Senin, 28 April 2014

PART 4

Bel pulang sekolah berbunyi, aku telah mengemasi tasku sejak 5 menit yang lalu karena aku mau langsung keluar dari area sekolah ini. Bukan karena takut bertemu dengan Andre, namun karena aku tak sabar ingin cepat pulang dan langsung pergi ke Sakura agar bisaku beri tau apa yang mengganjal di hati dan pikiranku sekarang. Ini juga merupakan salah satu obat yang lumayan jitu untuk menghilangkan beban di otak. Daan... aku juga tidak sabar melihat respon dari mereka. Seperti apa ya?
***
Sakura Cafe pukul 3...
            Aku beruntung mempunyai teman-teman yang sangat menghargai waktu. Mereka datang tepat waktu.
            “Hai Al... Udah lama?”, sapa Stella yang datang berdua dengan Rachel dengan masih mengenakan seragam sekolah.
            “Lumayan, tapi nggak papa. Aku sengaja datang cepat”
            “Kenapa?”, tanya Rachel
            “Mmm... ngga kenapa-napa sih. Suntuk aja di rumah. Cindy sama Nancy mana?”, aku belum melihat mereka sejak tadi pagi.
            “Katanya bentar lagi nyampe kok”, Stella menjawab pertanyaanku, “Kamu mau bicara apa? Dari pesan semalam aku lihat ini agak serius ya?”, lanjutnya
            “Bisa dibilang begitu lah. Kita tunggu yang lain dulu, baru kita bicarain. Ok?”
            “Tuh mereka...”, sahut Stella, sambil menunjuk ke pintu.
            Akhirnya mereka semua berkumpul juga. Apa aku siap mengatakan kepada mereka? Maksudku, selama ini aku belum pernah berbicara kepada mereka tentang sesuatu yang berbau ‘Cinta’. Menyebut kata itu saja kadang aku sudah canggung sendiri. Mau tak mau aku harus segera mengatakan kepada mereka, aku tak mau mereka mendengar tentang hal ini dari orang lain, aku mau mereka mendengarnya dari mulutku sendiri. Aku takut mereka marah dan membenciku karna aku tidak terbuka pada mereka.
            15 menit kemudian...
            Lihatlah! Betapa bodohnya aku. Aku selalu saja menunda-nunda untuk mengatakannya. Aku meminta mereka memesan makanan dulu, lalu menunggu sampai makanan datang dengan alasan, “kan lebih enak bicara sambil makan”. Konyol. Padahal menurut ilmiah, kita sangat dilarang untuk berbicara saat makan, karena dapat membuat makanan kita menempuh jalan yang salah. Sangat kentara perasaan bingung di wajah mereka. aku melihatnya dengan sangat jelas. Biarlah, paling tidak aku masih bisa menunda pembicaraan itu 10 menit lagi, atau 15 menit lagi, atau 30 menit lagi.
            Makanannya datang! Berarti inilah saatnya...
            “ Guys... Apakah mungkin ada orang yang suka dengan orang seperti aku ini?”, kataku tiba-tiba.
            1 detik, 2 detik, 3 detik, belum ada tanggapan. 5 detik, “Ha?”, kata Cindy.
            “Maksud kamu apa sih Al? Aku ngga ngerti.”, sambung Stella.
            “Iyaa... aku sedang bertanya pada kalian semua, apakah ada kemungkinan seseorang akan menyukai aku?”
            “Tentu saja ada, kenapa menanyakan pertanyaan aneh seperti itu? Ada sesuatu yang terjadi?”, Nancy bertanya. Namun aku cuma diam, tidak tau harus bagaimana mengatakannya. “Apa yang terjadi?” kata Nancy langsung paham arti diamku.
            “Mmm... Aku ditembak.”
            “Haaa!!!!”, semua berteriak, membuat beberapa pengunjung melihat ke arah kami.
            “Kok nggak mati?”, kata Cindy. Tapi sejenak kemudian aku mendengar rintihannya. Aku tau dia ditendang Rachel di bawah meja. Aku tertawa sejenak, Cindy memang agak susah diajak bicara serius. Tapi itu membuatku sedikit rileks.
            “Siapa yang nembak?”, kata Rachel.
            “Mmm... menurut kamu siapa?”
            “ Deo!” kata Nancy
            “Aaa!!! Ya ya ya”, dukung Cindy
            “Nggak mungkin!”, kata Rachel
            “Kenapa nggak?”, kata cindy
            “Kurang ganteng!”, kata Rachel
            “Uuu!!! Dia kan sering banget dikit-dikit tanya Alice, dikit-dikit pinjam Pr Alice.”, Kata Nancy
            “Bener Deo, Al?”, tanya Rachel memastikan.
            “Nggak lah...”, jawabku enteng dengan senyuman maut.
            “ Harly ya?” tanya stella.
            “Harly? Ngga mungkin Stel. Kita juga udah deket ama dia sejak SD kan? Ya kan Al?”, kata Rachel.
            “M-mm... Dia tu udah aku anggap kaya adek, lho.”, jawabku
            “ Duh Al... Udahan deh tebak-tebakannya. Siapa?”
            “Andre.”, jawabku simpel.
            “Haaa!!!”, mereka berteriak, dan lagi-lagi mencuri perhatian pengunjung. Mereka ribut sendiri karena pernyataanku tadi.
            “Siapa tadi? Andre? Andre yang mana?”
            “Tan.”, jawabku singkat
            “Nggak mungkin...”
            “Tuh kan, bener yang aku duga. Nggak mungkin seorang Andre bisa suka sama aku. Maksudku, lihatlah aku, apa yang spesial dari seorang Alice?”. Jawabku serta merta. Aku begitu frustrasi. Bukanlah sebuah impian wanita manapun jika cinta pertamanya, yang telah lama dinantinya, dengan mudah mempermainkannya. Sungguh ironis. Malah sejenak aku sempat berfikir, apakah memang benar kisah cinta tragis yang ada di keluargaku juga akan berlaku untukku?
            “Kenapa ngga mungkin Al?”
            “Mmm... Ngga ada yang ngga mungkin di dunia ini Al. Perhatikan baik-baik, kamu pintar, cantik, baik, diterima di lingkungan manapun.”
            “Ya tetapi tidak di lingkungan anak-anak tenar itu.”
            “Itu karna kamu tidak mencobanya kan?”
            “Ya, aku tidak mencobanya karna aku memang merasa tidak cocok dengan gaya hidup mereka yang seperti itu. Tapi, bukan itu maksudku. Maksudku, kenapa dia mau denganku? padahal aku belum pernah berbicara dengannya (lagi) atau pun dengan teman-temannya. Dia tidak tau apa apa tentang diriku.”
            Semuanya diam. Tak ada yang bisa menjawab pernyataanku barusan,”Guys... jujurlah, sebenarnya kalian juga ragu kan?”
            “Jujur, aku memang ragu Al. Kamu ingat kan? Andre masih teman dekatnyaa...”, Nancy tidak melanjutkan kalimatnya. Saat itu lah aku baru sadar dan ingat. Andre adalah teman dekat dari mantan pacar Nancy dulu. Wajar Nancy tidak setuju.
            Sekarang, perkataan Nancy sudah berhasil menjadi beban tambahan bagi ku, atau membuka jalan pikiranku untuk menentukan jalan yang benar, dan itu berarti aku harus menolaknya. Tapi, kenapa? Kenapa hati ku sepert memberontak, seakan tidak setuju dengan apa yang telah dikatakan oleh logikaku? Apa yang harus aku lakukan sekarang?
***
            “Jujur, aku memang ragu Al. Kamu ingat kan? Andre masih teman dekatnyaa...”
            Kata-kata yang diucapkan Nancy tadi selalu terngiang-ngiang di kepalaku. Apa benar Andre sama dengan mantan pacarnya Nancy? Apa benar dia hanya mempermainkanku? Kepada siapa lagi aku harus bertanya dan meminta saran? Aku sudah bertanya apa pendapat teman-temanku, memang mungkin aku tidak kehilangan beban pikiran, tapi setidaknya aku mendapatkan sebuah fakta yang dapat membuatku lebih berhati-hati untuk mengambil keputusan. Di dunia ini tidak akan pernah ada susuatu yang sia-sia setelah ia diciptakan. Itu salah satu kata-kata favoritku.
Tapi........
Apa yang harus aku lakukan sekarang...!?! Begitu banyak pertanyaan berkelebat dikepalaku. Sampai-sampai kepalaku sakit rasanya. Aku ingin melupakan beban ini sejenak, tapi selalu saja kejadian-kejadian dari awal sampai permasalahannya menjadi seperti ini berputar-putar seperti menonton sebuah film dokumenter yang belum diketahui akhirnya. Apakah akan menjadi cerita happy ending atau sad ending.
Sekarang film dokumenterku sudah  samapi pada cerita ketika aku berbicara dengan Diva. Diva?!? Yak, dialah jawabanku. Sekarang aku tidak perlu lagi takut bahwa Diva akan marah padaku, karena aku tau bahwa antara Diva dan Andre sudah tidak ada apa-apa lagi. Ditambah lagi bahwa Diva sekarang sedang membantu Andre untuk mendapatkanku (wuueeh... aku benci dengan istilah ‘mendapatkanku’  yang kugunakan).
“Enaknya SMS atau telepon ya?”, aku berkata pada diriku sendiri.
“Hallo...”
“Hai, Div... ini Alice, masih ingat?”
“Hai Al... ya ingat dong. Masa aku lupa. Ada acara apa ne malam-malam nelfon?”
“Kamu lagi sibuk ngga?”
“Enggak juga. Kenapa? Kamu mau tanya-tanya soal Andre yaa?”, tanya Diva dengan nada menggoda.
Sepertinya Diva ini bisa meramal, dan itu membuatku lumayan kaget, ”Eh... Enggak...Enggak... Uhh... Ok, ya, aku mau bertanya sesuatu sama kamu menyangkut Andre.”
Dan sekarang aku bisa mendengar kikikan pelannya dari ujung telepon, ”Ok, kamu mau tanya apa tentang Andre?”
“Tapi kamu harus jawab jujur ya Div, janji?”
“Ok, Alice ku cayaang...”, jawabnya dengan nada semanja mungkin.
“Setau kamu dia itu serius ngga sih sama aku?”
“Mmm... Kalau menurut yang aku liat, dia serius Al. Coba aja, sejak awal sekolah dia ngga pernah jadian sama cewek manapun kan? Kenapa? Karena dia nunggu kamu.”, jawab Alice.
Jawaban Alice memang masuk akal, tapi tetap saja rasanya masih belum bisa meyakinkanku. “Menurut kamu aku harus gimana Div?”
“Ya terima dia dong Al... apa lagi coba?”
“Tapi...”
“Tapi kenapa? Kamu takut?”
Tuh, kan bener. Diva itu peramal. Aku mengangguk menjawab pertanyaan Diva, tetapi langsung sadar ia tidak bisa melihat jawabanku, “Eh, iya”
“Kenapa?”
“Kamu kan tau perasaan seorang wanita itu seperti apa. Ngga ada seorang wanitapun yang ingin disakiti. Apa lagi ini baru pertama bagiku.”
“Kamu percaya deh sama aku Al. Andre adalah orang yang setia, dia ngga bakal permainkan perasaan kamu. Dan karena ini yang pertamalah, kamu harus mencobanya. Cepat atau lambat kamu juga pasti akan mengahadapi permasalahan yang seperti ini kan? Ini Cuma masalah waktu. Jadi semakin cepat semakin baik.”
“Mmm... Umur dia sekarang berapa?”
“Kalau ngga salah 4 bulan lagi 16 tahun. Kenapa?”
“Nah... Itu juga salah satu masalahnya.”
“Memangnya kamu berapa?”
“1 bulan lagi 16 tahun. Dia lebih muda dari aku div. Nggak sesuai sama kriteria aku”, entah sejak kapan aku punya kriteria cowok impian. Entah lah, ternyata aku orangnya memang bertele-tele, terkadang ada perasaan ingin menerima, tapi ada juga perasaan ingin menolak dan menjauh darinya.
“Ok, sekarang gini. Coba aja kamu bandingin dia dari dari cowok yang lebih tua dari dia. Lihat, siapa diantara mereka yang lebih berwibawa, yang lebih bijaksana. Lagian juga dipandang matapun, kalian berdua memiliki keserasian. Tinggi kalian mencukupi untuk menjadi pasangan ideal. Dan dia juga salah satu kandidat terkuat OSIS lo Al.”
“Yah.. mungkin memang benar dia lebih berwibawa atau apalag namanya. Mungkin itu bisa menjadi salah satu pertimbangan aku. Oh ya, satu lagi, aku ngga suka kamu pake istilah pasangan  ideal atau apalah namanya itu. Hehehe... satu lagi, aku ngga peduli pangkat dia mau kandidat ini atau itu, terserah aja. Ok deh Div, makasi ya buat sarannya. Aku bakal mikirin lagi.”
“Everything for my bestfriend”
“Bestfriend? Oo yaa?”
“Andre itu adalah sahabat aku, trus kamu kan bakal jadi pacarnya, itu berarti kamu juga sahabat aku”
“Ih... apaan sih”
Terdengar tawa renyah Diva di ujung sambungan.
“Ya udah, sekarang udah malam, makasi sekali lagi ya Div.”
“Sama-sama Alice. See you tomorrow”
“See you”
***
Mentari cerah menyapaku dari celah kecil dibalik tirai yang masih menutupi jendela kamarku. Apakah hari ini akan berubah atau masih seperti kemarin, sendu diselimuti kabut kebingungan? Kalau kata nenek moyang kita hari ini harus lebih daik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini , maka sekarang aku membuat pepatah baru demi kebaikan anak cucuku nanti.
Hari ini belum tentu akan menjadi lebih baik dari hari esok, maka persiapkan dirimu.
Dan kemudian aku akan mendapat umpatan dan caci maki atas dasar pemikiranku yang melenceng dari ilmu psikologi untuk meningkatkan motivasi hidup seseorang.

Aku siap berangkat ke sekolah seperti biasa. Setelah pamit dengan orangtua aku berangkat dengan menggunakan bus yang kunaiki di ujung jalan sampai ke depan sekolahku. Aku berjalan menuju gerbang, sesaat kemudian aku mendengar suara Rachel memanggilku, aku menoleh ke kanan arah datangnya suara itu. Tetapi kemudian aku menjadi heran karena rachel memanggilku sekali lagi dengan ekspresi yang berbeda. Dia terkejut. Tetapi sejurus kemudian akulah yang terkejut oleh suara decitan roda di aspal jalanan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar