Aku terbangun di
pagi hari dan langsung disapa oleh sebuah kotak hitam seukuran setengah kotak
sepatu yang tergeletak di atas meja belajarku. Aku belum menyentuh isi dalam
dari kotak hitam itu semenjak Andre memberikannya kepadaku. Sebenarnya aku
penasaran apa isi dalam dari kotak itu. Tapi karena terlalu lelah karena
terlalu banyak kejadian menarik dari kemarin membuatku langsung tertidur begitu
menyentuhkan kepalaku ke bantal.
Setelah Andre
memberikan ucapan selamatnya untukku kemarin, aku langsung dihujani oleh uluran
tangan selamat ulang tahun dari teman-teman Andre. Itu membuatku sedikit
terkejut karena aku – atau lebih tepatnya mereka- tidak begitu mengenalku. Dan
kurasa mereka hanya memberikan ucapan selamat karena aku pacar Andre. Aku tidak
tau apakah aku harus senang atau sedih dengan fakta yang satu itu.
Setelah berhasil
menyalami semua teman-teman itu, aku langsung menuju ke halaman sekolah tempat
Nancy sedang berdiri. Aku berlari-lari kecil ke tampatnya sambil senyum-senyum
malu karena aku yakin Nancy dan sahabatku yang lain pasti melihat kejadian
tadi. Namun, baru saja aku sampai di depannya ia langsung menggenggam tanganku
dan menyeretku menuju sebuah kelas. Saat itu juga aku melihat Rachel, Cindy dan
Stella yang berdiri agak jauh dari kami bergerak serentak menuju kelas tempat
Nancy dan aku berada. Mereka memasuki kelas itu sambil tertawa-tawa kecil. Ini
membuatku semakin bingung
“Ciee...!!!”
mereka meneriakiku. Oh, sekarang aku tau, ini masih lanjutan dari kejadian di
lapangan tadi. Yah, apa boleh buat, aku tidak bisa melawan dan hanya bisa
tersenyum. Setelah itu mereka memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadaku
secara bergantian disertai pelukan hangat. Aku sudah cukup senang dengan hal
ini, tapi ternyata masih ada kejutan lain. Nancy mengeluarkan sebuah kotak dari
sebuah tas tangan yang di bawanya sejak tadi. Ia mengulurkan kotak seukuran
netbook yang terbungkus oleh kertas kado kartun dengan warna dominan pink itu
kepadaku. Aku benar-benar terkejut, awalnya aku hanya diam sambil memandang
kotak itu. Sesaat kemudian aku menengadahkan wajahku kepadanya.
“Makasih ya
Nan...” kataku terharu
“Eeeh.. ambil
dulu kadonya baru bilang makasih” katanyanya dengan nada bercanda. Aku
meletakkan kado dari Andre yang masih ku peluk ke meja terdekat dari tempatku,
kemudian menerima kado Nancy.
“Sama-sama”
katanya langsung
***
Mungkin ini
saatnya membuka kado. Perlahan tapi pasti aku berjalan menuju meja belajarku
dan mengambil kado Andre. Kemudian aku duduk di kursi belajarku. Itu hanya
sebuah kotak hitam polos tanpa bungkusan dari kertas kado lucu. Aku hanya perlu
menarik tutup atasnya untuk mengetahui apa isi kari kotak tersebut. Aku menarik
penutupnya dan aku mendapati diriku tersenyum melihat hadiah dari Andre. Sebuah
kotak musik persegi panjang berwarna biru muda dihiasi bunga-bunga pink dengan
tema carnaval, karena disana ada semacam bianglala di sebelah kanan dan dan 2 boneka
penari yang berdiri di atas kaca di bagian sebelah kirinya. Aku memutar
bianglala ke arah kanan sebanyak 3 kali dan mengalunlah sebuah lagu klasik yang
umum digunakan untuk lagu pada kotak musik. Hei! Kedua penari itu menari berdua
sambil berputar-putar di atas kaca itu. Sungguh hadiah yang manis.
Masih sambil
mendengarkan alunan nada harmoni dari kotak musik Andre, aku menggapai hadiah
dari Nancy. Aku menggoyang-goyangkan kotak itu sejenak berharap bisa menebak
apa isinya. Tapi sayangnya aku gagal. Aku tak tau isinya. Perlahan-lahan aku
membuka selotip yang menempel pada kertas pembungkus berusaha agar tidak
merusaknya. Tapi aku terlalu tidak sabar hingga akhirnya aku merobeknya. Di
dalamnya aku mendapati sebuah kotak karton polos. Lalu aku membukanya,
lagi-lagi aku mendapati diriku tersenyum. Kali ini karena sebuah bingkai foto
cantik berwarna pink ada di dalamnya. Aku mencoba menegakkannya di atas meja
belajarku. Yup! Sangat cocok diletakkan dimejaku. Aku harus memasang sebuah
foto, foto yang istimewa di dalam bingkai istimewa.
Benar-benar hari
yang sempurna. Perubahan yang kuharapkan terjadi tahun ini benar-benar terjadi,
malah sampai melebihi harapanku. 2 kado
yang ku terima tahun ini, oh, tidak. 3, 3 kado yang kuterima tahun ini akan
selalu menjadi kado teristimewa bagiku. Kado ke-3? Itu adalah kado dari Rachel.
Seusai acara penyerahan kado dari Nancy kami pulang., tetapi Rachel menahanku
dan kemudian meminta maaf padaku. Dia mengatakan bahwa sebenarnya dia sudah
berencana umtuk memberikanku kado, tapi dia kesulitan dalam memilih kado yang
tepat. Dan sayangnya dia tidak mendapatkannya sampai saat ini. Oleh karena itu
untuk menebus kelalaiannya –katanya- di memaksaku ikut makan bakso dengannya.
Aku sudah berusaha untuk mengatakan kepadanya bahwa itu bukan masalah besar
jika dia tidak memberikan kado untukku. Tetapi dia tetap memaksa. Jadi aku
menyerah. Sekarang kado dari Rachel sudah ada dalam saluran pencernaanku.
Hihihi...
***
Sepertinya
pelajaran sejarah akan selalu menjadi hal yang paling membosankan di dunia ini.
Memang sih, jika tidak ada sejarah belum tentu aku ada disini bersama
teman-temanku dan dalam keadaan yang seperti ini. Tapi, kenapa kita harus
selalu mengingat dan mengenang masa lalu? Masa lalu adalah hal yang paling jauh
yang pernah dimiliki seluruh manusia di muka bumi ini. Bahkan hewan dan
tumbuhan mungkin juga memilikinya, sejarah yang membuat kenapa tidak ada
Brontosaurus ataupun Tirex lagi di dunia ini. Atau kenapa sekarang ada tumbuhan
bougenfil berwarna orange. Sejarahlah yang membuat semua itu nyata. Dan...
pelajaran sejarah ini telah mengingatkanku pada satu kejadian yang akan selalu
menjadi sejarah terbaik dalam hal percintaanku.
Bel berbunyi
tanda jam pelajaran sudah usai. Aku langsung menuju kantin sekolah karena aku
membuat janji dengan teman-temanku hari ini. Tidak ada pembicaraan khusus, tapi
ini memang kebiasaan kami menghabiskan waktu di kantin sekolah saat jam sekolah
usai sampai cahaya matahari mengurangi intensitas panasnya, dan bersiap-siap
untuk mengucapkan sampai jumpa pada kota kami dan kemudian digantikan tugasnya
oleh bulan. Mungkin aku sedikit terlambat dari yang lain karena aku melihat
Cindy, Rachel, dan Stella disana. Aku langsung duduk di sebelah Rachel. Kami
baru melakukan obrolan ringan kami tentang tingkah aneh yang dilakukan
guru-guru kami tadi kelas ketika Andre datang ke meja kami. Seketika itu juga
perhatianku langsung teralihkan. Andre tersenyum, seperti yang kuharapkan.
“Aku boleh pinjam
Alice sebentar?”
Rachel
mengedikkan sebelah bahunya sebagai jawaban ‘Tidak masalah’. Mendengar jawaban
dari rachel aku langsung menoleh kepada Cindy dan stella, apa tidak masalah
jika aku meninggalkan mereka. Cindy tersenyum kepadaku yang kuanggap sebagai
jawaban ya. Tapi, stella Cuma diam. Aku mengangkat alis kepada Stella sebagai
tanda menuntut jawaban.
“Jangan lama-lama
ya...” Kata Stella akhirnya. Aku mengangguk sebagai tanda aku berjanji. Lalu
aku berdiri dan kemudian berjalan mengikuti Andre yang sudah lebih dulu
berjalan di depanku.
“Kenapa?” tanyaku
ketika kami sudah duduk .
“Langsung aja
nih?”
“Ya” jawabku
cepat
“Oke, mulai dari
mana ya?” ia tampak berfikir sejenak sebelum melanjutkan. “Kamu tau kan 2
minggu lagi aku bakal mengikuti lomba?”
Aku mengangguk
“Kami butuh
kelompok paduan suara untuk itu.”
“Jadi?” tidak
mengerti
“Kamu kan kan
bisa nyanyi.”
“Hah?Jadi?”
tanyaku semakin tidak mengerti. Dari mana dia tau tentang suaraku? Aku bukannya
mengatakan aku memiliki suara seindah suara malaikat di bagi dua. Tapi suaraku
masih cukup lumayan untuk didengar.
Ia menepuk
dahinya. “Kamu mau kan jadi anggota paduan suara untuk lomba 2 minggu lagi?
Mereka bilang mereka kekurangan anggota. Jadi aku memberikan saran kepada
mereka untuk merekrut kamu sebagai salah satu anggota, dan mereka setuju.
What?!? Apa dia sudah gila? Aku bergabung dengan kelompok paduan suara?
“Err... aku rasa
itu bukan ide yang bagus Ndre.” Kataku sedikit ragu
“Kenapa?”
Aku rasa aku
tidak berani mengatakan jawabannya.
“Minder?” tanya
Andre kemudian, dan Tepat!
Aku mengangguk.
“Kenapa harus
minder?”
“Ntah lah, aku
rasa aku bukanlah orang yang pantas untuk melakukannya. Kamu tau betul apa
maksudku. Mereka dari kalanganmu dalam tanda kutip” kataku sambil menaikkan
jari telunjuk dan tengah kedua tanganku, dan membentuk seperti tanda kutip di
sebelah pelipisku. “Kurasa mereka tidak mengenalku.”
“Hei Alice,
berfikirlah! Kalau mereka tidak mengenalmu, kenapa mereka setuju saat aku
mengajukan namamu?”
Otakku berputar
cepat memikirkan fakta yang barusan diucapkan oleh Andre.
“Kamu harus
mencobanya, Al. Segala sesuatu jika akan terjadi, pasti akan terjadi. Ini semua
hanya masalah waktu. Saat ini aku hanya membantu hal itu terjadi lebih cepat.
Maafkan aku, tapi, kau harus mencoba untuk bersosialisasi dengan orang lain
juga Alice.”
Yang dikatakan
Andre tadi benar, sangat benar. Apakah aku harus mencobanya?
“Baiklah” kataku,
membuat aku terkejut sendiri atas jawabanku.
“Bagus.
Latihannya dimulai lusa pulang sekolah.”, kata Andre Lugas.
“Lusa?”
“iya. Kenapa?
Kamu ada janji?”
“Mmm... mungkin
bisa aku tunda dulu.” Kataku mengingat bahwa aku punya janji untuk pergi ke
sakura bersama teman-teman.
***
“Maaf yaa...”
kataku sambil menggamit kedua tanganku didepan dada.
“Hmm, padahal aku
mau cerita sesuatu sama kalian semua.”, kata Nancy murung.
“kamu cerita aja
sama yang lain, nanti malam aku telepon deh.”, janjiku. Aku berharap mereka tak
akan marah. Please God, tolong hamba-Mu ini.
“Oke deh”, kata
Nancy masih murung
“Oke kok masih
cemberut gitu?”, kataku sedikit menggoda. “Stella Rachel Cindy. Ngga papa
kan?”. Mereka mengangguk. Fiiuuh!
“Ngga papa kok
Al”, akhirnya Nancy menjawab dengan senyum. “kami langsung cabut ya.”
“Oke”, kataku.
Langsung melambaikan tangan. Mereka pun langsung membalas lambaianku.
Well, janji udah
di cancel. Sekarang apa? Latihan? Paduan suara?
“Siap latihan
kan?”, Suara itu terdengar dekat tepat disebelah telingaku, membuatku sedikit
terlonjak.
“Huuh... harus ya
bikin kaget gitu?”
“Oh? Kaget yaa?
Maaf ya sayaaang...”, katanya sambil mengacak-acak rambutku.
“Iiih...
jangaaan...”, gerutuku sambil membenarkan bentuk rambutku.
Langsung Andre
menarik tanganku dan menyeretku menuju lapangan. Membawaku langsung ke tengah
kerumunan anak-anak paduan suara.
“Ok, jadi ini dia
anggota baru kita”, kata Andre di tengah kerumunan dengan suara agak
menggelegar, membuatku sedikit malu karena itu berhasil mengambil perhatian
sebagian besar anak paski dan paduan suara. Awalnya aku takut jika seandainya
mereka akan mencemoohku. Tapi, dugaanku salah. Kakak kelas ku yang bernama Qoy,
sekaligus menjabat sebagai Filcommander paduan suara menyalamiku diiringi
dengan senyuman.
“Moga-moga kita
bisa jadi tim yang baik ya”, kata Qoy
“Semoga saja”,
kataku sembari menjabat tangannya.
Latihan langsung
dimulai begitu anggota paski juga diminta untuk berkumpul. Andre memberikan
senyumnya padaku, seperti mengatakan “Semangat Alice, Pasti bisa kok!”, yaa
semacam itulah. Meskipun rasanya letih, tapi aku sangat senang karena bisa puas
melihat Andre sampai sore. Pulang pun diantar sampai ke rumah. Padahal
sebelumnya aku sudah menolak, aku tau dia pasti sangat capek. Tapi dia memaksa,
katanya dia ngga mau kalau harus liat aku pulang sendiri sore-sore gini.
Senaaang rasanya...
***
Pagi ini semuanya
tetap seperti biasa. Sesudah sarapan langsung berangkat. Tapi saat membuka
pintu depan aku langsung dikejutkan oleh kedatangan Andre yang sudah siap duduk
di atas motornya di depan pagar rumahku. Aku berlari-lari kecil ke arahnya.
Wah! Senyumnya semakin mencerahkan pagiku. Benar-benar pagi yang menyenangkan.
Deru motor
mengiringi kepergian kami menuju sekolah. Sebenarnya ini memang masih terlalu pagi untuk ke sekolah. Tentu
saja, biasanya jam segini aku masih nunggu bis di persimpangan. Tau-tau ini
anak muncul depan rumah. Ya jelaslah aku nyampe sekolah jadi kaya orang
ketagihan belajar gini. Sepi banget. Waktu masuk ke kelasku aja, kosong.
Jadilah aku hanya duduk diam di bangkuku yang hari ini mendapat giliran duduk
di belakang paling dekat dinding. Letak paling strategis buat tidur.
Dari pada mati
karena bosan aku mngeluarkan novel yang selalu kusediakan di dalam tas jika
saja mendadak aku merasa bosan. Saat baru membaca 6 halaman, aku mendengar
suara langkah kaki dari depan. Berjalan pelan ke arahku tetapi pasti. Bukannya
berlebihan tapi awalnya itu memang sedikit menakutkan. Perlahan aku menurunkan
buku yang sedari tadi aku baca dalam posisi tepat di depan wajahku dengan kedua
siku menumpu di atas meja. Daan... jeng jeeng!!! Rachel muncul tepat di depan
wajahku, membuatku sedikit mundur karena kaget, bukannya takut. Yang benar
saja, aku tau itu bukanlah bunyi hantu.
“Jadi gimana
latihan kemarin? Asik?”, tanya Rachel langsung.
“Masuk apa nggak
bisa pake salam apa?”, tanyaku sedikit emosi karena masih agak kaget.
“Pagiii...
Gimana?”
Ah! Anak ini
memang selalu berhasil membuat orang lain gondok. Tapi, seketika langsung
tergantikan oleh senyum karena aku mulai mengingat-ingat hari kemarinku. “Asik
kok” kataku singkat, dan aku tau itu belum cukup bagi Rachel. “Awalnya aku
nyangka anak-anak itu bakalan sombong dan sinis sama aku. Tapi ternyata enggak
kok. Sebenernya syukur bangeet mereka mau nerima aku. Yaah jadinya nggak
canggung-canggung amat sih kemarin.”
“ooo gitu yaaa”
“kemarin gimana?”
Rachel mengangkat
alisnya, lalu dengan gerakan malas membalik tubuhnya ke depan dan meletakkan
tasnya di atas meja. “ Cuma seperti biasa aja kok Al.”
“Katanya Nancy
mau cerita sesuatu. Astaga!!!”, aku lupa. Aku berjanji untuk nelpon Nancy.
Saking capeknya kemarin, aku langsung tidur waktu baru mendaratkan pantat di
kasur. Mmm... nggak juga sih. Nggak mungkin aku tidurnya duduk kan? Tapi,
herannya Rachel kok nggak heran waktu aku kaget ya?
“Pasti lupa
telpon Nancy kan?”
“Iyaa... aduh
gimana doong?”
akhirnya Rachel
tersenyum menenangkan. “nggak papa kok.kemarin kami juga nggak jadi cerita kok.
Katanya mau kita lengkap semua. Tapi, nanti tetap minta maaf ya sama Nancy.”
“Iya Chel...
aduuh! Kok bisa lupa sih!”
“Udah. Antarin
aku ke kelas yuk.”
Aku mengangguk,
meletakkan novelku, dan berdiri seiring Rachel berjalan.
***
Perlombaan sudah
sangat dekat. Kami berlatih setiap hari sepulang sekolah. Dari hari ke hari
kami merasa penampilan kami semakin membaik. Kami pun optimis bisa menang
melawan paduan suara dari SMA Ranis yang memang selalu menjadi saingan terberat
kami. Tapi, sayangnya latihan ini terlalu memakan waktuku. Tak ada waktu yang
bisa kulewatkan dengan mereka, para sahabat. Cuma kepercayaan merekalah yang
bisa aku andalkan saat ini. Semoga saja mereka tidak menganggap aku melakukan
semua ini dengan sengaja.
Hari pertandingan
telah tiba. Anggota Paski dan Paduan Suara telah berkumpul di sekolah pukul
setengah tujuh pagi dengan seragam dan kelengkapan yang telah ditentukan.
Sebelum berangkat ke lokasi perlombaan dengan bus sekolah yang telah
disediakan, kami berdoa bersama terlebih dahulu. Perwakilan kami pun mengambil
nomor lot di meja panitia dan kami mendapat nomor 2 yang berarti kami merupakan
penampilan yang ke dua dalam pertandingan ini. Terlalu cepat tapi baik, karena
melihat banyaknya peserta yang mengikuti pertandingan ini, pasti akan sangat
jenuh menunggu jika itu merupakan penampilan ke-15 atau ke-16.
Penampilan
pertama telah selesai ditampilkan. Kami segera mangambil tempat dan langsung
mencoba menyesuaikan diri dengan suasana menegangkan di tengah lapangan.
“Siap gerak!”,
suara komandan pun telah terdengar menandakan pertandingan kami pun juga telah
dimulai. Anggota paski telah berjalan degan sikap tegas nan mantap. Membuat
banyak penonoton terkagum-kagum dibuatnya. Mereka telah tiba di depan tiang
bendera dan langsung membuka formasi. Lama kami menunggu sampai akhirnya
terdengar hentakan keras pertanda bendera telah dikibarkan yang diikuti oleh
tepuk tangan dari penonton. “Bendera Siap!”, menandakan ini saatnya bagi Paduan
Suara untuk beraksi.
“Astaga!”,
teriakku dalam hati. Suara kami menggema dimana-mana. Jadi inilah rasanya
berlomba dengan teman-teman baruku. Menakjubkan. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya
selesai kami nyanyikan serentak dengan berhentinya benderaa di puncak tiang
bendera dan lagi-lagi dengan tepuk tangan yang mengelilingi kami, mengepung
kami dalam kebahagian karena semua berjalan sesuai rencana tanpa hambatan
berarti.
Kami membubarkan
diri dari barisan masing-masing saat anggota paski melakukan hal yang sama.
Kami menghampiri anggota paski dan melakukan sorak-sorakan khas SMA Kanaya.
Andre mendekatiku dan kami sama memberikan salam selamat atas kesuksesan
masing-masing. Selanjutnya kami memasuki kelas yang telah disediakan untuk kami
beristirahat. Bahagia rasanya melihat kekompakan teman-teman yang terjadi di
depan mataku. Mereka bercanda bersama, tertawa, dan saling pukul memukul yang
membuat tawa kami menjadi lebih keras lagi. Lalu aku berfikir, aku tidak
menyesal sama sekali mengikuti kata-kata Andre. Dia memang memikirkan yang
terbaik untukku. Aku melihatnya sambil tersenyum ketika ia menoleh ke arahku.
Ia langsung berdiri dari tempatnya dan berjalan ke arahku. Begitu ia menempati
kursi kosong disebelahku ia bertanya, “Kenapa?”. Aku hanya menggeleng sembari
masih memberikan senyuman padanya.
Hari sudah
semakin siang dan aku mulai bosan dengan keramaian ini. Teman-teman yang lain
sudah berpencar kemana-mana mencari teman lama yang berasal dari SMA lain.
Lagi-lagi Andre datang.
“Kelihatan banget
bosannya.”, katanya sambil tertawa.
“Iya, Ndree. Dari
tadi cuma ngeliatin orang lomba. Yang lain pada pergi.”
“kita jalan-jalan
yuk?”
“kemana?”
“yaa keliling
sekolah ini aja. Kamu belum tau seluruh wilayah disini kan?”
Aku menggeleng.
Ia pun berdiri, jadi aku juga ikut berdiri. Kami berjalan santai menyusuri
lorong kelas, menaiki jenjang, dan akhirnya kami sampai di lantai tiga gedung
tersebut. Disana sangat sejuk. Angin berhembus lembut membuat rambutku
beterbangan ke sisi kanan wajahku. Ia mengajakku lebih mendekati balkon lagi.
Disana aku bisa melihat perlombaan yang sedang berlangsung di lapangan. Pertandingan
itu jadi terlihat lebih menyenangkan, ntah memang karena pertandingannya atau
karena Andre berada disisiku saat ini.
Banyak hal yang
kami bicarakan disana, sehingga aku merasa menjadi semakin dekat dengan Andre.
Aku bisa mengetahui seluk beluk kehidupannya. Mulai dari kesehariannya,
hobinya, musik kesukaannya, orang tuanya, dan saudaranya. Begitu juga denganku,
aku juga menceritakan kehidupanku padanya.
Berjam-jam kami
berdiri disana dan kami baru tersadar ketika Rico memanggil kami dari bawah.
“Woi! Udahan
pacarannya? Kita disuruh ngumpul tuh.”
Aku tertawa
karena Andre mengangkat telunjuknya ke depan bibirnya sambil menunjukkan
ekspresi ‘Ah... Lo ganggu aja’. Aku memukul bahu Andre dan menariknya sembari
berjalan menuju tangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar