|
|
emuanya berawal dari sebuah pasar
wisata. Aku dan sahabatku, Nancy, sedang berjalan santai sambil melihat-lihat pakaian-pakaian
yang dipajang di dalam toko. Dari sekian
banyak pakain yang kuajukan, tak ada yang dapat menarik perhatian Nancy, karena
baginya pakaian tersebut tidak cocok dengan postur tubuh Edgar, kekasihnya.
Dari baju kemeja berlengan panjang, kemeja berlengan pendek, baju kaos. Tapi
tetap saja ditolaknya dengan alasan,” Aku tak bisa membayangkan Edgar memakai
baju ini. Ini sangat tidak cocok..”. Bagaimana mungkin dia berkata begitu
sedangkan penjaga toko pun sudah setuju dengan pilihanku. Tapi aku tak
memperdebatkannya, karena itu hanya akan membuang tenagaku. Ia takkan pernah
mendengarkan saran seseorang jika itu menyangkut hal mode yang sebenarnya tak
kupahami.
Sudah
lebih 2 jam kami berjalan-jalan mengelilingi pasar, tetapi tetap dengan tangan
kosong.
“
Nan, bisakah kita cari tempat dulu? Aku kecapekan…”, kataku lemas.
“
Capek? Aduh Al… tapi kita belum dapatin apa-apa buat Edgar…”, ucap Nancy, “ Ini
buat lusa tapi aku nggak bisa dapatin yang cocok buat Edgar. Kamu tega ya Edgar
kecewa sama aku di hari ulang tahunnya? Kalau dia marah sama aku gimana? Kalau
dia mutusin aku…”
“
Ssst… tuh kan, kebiasaan deh kalau lagi cemas pasti pikirannya jauh banget.”
Satu lagi kebiasaan sahabat ku yang satu ini, ia mempunyai imajinasi yang luar
biasa. “Edgar tu udah pernah bilang sama aku, dia itu sayang benget sama kamu.
Jadi nggak mungkin banget kalau dia mutusin kamu Cuma gara-gara kamu nggak
ngasih kado di hari ulang tahunnya.”,aku membentak padanya, “ Cinta itu nggak
mandang harta Nan… cukup dengan kamu berada di samping dia, dia pasti akan
bahagia…”. Tanpa sadar kata-kata itu keluar secara otomatis dari mulutku. Ntah
lah.. mungkin karena otakku sudah terlalu jenuh dengan pilihan pakaian-pakaian
ini, walaupun kata orang kita tidak
boleh sekalipun mengatakan ‘otakku sudah jenuh’ atau ‘ otakku penuh’ karena
katanya itu berarti kau telah menghina Sang Pencipta. Kenapa? Entahlah, akupun
tak tau alasannya.
“
Kenapa kamu nggak memilih untuk mencari pacar aja Al?”, tanya Nancy tiba-tiba. Seketika
senyum mengkhayalku lenyap.
Sejenak
hanya ada hening diantara kami, tak ada yang berbicara. kami sibuk dengan
pikiran kami masing-masing.
“
Kita ke café aja yuk. Mungkin disana kita bisa mikirin apa yang kira-kira
pantas dan cocok buat Edgar.” Ucapku memecah kecanggungan yang tiba-tiba datang.
Di
pasar wisata tersebut ada sebuah café yang selalu setia kami datangi. Memang
rasanya pas pasan, tapi suasana yang dimiliki café tersebut membuat siapapun
yang singgah disana akan merasakan ketenangan batin yang sangat nyaman.cafe
tersebut terletak di ketinggian sehingga nenyuguhkan panorama alam yang
benar-benar indah sehingga tidak salah jika café tersebut ramai di kunjungi
oleh berbagai kalangan.
Aku dan Nancy menyebut café tersebut dengan
sebutan café Sakura, karena dekorasi dindingnya yang di penuhi dengan bunga
sakura yang berasal dari Jepang. Aku yang sangat mencintai tradisi dan budaya
dari Negara Matahari Terbit tersebut telah menjadikan tempat tersebut sebagai
tempat favoritku. Hanya satu kekurangan dari tempat tersebut, yaitu mereka
tidak dapat menyuguhkan makanan khas Jepang. Yah, memang bodoh rasanya menyukai
suatu tempat hanya karena dekorasi indah yang berasal dari Sang Negara
Favourite. Tapi itulah aku, sekarang pun aku sudah mulai mempelajari bahasa
jepang yang akhirnya sering aku praktikkan kepada sahabatku ini yang tidak tau
apa-apa mengenai Jepang dan lebih mencintai Korea karena bahasa Negara tersebut
yang memiliki irama yang unik, dan juga karena banyaknya boyband and girlband
yang memiliki body yang… wow…
Sesampainya kami
di Café Sakura, kami mengambil kursi yang paling dekat dengan jendela agar
dapat melihat pemandangan yang asri.
“ Jadi menurut
kamu baju yang sebenarnya cocok dengan postur tubuh pacarmu itu yang seperti apa?”
Tanyaku langsung setelah memesan makanan pada pelayan café.
“ Yang bagaimana
yah? Edgar itu nggak hitam juga nggak putih, jadi mungkin kita ambil warna yang
netral dan di sukai cowok. Contohnya coklat, hitam, putih, atau abu abu. Atau
kita cariin dia jaket aja kali yah? Soalnya kalau baju kayaknya simple banget.”
Jawab nancy.
“ Wah… ini sudah
keterlaluan nih. Kalau kamu mau memberikan jaket kenapa kamu tidak bilang dari
tadi sih Nan? Kita sudah jalan selama hampir 2 jam…”
Kulihat dia
tartawa kecil sambil menggaruk-garuk kepala, gaya khasnya “sekali-sekali kau
harus rela berkorban demi sahabatmu ini, sayang” jawab Nancy nyengir.
***
Setelah pesanan
tiba kami langsung sibuk dengan makanan masing-masing. Tapi tiba-tiba Nancy berhenti
dan langsung menatapku dengan serius. Aku tau jika ekspresi Nancy seperti ini,
ada sesuatu yang ingin dia tanyakan kepadaku. Tapi, aku merasa tidak enak
dengan tatapannya, dan memilih untuk pura-pura tidak melihatnya. 2 menit… 5
menit… 10 menit… akhirnya aku menyerah dan meletakkan sendok garpuku.
“ Ada apa?”
tanyaku.
“ Aku mau tanya
sesuatu sama kamu, tapi aku mohon kamu jawab yang jujur.” Tanya Nancy serius.
“Tanya apa?
Tumben mau nanya pake pembukaan dulu. Mau tanya apa? Soal ulangan? Ya mana aku
tau…” jawabku mencoba bercanda. Tapi melihat Nancy yang tetap diam dengan
tampang serius, akhirnya aku manyerah. “ Oke oke… Kamu mau tanya apa?”
“Cuma pertanyaan
yang simple kok, kamu punya perasaan sama orang nggak sebenarnya? Kok kamu
nggak pernah cerita sama aku tentang itu yah? Atau kamu udah nggak percaya lagi
sama aku?”
Aku terkejut
mendengar pertanyaan Nancy tadi. Tak biasa-biasanya dia menanyakan sesuatu yang
bersifat sensitive seperti ini. “Lho kok kamu nanya gitu sih Nan? Ya pasti lah
aku percaya sama kamu, dan sampai kapanpun aku akan tetap percaya sama kamu
Nan.” Aku berhenti sejenak untuk melihat ekspresinya, tapi nihil. “Tapi memang
akunya yang nggak punya perasaan sama seseorang. Jadi apa yang harus aku ceritakan?
Pertanyaan ini masih ada hubungannya yang tadi kan?” aku berhenti lagi, “Jadi bisa
nggak kita ganti topic?”
“Ya udah, aku
nggak bakal maksa kamu cerita, tapi berjanjilah kamu harus cerita ke aku kalau
ada apa-apa, oke?” lanjut Nancy
“Sip… jadi……… bisakah
kita melanjutkan ‘acara berbelanja ria bersama sahabat sejati’?” tanyaku lega.
“ yuk”
Tapi baru saja
aku berdiri, tubuhku langsung mematung karena melihat apa yang ada di depan
mataku. Sejenak aku hanya diam, diam, dan diam, sampai pada akhirnya sebuah
sentuhan pelan membangunkanku. “ Kenapa Al..?”aku tersentak dan kemudian cuma
menggeleng. Saat itu, dalam hati aku sangat berterima kasih pada Nancy karena
telah membangunkanku dari lamunan yang membuatku lupa untuk bernafas. Tak tau
apa jadinya jika Nancy tidak melakukannya.
“ Yuk berangkat”
ajak Nancy
***
Dari berbagai
pilihan toko yang kami singgahi akhirnya kami memilih sebuah Distro yang
terletak di sudut pasar. Dan yang menjadi pilihan terakhir adalah sebuah
sweater berwarna coklat tua dengan sedikit tulisan di bagian depan. Itu pun
setelah aku dan pelayan toko membujuk dengan sepenuh hati pada Nancy. Kenapa?
Yaaah… masih dengan alasan yang sama, “ Itu tidak cocok dengan Edgar… yang
cocok itu yang ini…” katanya seraya menujukkan sebuah sweater bergaris-garis
merah dan kuning dan di bagian dadanya ada tulisan ‘I Love You 4ever”berwarna
hijau terang. aku hanya dapat diam melihat sweater pilihan Nancy untuk sang
kekasih tercinta, dan sambil membayangkan bagaimana kelak penampilan Edgar dengan
sweater pilihan sang pujaan hati. Dan setelahnya sambil membayangkan kembali
kejadian yang baru saja kualami.
Baru saja aku sadar dari lamunanku,” Nan… kita
pulang yuk…”
“hah?!? Al, dari
tadi udah 5 kali kamu minta pulang sama aku. Kamu udah janji sama aku bakal
nemenin aku belanja sampai kelar. Tapi sekarang kita belum dapat apa-apa..”
“ ya udah. Kamu
cepat milihnya, habis ini kita langsung pulang.”
“ya bantuin dong…
pilih yang mana niih??” tanya Nancy bingung.
“ yang aku
pilihin tadi aja Nan… kamu liat nggak warna sweater yang kamu pilih itu norak
banget. Nggak mungkin dong cowok pake yang norak gitu…yang tadi aja. Lagian
juga mbak tokonya juga setuju sama yang aku pilih kan?” jawabku panjang lebar.
Memang sederhana, tapi jaket coklat tua itu cukup
manis jika dibayangkan di pakai oleh Edgar. Dan akhirnya permintaanku di kabulkan. Aku
tidak bisa membayngkan jika aku pingsan ditengah pasar yang ramai ini, dan saat
terbangun nanti aku memberikan alasan bahwa aku pingsan karena terkejut melihat
seseorang tersenyum kepadaku tadi
***
Begitu memasuki
pintu rumah, tanpa menoleh pada Mom yang terkejut karena aku membuka pintu agak
keras aku langsung menaiki tangga menuju kamar. Setelah kututup pintu kamar,
aku pun terduduk di belakang pintu.
Kembali teringat kejadian di pasar tadi. Aku sendiri sebenarnya bingung kenapa
aku menjadi seperti ini setiap bertemu dengan Andre. Tubuhku langsung membeku,
darah surut dari mukaku, dan keringat dinginpun menjalari punggungku.
Ringtone dari Alvin and the chipmunks yang sangat
kukenal berdering dari Hpku. Sebuah nomor asing mengirim pesan padaku.
Apakah ini nomor Alice?
Ya, ini siapa? Jawabku, seketika
itu juga aku mengumpat diriku sendiri yang dengan bodohnya langsung menjawab
jujur.
Ini Andre… Aku sangat terkejut saat membaca pesan
itu. Dan tidak percaya. Andre? Menghubungiku?
Belum hilang
kekagetanku. Kembali masuk 1 pesan. Apakah
kamu sedang sibuk?
Tiba-tiba
terlintas di kepalaku, bagaimana jika ini hanya orang yang menyamar? atau
bagaimana kalau ternyata Andre yang menghubungiku ini bukanlah Andre Tan? Andre
yang baru saja ku pikirkan.
Tunggu dulu. Kamu Andre Tan?
Aku sangat tidak
sabar menunggu balasannya, sampai-sampai tanpa ku sadari aku sudah berjalan
bolak balik di kamarku.
1 pesan diterima
Hahaha… iya, aku Andre Tan. Pasti kamu mengira aku Cuma cowok usil
yang mau mengganggu kan? Tidak… Aku
Andre, tadi kita bertemu di pasar. Ingat?
Lega… Oh… iya. Aku ingat. Dapat nomorku dari
siapa? Dan… ada keperluan apa ya?
1 pesan diterima
Cuma dari teman. Aku cuma mau tanya, kamu bendahara kelas kan?
Teman aku bilang uang buat sweater kita dikumpul 2 hari lagi ya.
Bukan, aku bukan bendahara, yang bendahara itu teman aku, Nancy
yang pergi ke pasar denganku tadi.
1 pesan diterima
Oh.. Begitu.. berarti temanku salah orang. By the way tadi ke pasar ngapain? Shopping ya?
No, just accompanied Nancy. She wanna buy a jacket.
What about U?
1 pesan diterima
Aku punya toko disekitar daerah itu.
Aku merasa sangat
letih dan capek. Aku mengantuk. Aku ingin mengakhiri percakapan ini, tapi aku
takut jika aku akhiri, aku tidak akan bisa mendapat kesempatan lagi untuk berkomunikasi
dengannya.
Oh.. begitu… hanya itu yang dapat ku jawab.
1 pesan diterima.
Dari nomor yang berbeda.
Apakah ini nomor Alice? Aku rasa ini
sangat kebetulan jika ada 2 orang yang belum ku kenal ingin berkenalan
denganku.
Ya… Ini siapa? Shit!
Sekali lagi aku menyesali diriku yang jujur
ini.
1 pesan diterima
Ini Diva, yang kelas X.3. Are u busy now?
Aku sedikit
terkejut mengetahui kebenaran seorang gadis tenar di sekolah menghubungiku.Aku
rasa ada sesuatu yang aneh.
Not really.. why?
I want to ask something…May I?, katanya
Sure. What do u want to know?
Untuk pesan yang
satu ini, dia membalas cukup lama.
1 pesan diterima.
Akhirnya dia membalas juga.
Aku rasa ini bukan saat yang tepat. Lagipula, mungkin ini
membutuhkan waktu yang panjang untuk membicarakan ini. Bisakah kamu menemuiku
besok di UGT saat istirahat pertama?
Aku rasa untuk saat ini aku belum bisa menjanjikan. Tapi
akan aku usahakan.
Ok… kalau begitu, sampai ketemu besok.
OK.
Hanya sekian
percakapan pendek
tak langsung ini. Tapi itu sudah cukup membuat kening ku berkerut. Saat ini ada
begitu banyak pertanyaan
dibenakku. Oh ya, Andre pun sekarang sudah tak mengirim pesan lagi. Ada apa
ini? Kembali pertanyaan itu. Sungguh rasa keingintahuanku sekarang sudah
mencapai titik puncak. Baiklah, sekarang yang harus aku lakukan hanyalah
menunggu sampai semua pertanyaanku terjawab, yaitu sampai esok pagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar