Bel pulang
sekolah berbunyi, aku telah mengemasi tasku sejak 5 menit yang lalu karena aku
mau langsung keluar dari area sekolah ini. Bukan karena takut bertemu dengan
Andre, namun karena aku tak sabar ingin cepat pulang dan langsung pergi ke
Sakura agar bisaku beri tau apa yang mengganjal di hati dan pikiranku sekarang.
Ini juga merupakan salah satu obat yang lumayan jitu untuk menghilangkan beban
di otak. Daan... aku juga tidak sabar melihat respon dari mereka. Seperti apa
ya?
***
Sakura Cafe pukul
3...
Aku beruntung mempunyai teman-teman
yang sangat menghargai waktu. Mereka datang tepat waktu.
“Hai Al... Udah lama?”, sapa Stella
yang datang berdua dengan Rachel dengan masih mengenakan seragam sekolah.
“Lumayan, tapi nggak papa. Aku
sengaja datang cepat”
“Kenapa?”, tanya Rachel
“Mmm... ngga kenapa-napa sih. Suntuk
aja di rumah. Cindy sama Nancy mana?”, aku belum melihat mereka sejak tadi
pagi.
“Katanya bentar lagi nyampe kok”, Stella
menjawab pertanyaanku, “Kamu mau bicara apa? Dari pesan semalam aku lihat ini
agak serius ya?”, lanjutnya
“Bisa dibilang begitu lah. Kita
tunggu yang lain dulu, baru kita bicarain. Ok?”
“Tuh mereka...”, sahut Stella,
sambil menunjuk ke pintu.
Akhirnya mereka semua berkumpul
juga. Apa aku siap mengatakan kepada mereka? Maksudku, selama ini aku belum
pernah berbicara kepada mereka tentang sesuatu yang berbau ‘Cinta’. Menyebut
kata itu saja kadang aku sudah canggung sendiri. Mau tak mau aku harus segera
mengatakan kepada mereka, aku tak mau mereka mendengar tentang hal ini dari
orang lain, aku mau mereka mendengarnya dari mulutku sendiri. Aku takut mereka
marah dan membenciku karna aku tidak terbuka pada mereka.
15 menit kemudian...
Lihatlah! Betapa bodohnya aku. Aku
selalu saja menunda-nunda untuk mengatakannya. Aku meminta mereka memesan
makanan dulu, lalu menunggu sampai makanan datang dengan alasan, “kan lebih
enak bicara sambil makan”. Konyol. Padahal menurut ilmiah, kita sangat dilarang
untuk berbicara saat makan, karena dapat membuat makanan kita menempuh jalan
yang salah. Sangat kentara perasaan bingung di wajah mereka. aku melihatnya
dengan sangat jelas. Biarlah, paling tidak aku masih bisa menunda pembicaraan
itu 10 menit lagi, atau 15 menit lagi, atau 30 menit lagi.
Makanannya datang! Berarti inilah
saatnya...
“ Guys... Apakah mungkin ada orang
yang suka dengan orang seperti aku ini?”, kataku tiba-tiba.
1 detik, 2 detik, 3 detik, belum ada
tanggapan. 5 detik, “Ha?”, kata Cindy.
“Maksud kamu apa sih Al? Aku ngga
ngerti.”, sambung Stella.
“Iyaa... aku sedang bertanya pada
kalian semua, apakah ada kemungkinan seseorang akan menyukai aku?”
“Tentu saja ada, kenapa menanyakan
pertanyaan aneh seperti itu? Ada sesuatu yang terjadi?”, Nancy bertanya. Namun
aku cuma diam, tidak tau harus bagaimana mengatakannya. “Apa yang terjadi?”
kata Nancy langsung paham arti diamku.
“Mmm... Aku ditembak.”
“Haaa!!!!”, semua berteriak, membuat
beberapa pengunjung melihat ke arah kami.
“Kok nggak mati?”, kata Cindy. Tapi
sejenak kemudian aku mendengar rintihannya. Aku tau dia ditendang Rachel di
bawah meja. Aku tertawa sejenak, Cindy memang agak susah diajak bicara serius.
Tapi itu membuatku sedikit rileks.
“Siapa yang nembak?”, kata Rachel.
“Mmm... menurut kamu siapa?”
“ Deo!” kata Nancy
“Aaa!!! Ya ya ya”, dukung Cindy
“Nggak mungkin!”, kata Rachel
“Kenapa nggak?”, kata cindy
“Kurang ganteng!”, kata Rachel
“Uuu!!! Dia kan sering banget
dikit-dikit tanya Alice, dikit-dikit pinjam Pr Alice.”, Kata Nancy
“Bener Deo, Al?”, tanya Rachel
memastikan.
“Nggak lah...”, jawabku enteng
dengan senyuman maut.
“ Harly ya?” tanya stella.
“Harly? Ngga mungkin Stel. Kita juga
udah deket ama dia sejak SD kan? Ya kan Al?”, kata Rachel.
“M-mm... Dia tu udah aku anggap kaya
adek, lho.”, jawabku
“ Duh Al... Udahan deh
tebak-tebakannya. Siapa?”
“Andre.”, jawabku simpel.
“Haaa!!!”, mereka berteriak, dan
lagi-lagi mencuri perhatian pengunjung. Mereka ribut sendiri karena
pernyataanku tadi.
“Siapa tadi? Andre? Andre yang
mana?”
“Tan.”, jawabku singkat
“Nggak mungkin...”
“Tuh kan, bener yang aku duga. Nggak
mungkin seorang Andre bisa suka sama aku. Maksudku, lihatlah aku, apa yang
spesial dari seorang Alice?”. Jawabku serta merta. Aku begitu frustrasi.
Bukanlah sebuah impian wanita manapun jika cinta pertamanya, yang telah lama
dinantinya, dengan mudah mempermainkannya. Sungguh ironis. Malah sejenak aku
sempat berfikir, apakah memang benar kisah cinta tragis yang ada di keluargaku
juga akan berlaku untukku?
“Kenapa ngga mungkin Al?”
“Mmm... Ngga ada yang ngga mungkin
di dunia ini Al. Perhatikan baik-baik, kamu pintar, cantik, baik, diterima di
lingkungan manapun.”
“Ya tetapi tidak di lingkungan
anak-anak tenar itu.”
“Itu karna kamu tidak mencobanya
kan?”
“Ya, aku tidak mencobanya karna aku
memang merasa tidak cocok dengan gaya hidup mereka yang seperti itu. Tapi,
bukan itu maksudku. Maksudku, kenapa dia mau denganku? padahal aku belum pernah
berbicara dengannya (lagi) atau pun dengan teman-temannya. Dia tidak tau apa
apa tentang diriku.”
Semuanya diam. Tak ada yang bisa menjawab
pernyataanku barusan,”Guys... jujurlah, sebenarnya kalian juga ragu kan?”
“Jujur, aku memang ragu Al. Kamu
ingat kan? Andre masih teman dekatnyaa...”, Nancy tidak melanjutkan kalimatnya.
Saat itu lah aku baru sadar dan ingat. Andre adalah teman dekat dari mantan
pacar Nancy dulu. Wajar Nancy tidak setuju.
Sekarang, perkataan Nancy sudah
berhasil menjadi beban tambahan bagi ku, atau membuka jalan pikiranku untuk
menentukan jalan yang benar, dan itu berarti aku harus menolaknya. Tapi,
kenapa? Kenapa hati ku sepert memberontak, seakan tidak setuju dengan apa yang
telah dikatakan oleh logikaku? Apa yang harus aku lakukan sekarang?
***
“Jujur,
aku memang ragu Al. Kamu ingat kan? Andre masih teman dekatnyaa...”
Kata-kata yang diucapkan Nancy tadi
selalu terngiang-ngiang di kepalaku. Apa benar Andre sama dengan mantan
pacarnya Nancy? Apa benar dia hanya mempermainkanku? Kepada siapa lagi aku
harus bertanya dan meminta saran? Aku sudah bertanya apa pendapat
teman-temanku, memang mungkin aku tidak kehilangan beban pikiran, tapi
setidaknya aku mendapatkan sebuah fakta yang dapat membuatku lebih berhati-hati
untuk mengambil keputusan. Di dunia ini tidak akan pernah ada susuatu yang
sia-sia setelah ia diciptakan. Itu salah satu kata-kata favoritku.
Tapi........
Apa yang harus aku lakukan sekarang...!?! Begitu banyak pertanyaan
berkelebat dikepalaku. Sampai-sampai kepalaku sakit rasanya. Aku ingin
melupakan beban ini sejenak, tapi selalu saja kejadian-kejadian dari awal
sampai permasalahannya menjadi seperti ini berputar-putar seperti menonton
sebuah film dokumenter yang belum diketahui akhirnya. Apakah akan menjadi
cerita happy ending atau sad ending.
Sekarang film dokumenterku sudah
samapi pada cerita ketika aku berbicara dengan Diva. Diva?!? Yak, dialah
jawabanku. Sekarang aku tidak perlu lagi takut bahwa Diva akan marah padaku,
karena aku tau bahwa antara Diva dan Andre sudah tidak ada apa-apa lagi.
Ditambah lagi bahwa Diva sekarang sedang membantu Andre untuk mendapatkanku
(wuueeh... aku benci dengan istilah ‘mendapatkanku’ yang kugunakan).
“Enaknya SMS atau telepon ya?”, aku berkata pada diriku sendiri.
“Hallo...”
“Hai, Div... ini Alice, masih ingat?”
“Hai Al... ya ingat dong. Masa aku lupa. Ada acara apa ne malam-malam
nelfon?”
“Kamu lagi sibuk ngga?”
“Enggak juga. Kenapa? Kamu mau tanya-tanya soal Andre yaa?”, tanya Diva
dengan nada menggoda.
Sepertinya Diva ini bisa meramal, dan itu membuatku lumayan kaget, ”Eh...
Enggak...Enggak... Uhh... Ok, ya, aku mau bertanya sesuatu sama kamu menyangkut
Andre.”
Dan sekarang aku bisa mendengar kikikan pelannya dari ujung telepon, ”Ok,
kamu mau tanya apa tentang Andre?”
“Tapi kamu harus jawab jujur ya Div, janji?”
“Ok, Alice ku cayaang...”, jawabnya dengan nada semanja mungkin.
“Setau kamu dia itu serius ngga sih sama aku?”
“Mmm... Kalau menurut yang aku liat, dia serius Al. Coba aja, sejak awal
sekolah dia ngga pernah jadian sama cewek manapun kan? Kenapa? Karena dia
nunggu kamu.”, jawab Alice.
Jawaban Alice memang masuk akal, tapi tetap saja rasanya masih belum bisa
meyakinkanku. “Menurut kamu aku harus gimana Div?”
“Ya terima dia dong Al... apa lagi coba?”
“Tapi...”
“Tapi kenapa? Kamu takut?”
Tuh, kan bener. Diva itu peramal. Aku mengangguk menjawab pertanyaan Diva,
tetapi langsung sadar ia tidak bisa melihat jawabanku, “Eh, iya”
“Kenapa?”
“Kamu kan tau perasaan seorang wanita itu seperti apa. Ngga ada seorang
wanitapun yang ingin disakiti. Apa lagi ini baru pertama bagiku.”
“Kamu percaya deh sama aku Al. Andre adalah orang yang setia, dia ngga
bakal permainkan perasaan kamu. Dan karena ini yang pertamalah, kamu harus
mencobanya. Cepat atau lambat kamu juga pasti akan mengahadapi permasalahan
yang seperti ini kan? Ini Cuma masalah waktu. Jadi semakin cepat semakin baik.”
“Mmm... Umur dia sekarang berapa?”
“Kalau ngga salah 4 bulan lagi 16 tahun. Kenapa?”
“Nah... Itu juga salah satu masalahnya.”
“Memangnya kamu berapa?”
“1 bulan lagi 16 tahun. Dia lebih muda dari aku div. Nggak sesuai sama
kriteria aku”, entah sejak kapan aku punya kriteria cowok impian. Entah lah,
ternyata aku orangnya memang bertele-tele, terkadang ada perasaan ingin
menerima, tapi ada juga perasaan ingin menolak dan menjauh darinya.
“Ok, sekarang gini. Coba aja kamu bandingin dia dari dari cowok yang lebih
tua dari dia. Lihat, siapa diantara mereka yang lebih berwibawa, yang lebih
bijaksana. Lagian juga dipandang matapun, kalian berdua memiliki keserasian.
Tinggi kalian mencukupi untuk menjadi pasangan ideal. Dan dia juga salah satu
kandidat terkuat OSIS lo Al.”
“Yah.. mungkin memang benar dia lebih berwibawa atau apalag namanya.
Mungkin itu bisa menjadi salah satu pertimbangan aku. Oh ya, satu lagi, aku
ngga suka kamu pake istilah pasangan
ideal atau apalah namanya itu. Hehehe... satu lagi, aku ngga peduli
pangkat dia mau kandidat ini atau itu, terserah aja. Ok deh Div, makasi ya buat
sarannya. Aku bakal mikirin lagi.”
“Everything for my bestfriend”
“Bestfriend? Oo yaa?”
“Andre itu adalah sahabat aku, trus kamu kan bakal jadi pacarnya, itu
berarti kamu juga sahabat aku”
“Ih... apaan sih”
Terdengar tawa renyah Diva di ujung sambungan.
“Ya udah, sekarang udah malam, makasi sekali lagi ya Div.”
“Sama-sama Alice. See you tomorrow”
“See you”
***
Mentari cerah menyapaku dari celah kecil dibalik tirai yang masih menutupi
jendela kamarku. Apakah hari ini akan berubah atau masih seperti kemarin, sendu
diselimuti kabut kebingungan? Kalau kata nenek moyang kita hari ini harus lebih daik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih
baik dari hari ini , maka sekarang aku membuat pepatah baru demi kebaikan
anak cucuku nanti.
Hari ini belum tentu akan
menjadi lebih baik dari hari esok, maka persiapkan dirimu.
Dan kemudian aku akan mendapat umpatan dan caci maki atas dasar pemikiranku
yang melenceng dari ilmu psikologi untuk meningkatkan motivasi hidup seseorang.
Aku siap berangkat ke sekolah seperti biasa. Setelah pamit dengan orangtua
aku berangkat dengan menggunakan bus yang kunaiki di ujung jalan sampai ke
depan sekolahku. Aku berjalan menuju gerbang, sesaat kemudian aku mendengar
suara Rachel memanggilku, aku menoleh ke kanan arah datangnya suara itu. Tetapi
kemudian aku menjadi heran karena rachel memanggilku sekali lagi dengan
ekspresi yang berbeda. Dia terkejut. Tetapi sejurus kemudian akulah yang
terkejut oleh suara decitan roda di aspal jalanan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar