Senin, 28 April 2014

PART 8

Aku terbangun di pagi hari dan langsung disapa oleh sebuah kotak hitam seukuran setengah kotak sepatu yang tergeletak di atas meja belajarku. Aku belum menyentuh isi dalam dari kotak hitam itu semenjak Andre memberikannya kepadaku. Sebenarnya aku penasaran apa isi dalam dari kotak itu. Tapi karena terlalu lelah karena terlalu banyak kejadian menarik dari kemarin membuatku langsung tertidur begitu menyentuhkan kepalaku ke bantal.
Setelah Andre memberikan ucapan selamatnya untukku kemarin, aku langsung dihujani oleh uluran tangan selamat ulang tahun dari teman-teman Andre. Itu membuatku sedikit terkejut karena aku – atau lebih tepatnya mereka- tidak begitu mengenalku. Dan kurasa mereka hanya memberikan ucapan selamat karena aku pacar Andre. Aku tidak tau apakah aku harus senang atau sedih dengan fakta yang satu itu.
Setelah berhasil menyalami semua teman-teman itu, aku langsung menuju ke halaman sekolah tempat Nancy sedang berdiri. Aku berlari-lari kecil ke tampatnya sambil senyum-senyum malu karena aku yakin Nancy dan sahabatku yang lain pasti melihat kejadian tadi. Namun, baru saja aku sampai di depannya ia langsung menggenggam tanganku dan menyeretku menuju sebuah kelas. Saat itu juga aku melihat Rachel, Cindy dan Stella yang berdiri agak jauh dari kami bergerak serentak menuju kelas tempat Nancy dan aku berada. Mereka memasuki kelas itu sambil tertawa-tawa kecil. Ini membuatku semakin bingung
“Ciee...!!!” mereka meneriakiku. Oh, sekarang aku tau, ini masih lanjutan dari kejadian di lapangan tadi. Yah, apa boleh buat, aku tidak bisa melawan dan hanya bisa tersenyum. Setelah itu mereka memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadaku secara bergantian disertai pelukan hangat. Aku sudah cukup senang dengan hal ini, tapi ternyata masih ada kejutan lain. Nancy mengeluarkan sebuah kotak dari sebuah tas tangan yang di bawanya sejak tadi. Ia mengulurkan kotak seukuran netbook yang terbungkus oleh kertas kado kartun dengan warna dominan pink itu kepadaku. Aku benar-benar terkejut, awalnya aku hanya diam sambil memandang kotak itu. Sesaat kemudian aku menengadahkan wajahku kepadanya.
“Makasih ya Nan...” kataku terharu
“Eeeh.. ambil dulu kadonya baru bilang makasih” katanyanya dengan nada bercanda. Aku meletakkan kado dari Andre yang masih ku peluk ke meja terdekat dari tempatku, kemudian menerima kado Nancy.
“Sama-sama” katanya langsung

***

Mungkin ini saatnya membuka kado. Perlahan tapi pasti aku berjalan menuju meja belajarku dan mengambil kado Andre. Kemudian aku duduk di kursi belajarku. Itu hanya sebuah kotak hitam polos tanpa bungkusan dari kertas kado lucu. Aku hanya perlu menarik tutup atasnya untuk mengetahui apa isi kari kotak tersebut. Aku menarik penutupnya dan aku mendapati diriku tersenyum melihat hadiah dari Andre. Sebuah kotak musik persegi panjang berwarna biru muda dihiasi bunga-bunga pink dengan tema carnaval, karena disana ada semacam bianglala di sebelah kanan dan dan 2 boneka penari yang berdiri di atas kaca di bagian sebelah kirinya. Aku memutar bianglala ke arah kanan sebanyak 3 kali dan mengalunlah sebuah lagu klasik yang umum digunakan untuk lagu pada kotak musik. Hei! Kedua penari itu menari berdua sambil berputar-putar di atas kaca itu. Sungguh hadiah yang manis.
Masih sambil mendengarkan alunan nada harmoni dari kotak musik Andre, aku menggapai hadiah dari Nancy. Aku menggoyang-goyangkan kotak itu sejenak berharap bisa menebak apa isinya. Tapi sayangnya aku gagal. Aku tak tau isinya. Perlahan-lahan aku membuka selotip yang menempel pada kertas pembungkus berusaha agar tidak merusaknya. Tapi aku terlalu tidak sabar hingga akhirnya aku merobeknya. Di dalamnya aku mendapati sebuah kotak karton polos. Lalu aku membukanya, lagi-lagi aku mendapati diriku tersenyum. Kali ini karena sebuah bingkai foto cantik berwarna pink ada di dalamnya. Aku mencoba menegakkannya di atas meja belajarku. Yup! Sangat cocok diletakkan dimejaku. Aku harus memasang sebuah foto, foto yang istimewa di dalam bingkai istimewa.
Benar-benar hari yang sempurna. Perubahan yang kuharapkan terjadi tahun ini benar-benar terjadi, malah sampai melebihi harapanku.  2 kado yang ku terima tahun ini, oh, tidak. 3, 3 kado yang kuterima tahun ini akan selalu menjadi kado teristimewa bagiku. Kado ke-3? Itu adalah kado dari Rachel. Seusai acara penyerahan kado dari Nancy kami pulang., tetapi Rachel menahanku dan kemudian meminta maaf padaku. Dia mengatakan bahwa sebenarnya dia sudah berencana umtuk memberikanku kado, tapi dia kesulitan dalam memilih kado yang tepat. Dan sayangnya dia tidak mendapatkannya sampai saat ini. Oleh karena itu untuk menebus kelalaiannya –katanya- di memaksaku ikut makan bakso dengannya. Aku sudah berusaha untuk mengatakan kepadanya bahwa itu bukan masalah besar jika dia tidak memberikan kado untukku. Tetapi dia tetap memaksa. Jadi aku menyerah. Sekarang kado dari Rachel sudah ada dalam saluran pencernaanku. Hihihi...

***

Sepertinya pelajaran sejarah akan selalu menjadi hal yang paling membosankan di dunia ini. Memang sih, jika tidak ada sejarah belum tentu aku ada disini bersama teman-temanku dan dalam keadaan yang seperti ini. Tapi, kenapa kita harus selalu mengingat dan mengenang masa lalu? Masa lalu adalah hal yang paling jauh yang pernah dimiliki seluruh manusia di muka bumi ini. Bahkan hewan dan tumbuhan mungkin juga memilikinya, sejarah yang membuat kenapa tidak ada Brontosaurus ataupun Tirex lagi di dunia ini. Atau kenapa sekarang ada tumbuhan bougenfil berwarna orange. Sejarahlah yang membuat semua itu nyata. Dan... pelajaran sejarah ini telah mengingatkanku pada satu kejadian yang akan selalu menjadi sejarah terbaik dalam hal percintaanku.
Bel berbunyi tanda jam pelajaran sudah usai. Aku langsung menuju kantin sekolah karena aku membuat janji dengan teman-temanku hari ini. Tidak ada pembicaraan khusus, tapi ini memang kebiasaan kami menghabiskan waktu di kantin sekolah saat jam sekolah usai sampai cahaya matahari mengurangi intensitas panasnya, dan bersiap-siap untuk mengucapkan sampai jumpa pada kota kami dan kemudian digantikan tugasnya oleh bulan. Mungkin aku sedikit terlambat dari yang lain karena aku melihat Cindy, Rachel, dan Stella disana. Aku langsung duduk di sebelah Rachel. Kami baru melakukan obrolan ringan kami tentang tingkah aneh yang dilakukan guru-guru kami tadi kelas ketika Andre datang ke meja kami. Seketika itu juga perhatianku langsung teralihkan. Andre tersenyum, seperti yang kuharapkan.
“Aku boleh pinjam Alice sebentar?”
Rachel mengedikkan sebelah bahunya sebagai jawaban ‘Tidak masalah’. Mendengar jawaban dari rachel aku langsung menoleh kepada Cindy dan stella, apa tidak masalah jika aku meninggalkan mereka. Cindy tersenyum kepadaku yang kuanggap sebagai jawaban ya. Tapi, stella Cuma diam. Aku mengangkat alis kepada Stella sebagai tanda menuntut jawaban.
“Jangan lama-lama ya...” Kata Stella akhirnya. Aku mengangguk sebagai tanda aku berjanji. Lalu aku berdiri dan kemudian berjalan mengikuti Andre yang sudah lebih dulu berjalan di depanku.
“Kenapa?” tanyaku ketika kami sudah duduk .
“Langsung aja nih?”
“Ya” jawabku cepat
“Oke, mulai dari mana ya?” ia tampak berfikir sejenak sebelum melanjutkan. “Kamu tau kan 2 minggu lagi aku bakal mengikuti lomba?”
Aku mengangguk
“Kami butuh kelompok paduan suara untuk itu.”
“Jadi?” tidak mengerti
“Kamu kan kan bisa nyanyi.”
“Hah?Jadi?” tanyaku semakin tidak mengerti. Dari mana dia tau tentang suaraku? Aku bukannya mengatakan aku memiliki suara seindah suara malaikat di bagi dua. Tapi suaraku masih cukup lumayan untuk didengar.
Ia menepuk dahinya. “Kamu mau kan jadi anggota paduan suara untuk lomba 2 minggu lagi? Mereka bilang mereka kekurangan anggota. Jadi aku memberikan saran kepada mereka untuk merekrut kamu sebagai salah satu anggota, dan mereka setuju.
What?!? Apa dia sudah gila? Aku bergabung dengan kelompok paduan suara?
“Err... aku rasa itu bukan ide yang bagus Ndre.” Kataku sedikit ragu
“Kenapa?”
Aku rasa aku tidak berani mengatakan jawabannya.
“Minder?” tanya Andre kemudian, dan Tepat!
Aku mengangguk.
“Kenapa harus minder?”
“Ntah lah, aku rasa aku bukanlah orang yang pantas untuk melakukannya. Kamu tau betul apa maksudku. Mereka dari kalanganmu dalam tanda kutip” kataku sambil menaikkan jari telunjuk dan tengah kedua tanganku, dan membentuk seperti tanda kutip di sebelah pelipisku. “Kurasa mereka tidak mengenalku.”
“Hei Alice, berfikirlah! Kalau mereka tidak mengenalmu, kenapa mereka setuju saat aku mengajukan namamu?”
Otakku berputar cepat memikirkan fakta yang barusan diucapkan oleh Andre.
“Kamu harus mencobanya, Al. Segala sesuatu jika akan terjadi, pasti akan terjadi. Ini semua hanya masalah waktu. Saat ini aku hanya membantu hal itu terjadi lebih cepat. Maafkan aku, tapi, kau harus mencoba untuk bersosialisasi dengan orang lain juga Alice.”
Yang dikatakan Andre tadi benar, sangat benar. Apakah aku harus mencobanya?
“Baiklah” kataku, membuat aku terkejut sendiri atas jawabanku.
“Bagus. Latihannya dimulai lusa pulang sekolah.”, kata Andre Lugas.
“Lusa?”
“iya. Kenapa? Kamu ada janji?”
“Mmm... mungkin bisa aku tunda dulu.” Kataku mengingat bahwa aku punya janji untuk pergi ke sakura bersama teman-teman.

***

“Maaf yaa...” kataku sambil menggamit kedua tanganku didepan dada.
“Hmm, padahal aku mau cerita sesuatu sama kalian semua.”, kata Nancy murung.
“kamu cerita aja sama yang lain, nanti malam aku telepon deh.”, janjiku. Aku berharap mereka tak akan marah. Please God, tolong hamba-Mu ini.
“Oke deh”, kata Nancy masih murung
“Oke kok masih cemberut gitu?”, kataku sedikit menggoda. “Stella Rachel Cindy. Ngga papa kan?”. Mereka mengangguk. Fiiuuh!
“Ngga papa kok Al”, akhirnya Nancy menjawab dengan senyum. “kami langsung cabut ya.”
“Oke”, kataku. Langsung melambaikan tangan. Mereka pun langsung membalas lambaianku.
Well, janji udah di cancel. Sekarang apa? Latihan? Paduan suara?
“Siap latihan kan?”, Suara itu terdengar dekat tepat disebelah telingaku, membuatku sedikit terlonjak.
“Huuh... harus ya bikin kaget gitu?”
“Oh? Kaget yaa? Maaf ya sayaaang...”, katanya sambil mengacak-acak rambutku.
“Iiih... jangaaan...”, gerutuku sambil membenarkan bentuk rambutku.
Langsung Andre menarik tanganku dan menyeretku menuju lapangan. Membawaku langsung ke tengah kerumunan anak-anak paduan suara.
“Ok, jadi ini dia anggota baru kita”, kata Andre di tengah kerumunan dengan suara agak menggelegar, membuatku sedikit malu karena itu berhasil mengambil perhatian sebagian besar anak paski dan paduan suara. Awalnya aku takut jika seandainya mereka akan mencemoohku. Tapi, dugaanku salah. Kakak kelas ku yang bernama Qoy, sekaligus menjabat sebagai Filcommander paduan suara menyalamiku diiringi dengan senyuman.
“Moga-moga kita bisa jadi tim yang baik ya”, kata Qoy
“Semoga saja”, kataku sembari menjabat tangannya.
Latihan langsung dimulai begitu anggota paski juga diminta untuk berkumpul. Andre memberikan senyumnya padaku, seperti mengatakan “Semangat Alice, Pasti bisa kok!”, yaa semacam itulah. Meskipun rasanya letih, tapi aku sangat senang karena bisa puas melihat Andre sampai sore. Pulang pun diantar sampai ke rumah. Padahal sebelumnya aku sudah menolak, aku tau dia pasti sangat capek. Tapi dia memaksa, katanya dia ngga mau kalau harus liat aku pulang sendiri sore-sore gini. Senaaang rasanya...

***

Pagi ini semuanya tetap seperti biasa. Sesudah sarapan langsung berangkat. Tapi saat membuka pintu depan aku langsung dikejutkan oleh kedatangan Andre yang sudah siap duduk di atas motornya di depan pagar rumahku. Aku berlari-lari kecil ke arahnya. Wah! Senyumnya semakin mencerahkan pagiku. Benar-benar pagi yang menyenangkan.
Deru motor mengiringi kepergian kami menuju sekolah. Sebenarnya ini memang  masih terlalu pagi untuk ke sekolah. Tentu saja, biasanya jam segini aku masih nunggu bis di persimpangan. Tau-tau ini anak muncul depan rumah. Ya jelaslah aku nyampe sekolah jadi kaya orang ketagihan belajar gini. Sepi banget. Waktu masuk ke kelasku aja, kosong. Jadilah aku hanya duduk diam di bangkuku yang hari ini mendapat giliran duduk di belakang paling dekat dinding. Letak paling strategis buat tidur.
Dari pada mati karena bosan aku mngeluarkan novel yang selalu kusediakan di dalam tas jika saja mendadak aku merasa bosan. Saat baru membaca 6 halaman, aku mendengar suara langkah kaki dari depan. Berjalan pelan ke arahku tetapi pasti. Bukannya berlebihan tapi awalnya itu memang sedikit menakutkan. Perlahan aku menurunkan buku yang sedari tadi aku baca dalam posisi tepat di depan wajahku dengan kedua siku menumpu di atas meja. Daan... jeng jeeng!!! Rachel muncul tepat di depan wajahku, membuatku sedikit mundur karena kaget, bukannya takut. Yang benar saja, aku tau itu bukanlah bunyi hantu.
“Jadi gimana latihan kemarin? Asik?”, tanya Rachel langsung.
“Masuk apa nggak bisa pake salam apa?”, tanyaku sedikit emosi karena masih agak kaget.
“Pagiii... Gimana?”
Ah! Anak ini memang selalu berhasil membuat orang lain gondok. Tapi, seketika langsung tergantikan oleh senyum karena aku mulai mengingat-ingat hari kemarinku. “Asik kok” kataku singkat, dan aku tau itu belum cukup bagi Rachel. “Awalnya aku nyangka anak-anak itu bakalan sombong dan sinis sama aku. Tapi ternyata enggak kok. Sebenernya syukur bangeet mereka mau nerima aku. Yaah jadinya nggak canggung-canggung amat sih kemarin.”
“ooo gitu yaaa”
“kemarin gimana?”
Rachel mengangkat alisnya, lalu dengan gerakan malas membalik tubuhnya ke depan dan meletakkan tasnya di atas meja. “ Cuma seperti biasa aja kok Al.”
“Katanya Nancy mau cerita sesuatu. Astaga!!!”, aku lupa. Aku berjanji untuk nelpon Nancy. Saking capeknya kemarin, aku langsung tidur waktu baru mendaratkan pantat di kasur. Mmm... nggak juga sih. Nggak mungkin aku tidurnya duduk kan? Tapi, herannya Rachel kok nggak heran waktu aku kaget ya?
“Pasti lupa telpon Nancy kan?”
“Iyaa... aduh gimana doong?”
akhirnya Rachel tersenyum menenangkan. “nggak papa kok.kemarin kami juga nggak jadi cerita kok. Katanya mau kita lengkap semua. Tapi, nanti tetap minta maaf ya sama Nancy.”
“Iya Chel... aduuh! Kok bisa lupa sih!”
“Udah. Antarin aku ke kelas yuk.”
Aku mengangguk, meletakkan novelku, dan berdiri seiring Rachel berjalan.

***
Perlombaan sudah sangat dekat. Kami berlatih setiap hari sepulang sekolah. Dari hari ke hari kami merasa penampilan kami semakin membaik. Kami pun optimis bisa menang melawan paduan suara dari SMA Ranis yang memang selalu menjadi saingan terberat kami. Tapi, sayangnya latihan ini terlalu memakan waktuku. Tak ada waktu yang bisa kulewatkan dengan mereka, para sahabat. Cuma kepercayaan merekalah yang bisa aku andalkan saat ini. Semoga saja mereka tidak menganggap aku melakukan semua ini dengan sengaja.
Hari pertandingan telah tiba. Anggota Paski dan Paduan Suara telah berkumpul di sekolah pukul setengah tujuh pagi dengan seragam dan kelengkapan yang telah ditentukan. Sebelum berangkat ke lokasi perlombaan dengan bus sekolah yang telah disediakan, kami berdoa bersama terlebih dahulu. Perwakilan kami pun mengambil nomor lot di meja panitia dan kami mendapat nomor 2 yang berarti kami merupakan penampilan yang ke dua dalam pertandingan ini. Terlalu cepat tapi baik, karena melihat banyaknya peserta yang mengikuti pertandingan ini, pasti akan sangat jenuh menunggu jika itu merupakan penampilan ke-15 atau ke-16.
Penampilan pertama telah selesai ditampilkan. Kami segera mangambil tempat dan langsung mencoba menyesuaikan diri dengan suasana menegangkan di tengah lapangan.
“Siap gerak!”, suara komandan pun telah terdengar menandakan pertandingan kami pun juga telah dimulai. Anggota paski telah berjalan degan sikap tegas nan mantap. Membuat banyak penonoton terkagum-kagum dibuatnya. Mereka telah tiba di depan tiang bendera dan langsung membuka formasi. Lama kami menunggu sampai akhirnya terdengar hentakan keras pertanda bendera telah dikibarkan yang diikuti oleh tepuk tangan dari penonton. “Bendera Siap!”, menandakan ini saatnya bagi Paduan Suara untuk beraksi.
“Astaga!”, teriakku dalam hati. Suara kami menggema dimana-mana. Jadi inilah rasanya berlomba dengan teman-teman baruku. Menakjubkan. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya selesai kami nyanyikan serentak dengan berhentinya benderaa di puncak tiang bendera dan lagi-lagi dengan tepuk tangan yang mengelilingi kami, mengepung kami dalam kebahagian karena semua berjalan sesuai rencana tanpa hambatan berarti.
Kami membubarkan diri dari barisan masing-masing saat anggota paski melakukan hal yang sama. Kami menghampiri anggota paski dan melakukan sorak-sorakan khas SMA Kanaya. Andre mendekatiku dan kami sama memberikan salam selamat atas kesuksesan masing-masing. Selanjutnya kami memasuki kelas yang telah disediakan untuk kami beristirahat. Bahagia rasanya melihat kekompakan teman-teman yang terjadi di depan mataku. Mereka bercanda bersama, tertawa, dan saling pukul memukul yang membuat tawa kami menjadi lebih keras lagi. Lalu aku berfikir, aku tidak menyesal sama sekali mengikuti kata-kata Andre. Dia memang memikirkan yang terbaik untukku. Aku melihatnya sambil tersenyum ketika ia menoleh ke arahku. Ia langsung berdiri dari tempatnya dan berjalan ke arahku. Begitu ia menempati kursi kosong disebelahku ia bertanya, “Kenapa?”. Aku hanya menggeleng sembari masih memberikan senyuman padanya.
Hari sudah semakin siang dan aku mulai bosan dengan keramaian ini. Teman-teman yang lain sudah berpencar kemana-mana mencari teman lama yang berasal dari SMA lain. Lagi-lagi Andre datang.
“Kelihatan banget bosannya.”, katanya sambil tertawa.
“Iya, Ndree. Dari tadi cuma ngeliatin orang lomba. Yang lain pada pergi.”
“kita jalan-jalan yuk?”
“kemana?”
“yaa keliling sekolah ini aja. Kamu belum tau seluruh wilayah disini kan?”
Aku menggeleng. Ia pun berdiri, jadi aku juga ikut berdiri. Kami berjalan santai menyusuri lorong kelas, menaiki jenjang, dan akhirnya kami sampai di lantai tiga gedung tersebut. Disana sangat sejuk. Angin berhembus lembut membuat rambutku beterbangan ke sisi kanan wajahku. Ia mengajakku lebih mendekati balkon lagi. Disana aku bisa melihat perlombaan yang sedang berlangsung di lapangan. Pertandingan itu jadi terlihat lebih menyenangkan, ntah memang karena pertandingannya atau karena Andre berada disisiku saat ini.
Banyak hal yang kami bicarakan disana, sehingga aku merasa menjadi semakin dekat dengan Andre. Aku bisa mengetahui seluk beluk kehidupannya. Mulai dari kesehariannya, hobinya, musik kesukaannya, orang tuanya, dan saudaranya. Begitu juga denganku, aku juga menceritakan kehidupanku padanya.
Berjam-jam kami berdiri disana dan kami baru tersadar ketika Rico memanggil kami dari bawah.
“Woi! Udahan pacarannya? Kita disuruh ngumpul tuh.”

Aku tertawa karena Andre mengangkat telunjuknya ke depan bibirnya sambil menunjukkan ekspresi ‘Ah... Lo ganggu aja’. Aku memukul bahu Andre dan menariknya sembari berjalan menuju tangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar