyaan yang simple kok, kamu punya perasaan sama orang nggak sebenarnya? Kok kamu nggak pernah cerita sama aku tentang itu yah? Atau kamu udah nggak percaya lagi sama aku?”
Aku terkejut mendengar pertanyaan Nancy tadi. Tak biasa-biasanya dia menanyakan sesuatu yang bersifat sensitive seperti ini. “Lho kok kamu nanya gitu sih Nan? Ya pasti lah aku percaya sama kamu, dan sampai kapanpun aku akan tetap percaya sama kamu Nan.” Aku berhenti sejenak untuk melihat ekspresinya, tapi nihil. “Tapi memang akunya yang nggak punya perasaan sama seseorang. Jadi apa yang harus aku ceritakan? Pertanyaan ini masih ada hubungannya yang tadi kan?” aku berhenti lagi, “Jadi bisa nggak kita ganti topic?”
“Ya udah, aku nggak bakal maksa kamu cerita, tapi berjanjilah kamu harus cerita ke aku kalau ada apa-apa, oke?” lanjut Nancy
“Sip… jadi……… bisakah kita melanjutkan ‘acara berbelanja ria bersama sahabat sejati’?” tanyaku lega.
“ yuk”
Tapi baru saja aku berdiri, tubuhku langsung mematung karena melihat apa yang ada di depan mataku. Sejenak aku hanya diam, diam, dan diam, sampai pada akhirnya sebuah sentuhan pelan membangunkanku. “ Kenapa Al..?”aku tersentak dan kemudian cuma menggeleng. Saat itu, dalam hati aku sangat berterima kasih pada Nancy karena telah membangunkanku dari lamunan yang membuatku lupa untuk bernafas. Tak tau apa jadinya jika Nancy tidak melakukannya.
“ Yuk berangkat” ajak Nancy

***

Dari berbagai pilihan toko yang kami singgahi akhirnya kami memilih sebuah Distro yang terletak di sudut pasar. Dan yang menjadi pilihan terakhir adalah sebuah sweater berwarna coklat tua dengan sedikit tulisan di bagian depan. Itu pun setelah aku dan pelayan toko membujuk dengan sepenuh hati pada Nancy. Kenapa? Yaaah… masih dengan alasan yang sama, “ Itu tidak cocok dengan Edgar… yang cocok itu yang ini…” katanya seraya menujukkan sebuah sweater bergaris-garis merah dan kuning dan di bagian dadanya ada tulisan ‘I Love You 4ever”berwarna hijau terang. aku hanya dapat diam melihat sweater pilihan Nancy untuk sang kekasih tercinta, dan sambil membayangkan bagaimana kelak penampilan Edgar dengan sweater pilihan sang pujaan hati. Dan setelahnya sambil membayangkan kembali kejadian yang baru saja kualami.
 Baru saja aku sadar dari lamunanku,” Nan… kita pulang yuk…”
“hah?!? Al, dari tadi udah 5 kali kamu minta pulang sama aku. Kamu udah janji sama aku bakal nemenin aku belanja sampai kelar. Tapi sekarang kita belum dapat apa-apa..”
“ ya udah. Kamu cepat milihnya, habis ini kita langsung pulang.”
“ya bantuin dong… pilih yang mana niih??” tanya Nancy bingung.
“ yang aku pilihin tadi aja Nan… kamu liat nggak warna sweater yang kamu pilih itu norak banget. Nggak mungkin dong cowok pake yang norak gitu…yang tadi aja. Lagian juga mbak tokonya juga setuju sama yang aku pilih kan?” jawabku panjang lebar.
Memang  sederhana, tapi jaket coklat tua itu cukup manis jika dibayangkan di pakai oleh Edgar.  Dan akhirnya permintaanku di kabulkan. Aku tidak bisa membayngkan jika aku pingsan ditengah pasar yang ramai ini, dan saat terbangun nanti aku memberikan alasan bahwa aku pingsan karena terkejut melihat seseorang tersenyum kepadaku tadi

***
Begitu memasuki pintu rumah, tanpa menoleh pada Mom yang terkejut karena aku membuka pintu agak keras aku langsung menaiki tangga menuju kamar. Setelah kututup pintu kamar, aku  pun terduduk di belakang pintu. Kembali teringat kejadian di pasar tadi. Aku sendiri sebenarnya bingung kenapa aku menjadi seperti ini setiap bertemu dengan Andre. Tubuhku langsung membeku, darah surut dari mukaku, dan keringat dinginpun menjalari punggungku.
Ringtone dari Alvin and the chipmunks yang sangat kukenal berdering dari Hpku. Sebuah nomor asing mengirim pesan padaku.
Apakah ini nomor Alice?
Ya, ini siapa? Jawabku, seketika itu juga aku mengumpat diriku sendiri yang dengan bodohnya langsung menjawab jujur.
Ini Andre… Aku sangat terkejut saat membaca pesan itu. Dan tidak percaya. Andre? Menghubungiku?
Belum hilang kekagetanku. Kembali masuk 1 pesan. Apakah kamu sedang sibuk?
Tiba-tiba terlintas di kepalaku, bagaimana jika ini hanya orang yang menyamar? atau bagaimana kalau ternyata Andre yang menghubungiku ini bukanlah Andre Tan? Andre yang baru saja ku pikirkan.
Tunggu dulu. Kamu Andre Tan?
Aku sangat tidak sabar menunggu balasannya, sampai-sampai tanpa ku sadari aku sudah berjalan bolak balik di kamarku.
1 pesan diterima
Hahaha… iya, aku Andre Tan. Pasti kamu mengira aku Cuma cowok usil yang mau mengganggu kan?  Tidak… Aku Andre, tadi kita bertemu di pasar. Ingat?
Lega… Oh… iya. Aku ingat. Dapat nomorku dari siapa? Dan… ada keperluan apa ya?
1 pesan diterima
Cuma dari teman. Aku cuma mau tanya, kamu bendahara kelas kan? Teman aku bilang uang buat sweater kita dikumpul 2 hari lagi ya.
Bukan, aku bukan bendahara, yang bendahara itu teman aku, Nancy yang pergi ke pasar denganku tadi.
1 pesan diterima
Oh.. Begitu.. berarti temanku salah orang. By the way tadi ke pasar ngapain? Shopping ya?
No, just accompanied Nancy. She wanna buy a jacket. What about U?
1 pesan diterima
Aku punya toko disekitar daerah itu.
Aku merasa sangat letih dan capek. Aku mengantuk. Aku ingin mengakhiri percakapan ini, tapi aku takut jika aku akhiri, aku tidak akan bisa mendapat kesempatan lagi untuk berkomunikasi dengannya.
Oh.. begitu… hanya itu yang dapat ku jawab.
1 pesan diterima. Dari nomor yang berbeda.
Apakah ini nomor Alice? Aku rasa ini sangat kebetulan jika ada 2 orang yang belum ku kenal ingin berkenalan denganku.
Ya… Ini siapa? Shit! Sekali lagi aku menyesali diriku yang jujur ini.
1 pesan diterima
Ini Diva, yang kelas X.3. Are u busy now?
Aku sedikit terkejut mengetahui kebenaran seorang gadis tenar di sekolah menghubungiku.Aku rasa ada sesuatu yang aneh.
Not really.. why?
I want to ask something…May I?, katanya
Sure. What do u want to know?
Untuk pesan yang satu ini, dia membalas cukup lama.
1 pesan diterima. Akhirnya dia membalas juga.
Aku rasa ini bukan saat yang tepat. Lagipula, mungkin ini membutuhkan waktu yang panjang untuk membicarakan ini. Bisakah kamu menemuiku besok di UGT saat istirahat pertama?
Aku rasa untuk saat ini aku belum bisa menjanjikan. Tapi akan aku usahakan.
Ok… kalau begitu, sampai ketemu besok.
OK.

Hanya sekian percakapan pendek tak langsung ini. Tapi itu sudah cukup membuat kening ku berkerut. Saat ini ada begitu banyak pertanyaan dibenakku. Oh ya, Andre pun sekarang sudah tak mengirim pesan lagi. Ada apa ini? Kembali pertanyaan itu. Sungguh rasa keingintahuanku sekarang sudah mencapai titik puncak. Baiklah, sekarang yang harus aku lakukan hanyalah menunggu sampai semua pertanyaanku terjawab, yaitu sampai esok pagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar